TOKOH-TOKOH PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

Hamzah Fansuri

Ia hidup pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1590. Pengembaraan intelektualnya tidakhanya di Fansur-Aceh, tetapi juga ke India, Persia, Mekkah dan Madinah. Dalam pengembaraan itu ia sempat mempelajari ilmu fiqh, tauhid, tasawuf, dan sastra Arab.

Syaikh Muhammad Yusuf Al-Makasari

Beliau lahir di Moncong Loe, Gowa,Sulawesi Selatan pada tanggal 3 Juli 1626 M/1037 H. Ia memperoleh pengetahuan Islam dari banyak guru, di antaranya yaitu; Sayid Ba Alwi bin AbdullahAl-‘allaham (orang Arab yang menetap di Bontoala), Syaikh Nuruddin Ar-Raniri(Aceh), Muhammad bin Wajih As-Sa’di Al-Yamani (Yaman), Ayub bin Ahmad bin AyubAd-Dimisqi Al-Khalwati (Damaskus), dan lain sebagainya.

Syaikh Abdussamad Al-Palimbani

Ia merupakan salah seorang ulama terkenal yang berasal dari Sumatra Selatan. Ayahnya adalah seorang Sayid dari San’a, Yaman. Ia dikirim ayahnya ke Timur Tengah untuk belajar. Di antara ulama sezaman yang sempat bertemu dengan beliau adalah; Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahab Bugis, Abdurrahman Bugis Al-Batawi dan Daud Al-Tatani.

Syaikh Muhammad bin Umar n-Nawawi Al-Bantani

Beliau lahir di Tanar, Serang,Banten. Sejak kecil ia dan kedua saudaranya, Tamim dan Ahmad, di didik oleh ayahnya dalam bidang agama; ilmu nahwu, fiqh dan tafsir. Selain itu ia juga belajar dari Haji Sabal, ulama terkenal saat itu, dan dari Raden Haji Yusuf di Purwakarta Jawa Barat. Kemudian ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah hajidan menetap disana kurang lebih tiga tahun. Di Mekkah ia belajar Sayid Abmad bin Sayid Abdurrahman An-Nawawi, Sayid Ahmad Dimyati dan Sayid Ahmad Zaini Dahlan. Sedangkan di Madinah ia berguru kepada Syaikh Muhammad Khatib Sambas Al-Hambali. Selain itu ia juga mempunyai guru utama dari Mesir.

Pada tahun 1833 beliau kembali ke Banten. Dengan bekal pengetahuan agamanya ia banyak terlibat proses belajar mengajar dengan para pemuda di wilayahnya yang tertarik denga kepandaiannya, tetapi ternyata beliau tidak betah tinggal di kampung halamannya. Karena itupada tahun 1855 ia berangkat ke Haramain dan menetap disana hingga beliau wafat pada tahun 1897 M/1314 H.

Wali Songo

Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim merupakan sesepuh Walisongo, beliau memilki beberapa nama, antara lain, Maulana Magribi,Syekh Magribi, Sunan Gresik, atau Syekh Ibrahim Asamarkan di  (Sebutan dalam Babad Tanah Jawi). Dikalangan para wali, Maulana Malik merupakan tokoh yang dianggap paling senior atau wali pertama. Beberapa versi menyebutkan bahwa beliau berasal dari Turki, Arab Saudi, dan Gujarat. Belum ada keterangan yang pasti kapan beliau lahir dan dari mana beliau berasal. Meskipun demikian sumber sejarah mengatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim datang ke Nusantara sekitar abad ke-14. Pendapat lain mnyebutkan bahwa beliau datang ke Pulau Jawa pada tahun1399 M dari Arab kemudian tinggal di Perlak dan Pasai, pergi ke Gujarat dan selanjutnya menetap di Gresik. Beliau wafat di Gresik pada hari senin tanggal12 Rabiul awal tahun 822 H, bertepatan dengan tanggal 8 april 1419 M. keterangan mengenai tanggal dan tahun wafatnya berdasarkan Inskripsi pada batunisan makamnya yang berada di Gresik.

