SEJARAH SIYASAH ISLAMIYAH

Hal menarik pasca wafatnya Rasulullah muncul berbagai macam intrik diantara kaum muslimin. Mulai dari pemahaman fiqih sampai politik / kepemimpinan menarik untuk dipersoalkan. Mereka kaum muslimin sudah ada 
benih terkotak-kotak karena perbedaan, memang itu wajar sepeninggal Rasulullah. Perkembangan awal yang menjadi titik perselisihan adalah munculnya sekte karena beda pandangan kepemimpinan.

Kepemimpinan usman bin affan awal dari sebuah
intrik politik yang cukup tragis. Kepemimpinan yang dianggap nepotisme oleh sebagian kecil umat islam mampu membuat 
kegaduhan politik dan menganggu ukhuwah. Terjadi pertumpahan darah dan akhirnya terbunuhnya khalifah usman bin affan oleh orang munafik yang mengklaim pengikut ali bin abi thalib.Sungguh menyakitkan generasi sekarang harus mengulang sejarah masa  lalu itu. 
Setelah khalifah usman bin affan wafat kekhalifahan dilanjutkan oleh Ali bin abi thalib, 
kalau dalam sejarah sebagai khalifah ke empat dan terakhir dari khulafaurrasyidin. 
Dalam kepemimpinan khalifah Ali bin abi thalib terjadi pertumpahan darah, umat islam yang mengklaim keturunan usman bin affan melakukan balas dendam, yang di pimpin oleh muawiyah. 
Akhirnya terjadilah peristiwa perang siffin, perang dimana melibatkan ali dan pengikutnya berhadapan dengan muawiyah dan pengikutnya. Dalam prosesnya muawiyah dan pengikutnya meminta kepada Ali dan pengikutnya untuk melakukan tahkim / perjanjian di daumatul janda, padahal waktu itu muawiyah dan pengikutnya hampir kalah. Ini titik poin untuk muawiyah, apakah ini strategi muawiyah ? Tentunya hal itu tergantung persepsi kita masing-masing. Ali bin abi thalib pun menyetujui permintaan muawiyah, kemudian Ali mengutus abu musa al asy’ary. Seorang yang sudah tua dan kurang tegas, bahkan ada indikasi kalo abu musa tidak setia kepadaAli bin abi thalib. Pihak muawiyah meminta kepada abu musa, bahwa Ali bin abi thalib harus menanggalkan kekhalifahannya, proses perjanjian itupun berlangsung, abu musa al asy’ary menyampaikan sikapnya terlebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan dari 
pihak muawiyah. 
Ketika abu musa menyampaikan kepada khalayak umat islam bahwa Ali bin abi thalib sudah menanggalkan kekhalifahannya selama proses tahkim berlangsung, kemudian tanpa di sangka pihak muawiyah membaiat muawiyah sebagai khalifah. Licikkah muawiyah? 
Kita gunakan persepsi kita untuk menjawab.

Setelah Ali bin abi thalib mengalami kekalahan keadaan mulai kacau, terutama di barisan ali. 
Dan yang paling menyedihkan adalah keluarnya kelompok yang mengatasnamakan kaum khawarij dari barisan ali. 
Khawarij adalah kelompok yang tidak mendukung Ali bin abi thalib maupun muawiyah, mereka berdiri sendiri. Dari pemaparan diatas bisa disimpulkan 
bahwa setelah khulafaurrasyidin ada tiga kelompok atau sekte atau firqoh. 1. Kelompok pendukung muawiyah dan pemerintahannya, 
2. Kelompok syiah yang mengklaim sebagai pengikut dan cinta Ali bin abi thalib serta ahlul bait. 3. Kaum khawarij yang berdiri sendiri, bukan pendukung Ali bin abi thalib maupun muawiyah.