Sunan Ampel ( Raden Rahmat )

Sunan Ampel merupakan sesepuh Walisongo pengganti ayahnya Maulana Malik Ibrahim, beliau lahir sekitar tahun1401 M, mengenai tanggal dan bulannya belum ada kepastian sumber sejarah. Nama kecil beliau adalah Raden Rahmat, beliau adalah putra keturunan raja champa. Raden Rahmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Adipati Tuban Wilwatikta Arya Teja. Dari hasil pernikahannya beliau menurunkan dua orang putra dan dua orang putri. Dua orang putra tersebut adalah Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajad (Syarifudin), sedangkan dua orang putrinya adalah Nyai ageng Maloka dan Dewi Sarah (istri Sunan Kalijaga). Raden Rahmat memilki seorang adik Raden santri namanya, dan seorang kemenakan bernama Raden Berereh, mereka bertiga diperintahkan oleh orang tuanya untuk menghadap Raja Majapahit.Mereka berangkat ke Majapahit dan tinggal di sana selama satu tahun.

Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim)

Nama lain Sunan Bonang adalah Raden Makdum atau Maulana makdum Ibrahim, beliau lahir di Bonang, Tuban pada tahun1465 M. Sunan Bonang merupakan putra sulung Sunan Ampel hasil pernikahannya dengan Candrawati alias Nyai Gede Manila. Sejak kecil beliau dididik dilingkungan keluarganya dengan ketat sehingga menjadi Walisongo. Nama kecilnya Maulana Makdum yang diambil dari Bahasa Hindi. Ajaran Sunan Bonang terangkum dalam Kitab yang terkenal yaitu “Suluk Wujil’, mengkisahkan si Wijil yang berguru pada Sunan Bonang.

Sunan Drajad ( Raden Qasim)

Nama lain dari Sunan Drajad adalah Raden Qosim tau Syarifudin beliau hidup pada  zaman Majapahit akhir sekitar tahun 1478 M. Belum ada keterangan sejarah yang pasti mengenai kapandan dimana Sunan drajad dilahirkan. Namun berdasarkan beberapa babad dan referensi sejarah Sunan Drajad merupakan putra dari Sunan Ampel hasil pernikahannya dengan Candrawati alias Ni Gede Manila. Dikisahkan bahwa sejak berusia muda Sunan Drajad telah diperintahkan ayahnya untuk menyebarkan agama Islam di pesisir Gresik. semasa muda beliau dikenal dengan raden Qasim. Sebenarnya masih banyak lagi nama-nama lain dari beliau berdasarkan beberapaNaskah kuno. Diantaranya beliau dikenal dengan nama Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifudin, Pangeran Kadrajat dan Masaikh Munar.

Sunan Giri (Raden Paku)

Nama lain Sunan Giri adalah Raden Paku atau Maulana Ainul Yaqin. Sunan Giri hidup sekitar tahun 1356 – 1428 M, ayahnya bernama Maulana Ishaq yang berasal dari Pasai serta ibunya bernama Sekar dadu , Putri Raja Blambangan. Nama kecil sunan giri adalah Jaka Samudra  masa kecilnya diasuh oleh seorang janda kaya bernama Nyai Gede Pinatih, sebagian sumber menyebutnya Nyai Samboja. Ketika dewasa beliau berguru kepada Sunan Ampel, dan oleh Sunan Ampel beliau diberi gelar Raden Paku. Sunan Giri mengikuti jejak ayahnya Syekh Awwalul Islam atau Maulana Ishaq menjadi seorang mubalig, beliau bersama Sunan Bonang diperintahkan Sunan Ampel pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu tetapi mereka singgah terlebih dahulu kepada Maulana Ishaq untuk berguru padanya di Pasai

Sunan Kalijaga (Raden Sahid)

Sunan Kalijaga adalah salah satu wali yang terkenal dikalangan masyarakat jawa. Beliau ulama yang sakti dan cerdas, nama kecilnya Raden Sahid, merupakan putra dari Tumenggung Wilwatikta, Adipati Tuban yang sudah menganut agam Islam, namanya berubah menjadi RadenSahur. beliau menikah dengan Dewi Nawangrum, dan hasil pernikahannya lahirlah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada 1430-an. Kisah masa muda Sunan kalijaga sungguh sangat krusial, dia adalah seorang buronan dan perampok.Terdapat dua versi mengenai cerita masa muda beliau. Versi pertama mengatakanbahwa Sunan Kalijaga merupakan pencuri dan perampok harta milik kerajaan dan orang-orang kaya yang pelit. hasil dari rampokannya itu, ia bagikan kepada rakyat jelata yang miskin dan terlantar. Versi kedua mengatakan bahwa Raden Sahid merupakan seorang perampok dan pembunuh yang jahat. Mengenai Jalan hidupnya banyak terangkum dalam Naskah-naskah kuno jawa.

Menurut sejarah Raden Sahid diusir oleh keluarganya dari  kerajaan karena katahuan merampok, setelah itu dia berkeliaran dan berkelana tanpa tujuan yang jelas, hingga kemudian menetap dihutan Jatiwangi sebagai seorang yang berandal dan suka merampok

Sunan Kalijaga banyak berperan dalam mendirikan Mesjid Agung Demak selain senagai seorang pendakwah, Sunan Kalijaga terkenal dengan Budayawan. Ajarannya yang terkenal disebut dengan “Narima ing pandum”, yang di uraikan dengan Sikap rela, narima, temen, sabar, dan budiluhur.  Cara dakwah Sunan Kalijaga mengandung perdebatan dikalang parawali, karena Sunan Kalijaga mengakulturasikan adat dengan Syariat Islam sehingga menimbulkan sedikit perbedaan pendapat. Meskipun demikian semua walitetap bersatu. Semuanya menyadari akan kondisi masyarakat  saat itu. Diantara para wali yang satu aliran dengan Sunan Kalijaga dalam berdakwah adalah Sunan Bonang, Sunan Muria, dan Sunan Kudus. Sedangkan cara berdakwah yangsedikit puritan adalah Sunan Ampel dan Sunan Drajad.

Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

Sunan Kudus lahir sekitar abad 15 M bertepatan dengan abad 9 Hijriyah, ayahnya bernama Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan, Blora. Sunan Kudus masih merupakan keturunan dari Sayyidina Husein Bin Ali Bin Abi Thalib. Kakek Sunan Kudus adalah saudara Sunan Ampel. Ayahnya menikah dengan Nyai Syarifah, yang merupakan cucu dari Sunan Ampel. Dari hasil perkawinannya lahirlah Ja’far Shadiq. Berdasarkan hal tersebut kita simpulkan bahwa Sunan Kudus masih mempunyai hubungan pertalian darah dengan Sunan Ampel. Meskipun bergelar kudus,sunan kudus bukahlah berasal dari Kudus, beliau datang dari demak dan bertugas mnyebarkan Agama Islam di sana. Sunan kudus juga memiliki nama lain yaitu Ja’far Shidiq atau Dja Tik Su ( Nama Cinanya).

Sunan kudus merupakan sosok wali yang dihormati dan disegani oleh kawannya, beliau terkenal dengan wali yang paling pemberani. Selain itu, disamping beliau memegang kekuasaan, juga memegang Senapati dari kerajaan Islam Demak, jabatan itu sesuai dengan kepribadaian Beliau yang disiplin, kuat serta gagah berani. Beliau merupakan Senapati yang banyak berkorban dalam mempertahankan Kerajaan Islam Demak. DiKudus beliau mendirikan mesjid yang bernama Menara Kudus. dan nama Sunan Kudus tertera dalam Inskripsi mesjid tersebut. Mesjid itu didirikan pada tahun 956 H bertepatan pada tahun 1549 M,  mesjid tersebut dijadikan sebagai pusat dakwah Sunan Kudus. Dalam mengajarkan agama Islam Sunan Kudus mengikuti jejak Sunan Kalijaga, yaitu menggunakan tut wuri handayani yang berarti Sunan Kudus tidak menggunakan cara-cara yang bersifat keras, melainkan mengarahkan masyarakat sedikit demi sedikit . karena kondisi pada saat itu sebagian besar masyarakat kudus beragama Hindhu- Budha. Cara beliau berdakwah yaitu dengan memasukan syariat dan ajaran Islam kedalam adat kebiasaan masyarakat. Cara simpatik beliau dalam mnyebarkan Islam membuat para penganut agama lain bersedia mendengarkan ceramah agama islam darinya. Kebiasaan unik lainnya yang biasa Sunan Kudus laksanakan dalam berdakwah yaitu acara bedug dandang, yang berupa kegiatan menunggu datangnya bulan suci Ramadhan. kegiatan ini dilaksanakan di mesjid dengan mengundang para jamaah mesjid. Sunan Kudus terkenal juga dengan seribu satu kesaktiannya

Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga, hasil perikahannya dengan Dewi Sarah yang merupakan putraMaulana Ishaq. Nama kecil beliau adalah Raden Umar Said, Raden Said, atau Raden Prawata. Istrinya bernama Dewi Sujinah, kakak kandung Sunan Kudus. Putranya bernama Pangeran Santri. Jalur dakwah beliau meliputi lingkungan Gunung Muria, oleh karena itu beliau dikenal dengan Sunan Muria. Daerah dakwah Lainnya meliputi pelosok Pati, Kudus, Juana, sampai pesisir utara Jawa. Belum adatanggal yang pasti kapan beliau dilahirkan. Keterangan sejarah yang ada hanya berbentuk dongeng dan cerita rakyat yang perlu penelitian. Padepokan SunanMuria terletak di Colo, lereng Gunung Muria, sekitar 800 meter diatas permukaanlaut

Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati merupakan seorang wali yang berasal dari Pasai. Beberapa sumber mengatakan bahwa nama lain Sunan Gunung jati adalah Faletehan atau Fatahilah. Sementara pendapat lain mngatakan bahwa Sunan Gunung Jati berasal dari Persia dan Arab. Sampai sekarang belum ada catatan sejarah yang pasti mengenai kelahiran beliau. Dan berdasarkan beberapa babad dan sumber sejarah beliau mempunyai banyak nama, diantaranya : Muhammad, Nuruddin, Syekh nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyyah, Syekh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah, Makdum jati.

Sejak kecil Sunan Gunung Jati belajar ilmu agama dari orang tuanya di Pasai. Ketika menginjak usia dewasa , wilayah Pasai diduduki oleh bangsa Portugis yang datang dari malaka yang pada saat itu telah jatuh ke tangan portugis. Akibat pendudukan Portugis di Pasai. Banyak penduduk memberontak dan melakukan peperangan. Faletehan mengungsi ketanah suci mekkah dan di sana beliau memperdalam ilmu agama Islam. Disana beliau tinggal kurang lebih 3 tahun. Faletehan datang kembali ke tanah airnya dan pergi ke Pulau Jawa. Kedatangannya di sambut baik oleh Kerajaan Islam Demak yang saat itu mencapai puncaknya berada di bawah pemerintahan Raden Trenggono(1521-1546).  Ketika datang ke pulau Jawa, beliau berdakwah di daerah jawa bagian barat. Berkat dakwahnya , banyak rakyat jawa barat yang memeluk agamaIslam. Raden Trenggono pun menaruh simpati kepadanya sehinnga Falaetehan dinikahkan dengan  adik Raden Trenggono. Dakwahnya terus berlanjut, Raden Trenggono memerintahkan Faletehan untuk memimpin ekspedisi ke Banten dan Sunda Kelapayang masyarakatnya masih beragama Hindu-Budha dan berada di bawah kekuasaan Pajajaran

Artikel ini diambil dari beberapa sumber

TAHAPAN SEJARAH MUHAMMADIYAH MERESPON REALITAS

Sejak kehadirannya Muhammadiyah sudah menjadi solusi umat, walau dalam lingkup yang masih kecil sebatas teritorial residen yogyakarta. KH. Ahmad Dahlan memberikan fondasi yang kuat dalam merubah keterbelakangan menuju kemajuan, merubah eksklusifitas budaya menuju inklusifitas budaya, KH. Ahmad Dahlan memberikan paradigma baru dalam berislam, yang menjadikan islam sebagai pedoman hidup benar-benar diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian yang otentik islam bukan hanya urusan ibadah khusus, tetapi islam mencakup seluruh aktifitas kehidupan manusia, baik aqidah, akhlak, ibadah dan muammalah duniawiyah, baik urusan intra maupun antar agama, domestik maupun global. Inilah yang menjadi pembeda Muhamamdiyah dengan organisasi lain yang sezamannya. Setiap kepemimpinan Muhammadiyah mempunyai karakteristik masing-masing dari awal berdiri hingga sekarang, baik karakter pimpinannya maupun katrakter rezim yang sedang berkuasa. Karakteristik sejarah pemikiran yang lahir dari kepemimpinan periode tertentu di Muhammadiyah memberi sumbangsih pada jati diri Muhamamdiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’rufnahi munkar yang didukung oleh kearifan lokal. Berikut adalah beberapa tahapan sejarah pemikiran Muhammadiyah dalam merespon realitas.

Pertama, tahap peletakan dasar ideologi dan organisasi. Tahap ini dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri muhamamdiyah diantara dengan merubah arah kiblat masjid keraton di kauman, mengembalikan ajaran islamke al Qur’an dan as Sunah dan membersihkan pemahaman keagamaan dari praktik takhayul, bid’ah dan churafat (TBC).