Bersambung

TERASINGNYA KEMUHAMMADIYAHAN DI SEKOLAH MUHAMMADIYAH

KEMUHAMMADIYAHAN adalah mata pelajaran yang harus ada dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Karena materi KEMUHAMMADIYAHAN merupakan ruh berdirinya lembaga pendidikan Muhammadiyah.  Bahkan amal usaha Muhammadiyah sebagai instrumen penting dalam menyiarkan paham Muhammadiyah kepada masyarakat harus tetap menjadi tujuan akhir dari sebuah proses.

Memasuki era kekinian pergeseran cara pandang mulai muncul.  Ada yang menganggap remeh materi KEMUHAMMADIYAHAN sehingga seakan-akan materi kelas bawah tanpa arti, Sehingga berdampak pada stigma materi pelengkap dalam sebuah kumpulan mata pelajaran. Stigma itu juga berimbas pada pengampu yang asal-asalan, karena seakan-akan mata pelajaran KEMUHAMMADIYAHAN menjadi pelengkap syarat minimal jumlah jam pengampu dalam satu minggu.

Kompetensi guru menjadi masalah berikutnya, dengan prinsip yang tidak mengakar dan kurang menjiwai materi akhirnya tujuan dari lembaga atau AUM sebagai instrumen dakwah tidak tercapai.  Apalagi ditambah struktur pimpinan yang masa bodo terhadap fenomena itu. Fenomena dimana materi KEMUHAMMADIYAHAN TERASING DIRUMAH SENDIRI.

PERLUKAH FILSAFAT MASUK KURIKULUM SEKOLAH ?

Kurikulum adalah alat untuk menuju terciptanya masyarakat cerdas, sesuai dengan amanah undang-undang dasar 1945. Perubahannya dari periode ke periode belum mampu menciptakan keadaan lebih baik. Dari kurikulum 94 dengan model CBSA, kemudian diganti dengan sistem KBK (kurikulum berbasis kompetensi), terus pada tahun 2006 berubah menjadi KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan), dan yang terakhir Kurikulum 2013 atau yang singkat (K-13 ) belum memberikan hasil yang membanggakan. Kalau kita lihat sistem yang ada saat ini hanya pada tataran konsep administrasi yang detail dan kurang substantial, dan persepsi pembelajaran dinilai akan berhasil atau tidak tergantung perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru, Sehingga pendidik fokus membuat perangkat dengan maksimal karena tuntutan, akhirnya mengabaikan peningkatan kompetensi pendidik itu sendiri.

Mata pelajaran baru mungkin perlu dimasukkan,  filsafat sebagai cara berfikir yang sistematis, radikal dan universal  sangat rekomended untuk masuk kekurikulum sekolah menengah. Filsafat sebagai induk dari pengetahuan memberikan masukan baru sebagai esensi pendidikan. Penanaman pola pikir yang terstruktur dan menyeluruh diharapkan menjadi solusi permasalahan bangsa saat ini.

Pendidikan saat ini tidak memberikan solusi konkret, pendidikan kini hanya transfer  of knowledge,  belum sampai pada transfer of value. Rujukan guru hanya buku pegangan disekolah, yang terbatas secara materi. Sudah saatnya kini pendidik mempunyai semangat belajar dengan rajin membaca literatur – literatur yang menjadi pelengkap materi inti sesuai kurikulum.

Dengan dimasukkan nya filsafat sebagai materi pembelajaran,  mampu membentuk cara pandang generasi bangsa yang akan menjadi penerus generasi yang sudah menua. Cara pandang universal, sampai keakar – akarnya dan terstruktur,  tidak sedikitpun mempunyai cara pandang parsial menjadi harapan baru untuk melanggengkan ke bhinekaan kita.

 

PERGUMULAN PEMIKIRAN KADER MUHAMMADIYAH

Seabad lalu kemanusiaan merupakan salah satu prinsip pemikiran penting dari Kyai Ahmad Dahlan. Sayang, generasi penerus Muhammadiyah seperti telah melupakan etika welas asih yang universal dan kontekstual dengan kondisi masyarakat Indonesia.