Kedua, tahap konsolidasi organisasi secara nasional. Tahap iniditandai dengan dua hal; konsolidasi organisasi dan konsolidasi program. Konsolidasi organisasi dilakukan ekspansi organisasi yang melibatkan sebanyak mungkin kader-kader muda Muhammadiyah, sedangkan dalam konsolidasi program dikembangkan sistem pendidikan ala Muhammadiyah. Dua tokohMuhammadiyah yang concern dengan konsolidasi organisasi yaitu KH.Ibrahim dan KH. Hisyam. Pada era kepemimpinan KH Ibrahim (1923-1932),Muhammadiyah berkembang dan menyebar luas sampai keseluruh wilayah Indonesiadan KH. Hisyam memimpin Muhamamdiyah 1932-1936, hanya dalam kurun waktu tiga tahun, KH Hisyam memperkokoh peran Muhammadiyah dalam bidang pendidikan Islam modern. Sehingga pada waktu itu sekolah-sekolah Muhammadiyah merupakan sekolah pribumi dengan peringkat kualitas yang dapat menyamai sekolah-sekolah belanda,sekolah-sekolah katolik dan protestan.

Ketiga, tahap penguatan konsep keumatan dan kebangsaan. Pada tahap ini, beberapa figur kepemimpinan Muhammadiyah memiliki sumbangsih nyata dalam perumusan visi kebangsaan dan kenegaraan Republik Indonesia. Dua tokoh Muhammadiyah yang sangat berperan dalam tahap ini yaitu KH. Mas Mansur(1936-1942) dan Ki Bagus Hadikusumo (1942-1953). KH. Mas Mansur bersama Bung Karno, Bung Hatta dan Ki Hajar Dewantara dikenal dengan “empat serangkai” tokoh nasional yang diperhitungkan oleh pemerintah kolonial. Kemudian peran KH. Mas Mansur dilanjutkan oleh Ki Bagus Hadikusumo yang tercatat dalam sejarah nasional maupun sejarah Muhammadiyah memiliki jasa besar dalam merumuskan Muqoddimah UUD 1945 sekaligus merumuskan Muqoddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah(MADM). Posisi Ki Bagus Hadikusumo tersebut didukung sebagai anggota panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI), bersama dengan Prof. Kahar Muzakkir dan Mr Kasman Singodimejo. Dalam hal ini Muqoddimah UUD 1945 sebagai wujud gerakan kebangsaan sementara Muqoddimah Anggaran Dasar Muhamamdiyah (MADM) sebagai wujud gerakan keumatan.

Keempat, tahap konsolidasi ideologi. Pada era perjuangan kemerdekaan sebelumnya Muhamamdiyah sedikit banyak terpengaruh oleh perjuangan kemerdekaan sehingga Buya AR. Sutan Mansur (1953-1959) merasa perlu untuk lebih banyak memfokuskan Muhammadiyah dengan program konsolidasi ideologi dan organisasi. Ditandai dengan dirumuskannya Khittah Palembang pada tahun 1956.

Kelima, tahap pengendalian dan penyelamatan Muhammadiyah. Tahap ini dimulai kepemimpinan KH. Yunus Anis (1959-1962), KH. Ahmad Badawi (1962-1968), KH Faqih Usman (1968) KH. AR. Fakhrudin (1968-1990) dan KH. Ahmad Azhar Basyir (1990-1994). Pada tahap ini Muhammadiyah mengalami dua rezim yang menyulitkan dan menyita energi Muhammadiyah. Pada zaman orde lama presiden Sukarno membuat kebijakan politik dengan Nasakom ( Nasionalis- Agama- Komunis) dan pemerintahan Orde Baru presiden Suharto membuat kebijakan yang tidak sejalan dengan gerakan Muhammadiyah, misalnya monolayalitik dan ketaatan mutlak kepada pemerintah, serta diterapkannya asas tunggal pancasila yang membuat polemik dikalangan Muhammadiyah maupun umat Islam. Oleh karena itu pada tahap ini Muhammadiyah merumuskan beberapa pedoman yang menjadi rambu-rambu dalam gerak berorganisasi. Pada tahun 1968 dirumuskan kepribadian Muhamamdiyah, tahun1971 dirumuskan Khittah Ujung pandang dan pada tahun 1978 dirumuskan Khittah Surabaya. Khusus kaderisas, saat itu ada perkaderan yang muncul di Muhammadiyah yang dikenal dengan perkaderan Darul Arqom.

Keenam, tahap reinventing dan revitalisasi Muhammadiyah. Periode kepemimpinan Prof. Dr. Amien Rais (1994-1998), dicatat sejarah sebagai periode pendobrak kepemimpinan rezim orde baru Presiden Suharto (1966-1998). Dilanjutkan oleh kepemimpinan Prof. Dr. Syafi’I Maarif (1998-2005). Periode berikutnya kepemimpinan Prof. Dr. Din Syamsudin (2005-2015), menindaklanjuti penataan kepemimpinan Muhammadiyah dan konsolidasi organisasi Muhammadiyah yang telah dipancangkan oleh kepemimpinan-kepemimpinan sebelumnya, terutama era reformasi.

Tahap demi tahap yang telah Muhammadiyah lakukan merupakan ikhtiar keumatan dan kebangsaan yang terpatri sejak awal berdiri tahun 1912 oleh KH.Ahmad Dahlan hingga saat ini. Tujuan terwujudnya masyarakat utama yang terdistribusi kedalam keumatan dan kebangsaan merupakan misi Muhammadiyah dalam mencapai baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Sumber : Muhammadiyah sebagai Mainstream Civil Society karya Sudibyo Markus

MERAWAT DAYA SURVIVAL MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah mampu melewati 1 abad pertama dan sekarang sedang melangkah di abad kedua. Eksistensi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar semakin diperhitungkan, peranan Muhammadiyah makin dirasakan oleh umat. Kehadiran Muhammadiyah selalu memberikan solusi untuk permasalahan keumatan dan kebangsaan. Reorientasi organisasi dan program selalu terintegrasi dengan zaman, dengan dasar berpijak nilai-nilai historis-nya. Inilah yang menjadikan Muhammadiyah menjadi organisasi yang mempunyai otentisitas identitas.

Untuk merawat daya survival Muhammadiyah ini, menurut Sudibyo Markus adasejumlah alasan yang melatar belakanginya, diantara alasan-alasan tersebut adalah:  Pertama, Etos kerja tanpa pamrih. Berharap hanya ridho Allah SWT yang telah ditanamkan oleh KH.Ahmad Dahlan sebagai kekuatan utama yang melandasi gerak maju antar generasi di Muhammadiyah. Pesan abadi KH. Ahmad Dahlan, “Hidup hidupilah Muhammadiyah, dan jangan hidup dari Muhammadiyah” .

Kedua, Etika organisasi. Etika berorganisasi dalamMuhammadiyah sangat dijunjung tinggi. Proses pemilihan pimpinan persyarikatan yang berjenjang dilakukan secara demokratis serta dalam iklim fastabiqul khairat, proses tersebut telah menjadi lingkungan pendukung yang kondusif bagi perkembangan dinamika organisasi dan kepemimpinan dalam Muhamamdiyah. Dari serangkaian pedoman kehidupan berorganisasi, sejak MADM, Khittah perjuangan, Kepribadian Muhammadiyah, MKCHM sampai PHIWM, telah mampu mengantar persyarikatan dalam membangun kematangan budaya organisasi. Pada kelanjutannya, budaya organisasi tersebut terpatri sebagai kearifan organisasi.

Ketiga, semangat gerakan. Salah satu ukuran keberhasilan terutama ditingkat cabang dan ranting adalah telah adanya gerakan nyata atau amal usaha yang nyata. Dalam proses lajunya organisasi gerakan itu bisa berwujud berdirinya lembaga-lembaga yang dekat dengan masyarakat, misal pendidikan, kesehatan dan sosial. Paling tidak gerakan pengajian untuk anggota dan umat menjadi program wajib yang selanjutnya sebagai ciri khusus organisasi, misal pengajian ahad pagi, pengajian malam jumat, pengajian jamaah dsb.

Keempat, Gerakan multivarian. Kegiatan Muhammadiyah bersifat multivarian, yaitu bidang dakwah, tarbiyah, kesehatan dan kesejahteraan sosial. Secara struktural, disetiap jenjang kepemimpinan persyarikatan, kegiatan yang multivarian tersebut menjadi tanggung jawab masing-masing majelis dan lembaga yang dibentuk Muhammadiyah pada saat Muktamar.

Kelima, gerakan mobilitas dan kewirausahaan. Menurut data yang tersaji pada tahun 1916-1923, anggota Muhammadiyah terbesar justru dari kalangan kaum saudagar atau wiraswasta. Boleh dikata bahwa menyebarnya Muhammadiyah ke wilayah-wilayah nusantara justru banyak terjadi melalui interaksi kaum pedagang. [1]

Keenam, Kemampuan berinovasi. Daya survival dan semangat ber-fastabiqul khairat yang menjadi tekad abadi gerakan ini, telah berhasil mendorong organisasi kaum modernis ini mampu untuk terus menerus melakukan inovasi dalam membuat format gerakan.Ketujuh, Fleksibilitas dan kemapuan beradaptasi. Kemampuan bersifat lentur dan adaptatif bisadilihat dari strategi dan taktik yang lahir dari gaya kepemimpinan yang berbeda-beda dari periode keperiode dalam menghadapi situasi keagamaan, sosial kemasyarakata, politik dan ekonomi. Muhammadiyah telah mampu melewati lima generasi rezim, dari kolonial belanda, kolonial jepang, orde lama, orde baru dan era reformasi. Tentunya masing-masing generasi rezim tersebut mempunyai corak yang berbeda-beda, begitupun pucuk pimpinan Muhammadiyah juga dalam menghadapi masing-masing situasi dan kondisi tersebut dengan banyak varian juga.


[1] Profil Muhammadiyah 1 abad, Muhammadiyah sebagai manifestasi gerakan kelas menengah enterpreneur, Lembaga pustaka dan informasi Pimpinan Pusat Muhamamdiyah, Yogyakarta, juni 2010, hal. 10

CITA-CITA POLITIK MUHAMMADIYAH

Cita-cita politik Muhammadiyah-pun kita akui bersama: “berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhoi Allah SWT” (Matan Keyakinan & Cita-Cita HidupMuhammadiyah). Negara yang adil, makmur, dan diridhoi Allah memerlukan kontribusi berbagai bidang, tak terkecuali politik. Politik adalah salah satu jalan untuk mewujudkan masyarakat itu, agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Muqaddimah Anggaran Dasar telah menyatakan bahwa, “Masyarakat yang sejahtera, aman damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong royong, bertolong-tolongan dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya.”Oleh sebab itu, karakter politik yang dibawa oleh warga Muhammadiyah juga mesti menampilkan keadilan, kejujuran, persaudaraan, dan gotong-royong. Ini adalah cita-cita mulia politik Muhammadiyah.

Dengan demikian, kita bisa membaca ‘nafas’ politik yang ingin ditampilkan Muhammadiyah dan dihembuskan melalui warga-warganya yang terjun dalam dunia politik: mengambil sikap politik yang jelas, berkepribadian dan bermoral dakwah amar ma’ruf nahi munkar, berdasar pada ideologi gerakan, bervisi tajdid, punya misi Al-Ma’un, dan mencita-citakan masyarakat utama.

MISI POLITIK MUHAMMADIYAH

Teologi Al-Ma’un merupakan pengejawantahan KH Ahmad Dahlan atas surah Al-Ma’un. Ketika beliau mengajarkan surah Al-Ma’un kepada murid-muridnya, beliau tidak hanya mengajarkan tafsir dan tarjamahnya, tetapi juga bagaimana melaksanakannya secara nyata.

Kini, Teologi Al-Ma’un juga perlu dimaknai dalam kerangka struktural, sebab penindasan itu juga bersifat struktural. Politik Al-Ma’un adalah politik pemihakan, perlawanan, dan pemberdayaan. Pemihakan bagi mereka yang tertindas oleh struktur kapitalisme yang menjangkar di Indonesia, perlawanan terhadap koruptor dan penindas rakyat kecil, serta pemberdayaan bagi dhu’afa dan mustadh’afin.

Upaya-upaya pembelaan perlu digalakkan melalui politik advokasi dan kebijakan yang berpihak pada rakyat.Teologi Al-Ma’un berarti advokasi; pembelaan atas hak-hak masyarakat yang terlupakan oleh negara.  Dan sebab itu, perbaikan terhadap paradigma pengambilan kebijakan menjadi penting dipadukan dengan kerangka Al-Ma’un. Partai politik yang tidak berpihak pada kaum miskin, yang memonopoli proyek anggaran untuk kepentingan golongan sendiri, yang bertindak kontra produktif dengan iklim pemberantasan korupsi, yang justru melakukan korupsi di tengah kesusahan bangsa, harus diingatkan dengan Surah Al-Ma’un ini: untuk tidak menjadi para pendusta agama.