Bahkan, gagasan kemanusiaan dan kebangsaan kyai Ahmad Dahlan pernah dikhianati oleh sebagian generasi penerus yang mengaku sebagai pewaris Muhammadiyah. Mereka terjebak pada pengecilan makna gerakan perubahan yang dimotori kyai Ahmad Dahlan menjadi hanya sekedar penumpasan TBC. Mereka pun terjebak pada pengulangan atau sekedar mencontoh apa yang sudah pernah dilakukan kyai Ahmad Dahlan.

Ketika masih murni sebagai organisasi yang didasarkan atas etika welas asih, Muhammadiyah memiliki sikap yang terbuka pada modernisasi. Muhammadiyah juga menunjukkan dengan nyata kepedulian pada kaum miskin. Karenanya, meski berbasis agama, gerakan Muhammadiyah mengundang simpati banyak kalangan dari latar belakang sosio budaya.

Namun kini, mengapa gerakan reformasi kemanusiaan kyai Ahmad Dahlan, yang bersumber pada ayat – ayat al Quran dan sunah rasul, belakangan terkesan lebih terbatas pada sekedar kegiatan mencari penempatan atau posisi politik.

Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan islam dengan cara kreatif, kritikal, tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan. Pergumulan pemikiran kader Muhammadiyah saat ini saling berebut pengaruh di tubuh gerakan ini. Setidaknya ada dua pandangan besar, pertama, kaum konservatif yang dengan keras menolak ide dan pemikiran yang datang dari barat. Kaum konservatif yang dengan keras menolak ide dan pemikiran barat. Kedua, kaum liberal yang memandang perlu terus dilakukan penafsiran terhadap kitab suci dan sunah nabi karena penafsiran serupa juga dilakukan kyai Dahlan. Penafsiran itu menjadi landasan gerak Muhammadiyah pada masa awal perkembangannya sebagai embrio hampir semua bentuk kegiatan gerakan.

Dari semua pemikiran yang ada di Muhammadiyah boleh-boleh saja, yang terpenting setiap pemikiran itu tidak meninggalkan gagasan besar awal didirikannya Muhammadiyah yang didasari dari Qs. Surah al maun ayat 1-7. #jangan_menduakan_muhammadiyah_dengan_yang_lain

PROFIL CABANG MUHAMMADIYAH BLIMBING

Nama Organisasi: Cabang Muhammadiyah Blimbing
Tanggal Berdiri: 16 November 1953
Dasar pendirian : Surat Ketetapan Pengurus Besar Muhammadiyah Pusat No. 1046 / B yang diketuai KH. AR Sutan Mansur
Ketua PCM pertama: Bp. KH. Ahmad Zaini
Alamat: JL. KH A. DAHLAN NO. 54 WONOREJO POLOKARTO SUKOHARJO 57555 TELP. 0271- 610421
Jaringan Ranting :29 Ranting dari 17 Kelurahan yang ada di Kec.Polokarto

Majelis-Majelis :

Majelis Dikdasmen
Majelis PKU
Majelis Tarjih
Majelis Tabligh
Majelis Kader,Pemberdayaan Ranting dan Jamaah
Majelis Wakaf
Majelis Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat
Organisasi otonom/Ortom : Aisyiyah, IMM, IPM, NA, Pemuda Muhammadiyah,
Tapak Suci, HW