Kita hidup di tengah hegemoni partai-partai, yang bahkan sudah menjamah media-media massa sebagai juru bicaranya. Partai-partai yang hidup dari percaloan anggaran, cenderung menjadikan parlemen dan kementerian sebagai bancakan proyek. Kepada mereka,perlu kita ingatkan dengan Surah Al-Ma’un: jangan lupakan orang-orang fakir dan miskin agar tidak jadi pendusta agama. Partai politik yang terlampau banyak makan dari anggaran rakyat, harus diingatkan dengan Surah Al-Ma’un agar berhati-hati, jangan menjadi pendusta agama! Al-Ma’un menjadi misi politik utama Muhammadiyah, sehingga mereka yang miskin dan tertindas bisa terangkat nasibnya. Dan dengan demikian, Muhammadiyah bisa memuluskan jalan untuk merengkuh cita-cita politiknya: menjadi masyarakat utama.

VISI POLITIK MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah telah menyatakan diri sebagai gerakan tajdid. Secara letterlijk, tajdid berarti pembaharuan. Kepribadian Muhammadiyah menyebut tajdid sebagaimengembalikan pada ajaran Islam yang asli dan murni; sementara penggunaan kata lain tertera sebagai penggunaan akal dalam menjawab tantangan zaman, seperti dalam prinsip-prinsip Majlis Tarjih poin 14 disebutkan “Dalam hal-hal termasuk Al-Umurud Dunyawiyah yang tidak termasuk tugas para nabi,menggunakan akal sangat diperlukan, demi untuk tercapainya kemaslahatan umat.”

Ketika tajdid menjadi visi Muhammadiyah, maka  politisi yang lahir dari rahim Muhammadiyah hendaknya juga bervisi demikian. Orientasi berpolitik Muhammadiyah adalah tajdid, yang berbasis pada kemajuan umat, untuk menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.Belakangan konsepsi masyarakat yang diidealkan Muhammadiyah itu disebut sebagai‘Masyarakat Utama’. Politik memainkan posisi penting untuk memastikan kekuasaan pada track  keumatan, agar pemerintahan dapat benar-benar membuka jalan bagi terwujudnya baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Strategi tajdid ini yang pentinguntuk dirumuskan. KH Ahmad Dahlan telah memberikan dasar bagi tajdid, yaitu melalui pengetahuan. Dalam salah satu wasiatnya Kyai Dahlan telah berpetuah,““Hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke manasaja.” Tajdid sebagai oreientasi politik berarti membangun pengetahuan sebagai landasan pengambilan kebijakan publik, terutama di era di mana arus informasi beredar kian cepatnya. Dan basis pengetahuan ini perlu diletakkan pada tujuannya yang mulia: memberdayakan serta membebaskan kaum miskin dari ketertindasan.

MORAL POLITIK MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah merupakan Gerakan Islam. Maksud geraknya ialah Dakwah Islam dan amar ma’ruf nahimunkar yang ditujukan kepada dua bidang : perseorangan dan masyarakat.Dalam konteks ini, politik berarti ialah dakwah amar ma;ruf dan nahimunkarKebutuhan politisi adalah mendefinisikan yang ma’ruf dan munkar dalam konteks politikMoral politik Muhammadiyah adalah dakwah amar ma’ruf dan nahimunkar.

Apa parameter ma’ruf dan munkar tersebut? Kepribadian Muhammadiyah sudah merumuskan: “Berpegang teguh akan ajaran Allah dan Rasulnya, bergerak membangun di segenap bidang dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridlai Allah SWT”. Konsep ini menunjukkan bahwa Muhamamdiyah menggunakan Islam sebagai dasar perjuangan politik, tetapi dilakukan dengan berorientasi pada pembangunan dan kemajuan masyarakat, demi masyarakat utama sebagai cita-cita politiknya. Islam yang dipahami Muhammadiyah tidak kaku, melainkan berkemajuan. Pada titik inilah logika politik diletakkan.

Amar ma’ruf didefinisikan mengacupada Al-Qur’an, Sunnah, dan pendapat yang mu’tabar (terpercaya), sertadilakukan sesuai dengan keadaan masyarakat. Begitu juga dengan nahi munkar. Politik Muhammadiyah adalah politik keumatan. Maka dari itu, politisi Muhammadiyah seyogianya adalah politisi yang bergerak bersama umat dan memperjuangkan hak umat. Hal ini yang mendasari perjuangan politik Muhammadiyah abad ke-21.