SEJARAH BERDIRINYA CABANG MUHAMMADIYAH BLIMBING

Desa Wonorejo diawali oleh seorang Kyai Imam Syuhodo atau yang lebih dikenal dengan julukan Kyai Apil Qur’an ( istilah nama ini diberikan oleh PB ke IV karena Kyai Imam Syuhodo seorang Kyai yang hafal Al Qur’an ) yang mendirikan masjid dan pesantren sekitar abad ke 17. Keberadaan masjid dan pesantren tersebut membuat keturunan dan masyarakat Wonorejo mengenal agama islam dari sejak lahir, sehingga tidak heran muncul tokoh-tokoh muda islam yang pandai dan cerdas, seperti: Bp. H.Aspani, Bp. H. Ma’nan, Bp. H. Muslich, Bp.Djalal Sayuti, Bp. Wiryo Utomo, Bp. Muh. Adnan, Bp. H. Abdul Syakur, Bp. KH. Ahmad Zaini, Bp.H. Mukmin, Bp. Mushudi,Bp. Syafi’i, Bp. Muh. Thohir, Bp. Ahmadi, Bp. Cipto Atmojo, Bp. Muh. Ihsan, Bp. Al Amin, Bp. Ngabdani, Bp. Atmo Darsono, Bp. Muh Syamsuri, Bp. Cokro Sewoyo, Bp. Gito dll.Jadi tidaklah mustahil pula apabila desa Wonorejo disebut juga sebagai pencetak tokoh-tokoh agama islam. Continue reading PROFIL CABANG MUHAMMADIYAH BLIMBING

LEGALITAS MUHAMMADIYAH PERSPEKTIF HUKUM

Surat edaran menteri dalam negeri nomor 900/4627/sj tentang penajaman ketentuan pasal 298 ayat (5) undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah, cukup membuat ormas-ormas berpikir ulang tentang legalitasnya termasuk Muhammadiyah. Sebenarnya surat edaran tersebut mempunyai titik fokus pada pemberian dana hibah baik dari APBN maupun APBD, untuk badan dan lembaga yang berbadan hukum Indonesia. Badan dan lembaga yang berbadan hukum Indonesia adalah (1) badan dan lembaga yang bersifat nirlaba, sukarela dan sosial yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan. (2) badan dan lembaga yang bersifat nirlaba dan sosial yang sudah memiliki surat keterangan terdaftar (SKT)  yang diterbitkan oleh menteri dalam negeri, gubernur, atau bupati /walikota. (3) organisasi yang berbadan hukum dari kementerian hukum dan ham sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. 

Kriteria berbadan hukum seperti yang sudah diuraikan sebelumnya mengharuskannya setiap organisasi kemasyarakatan memiliki SKT dan keterangan berbadan hukum dari menkumham.

Legalitas kenegaraan Muhammadiyah sebagai badan hukum berdasarkan SK gubernur jenderal hindia Belanda : 22 agustus 1914,16 agustus 1920 dan 2 september 1921. Sebelum negara ini berdiri Muhammadiyah sudah berbadan hukum. Apakah pemerintah lupakan hal itu?

Kontribusi Muhammadiyah untuk bangsa ini sudah tidak terhitung jumlahnya, dari sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemikiran yang diberikan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti jenderal besar sudirman, ki bagus hadikusumo, kasman singodimejo, hamka untuk bangsa Indonesia.

Apakah Muhammadiyah harus mendaftar ulang untuk legalitasnya? Sedangkan Muhammadiyah sudah legal sejak zaman kolonial. Butuh kelapangan Pikir dari pemerintah. Ini masalah psikis yang harus diperhatikan.

Sebenarnya Muhammadiyah tidak terlalu respon masalah badan hukum itu,  yang direspon Muhammadiyah adalah banyaknya kasus amal usaha Muhammadiyah yang bingung, terkait dengan bantuan dana hibah untuk lembaga atau badan yang sudah ada. Sehingga banyak amal usaha Muhammadiyah yang membuat ulang akta notaris yang pendiriannya dilakukan oleh individu pengelola amal usaha tersebut. Ini berbahaya buat keberlanjutan amal usaha tersebut. Karena amal usaha tidak boleh  atas nama pribadi. Amal usaha Muhammadiyah ya milik Muhammadiyah, yang legalitasnya menjadi tanggung jawab Muhammadiyah. Kejadian mendaftar ulang kalau hanya untuk persoalan dana hibah tidak masalah tetapi dikhawatirkan kejadian itu sampai pada hilangnya hak Muhammadiyah untuk mengatur amal usahanya.

Inilah yang membuat Muhammadiyah cukup khawatir kalau pemerintah tidak merubah esensi dari peraturan yang menurut saya merugikan beberapa ormas termasuk Muhammadiyah.

pantang pulang sebelum menang

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.477 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: