FASE – FASE GERAKAN MUHAMMADIYAH

Oleh : Rudyspramz

Sekretaris MPK PDM Wonosobo

1. Fase I : Gerakan Pembaruan Kemanusian dan Sosial era KH Ahmad Dahlan 1912 – 1923 mewujudkan praksisme ajaran Islam, terinspirasi kegiatan sosial kaum nasrani, pendidikan model sekolah yg dimiliki Hindia Belanda, kegiatan baris berbaris di Mangkunegaraan dan interaksi dengan Budi Utomo organisasi kaum priyayi dan terpelajar pada saat itu, yang pada akhirnya beliau mendirikan Muhammadiyah dengan kegiatan utama pemberantasany kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan : Rumah Miskin, Rumah Yatim, Rumah Jompo Sekolahan, PKO, Sekolah Calon Guru, Kepanduan Hizbul Wathon dan menyebarkan spiritualisme Islam ( hati suci, pikiran suci, welas asih, khouf, roja’, pengorbanan harta benda, sikap terbuka, ketakutan pengadilan akhir dan berharap keselamatan akhirat)

2. Fase II : Gerakan Puritan (Syariah) era KH Mas Mansyur 1924 – 1942 dan terus berlanjut sampai 1995, dengan dibentuknya Majelis Tarjih untuk menjawab persoalan2 agama dan pemberantasan Takhayul, Bid’ah dan Churafat (TBC), pada masa inilah bersemi dan menguat “ideologi pemurnian” anti tradisi lokal yg dipandang menyimpang dan menjadi identitas Muhammadiyah (brand) dalam benak banyak orang, dalam masa ini juga disusun Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Muqaddimah Anggaran Dasar dan Kepribadian Muhammadiyah, tiga rumusan formal Muhammadiyah untuk menjadi dasar paham dan karakter ideologis warga Muhammadiyah.

3. Fase III : Gerakan Pendorong Reformasi Politik dan Kritik Moral, era HM Amien Rais 1995 – 1999, pada masa ini Muhammadiyah menjadi salah satu pendorong suksesi kepemimpinan nasional dan kritik anti KKN, melalui Tanwir Muhammadiyah HM Amien Rais dipersilahkan untuk mendirikan PAN dan ikut dalam kontestasi politik nasional dengan terlebih dahulu melepaskan jabatan sebagai Ketum PP Muhammadiyah.

4. Fase IV : Gerakan Intelektualisme Islam era Buya Syafi’ie Ma’arif 2000 – 2005 dengan pengembangan Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam (PPM) di masa ini bersemi, mekar dan berkembang pemikiran2 baru bernuansa “inklusif-plural-liberal” vis a vis “eksklusif-tekstual-konservatif” dan dari kalangan muda mendirikan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), konsep dakwah kultural yg “kontoversi” dan pemikiran Muhammadiyah memasuki abad ke 2.

5. Fase V : Gerakan Pembaruan Pemikiran dan Paham Muhammadiyah era HM Dien Syamsudin 2005 – 2015 dengan penataan kembali Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid, dimasa ini terasa kuat usaha untuk mengkonseptualisasikan paham Muhammadiyah sebagai karakter ideologis Muhammadiyah yaitu tajdidiyah ( perpaduan antara pemurnian aqidah dan ibadah magdhah di satu sisi dan dinamisasi dalam muamalah di sisi yang lain ), disusun pula Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), Ideologi, Khittah dan Strategi sebagai arah program dan tujuan

6. Fase VI : Gerakan Aktualisasi Kembali Etos Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan KH Ahmad Dahlan, era DR. Haedar Nashir (2016 – sekarang), pada masa ini setelah trilogi lama : pendidikan, kesehatan dan sosial, dikembangkan trilogi baru : Lazismu, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) dan Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) sebagai wujud praksisme baru ajaran Islam, selain itu di era ini Muhammadiyah memposisikan diri sebagai gerakan Islam Washatiyah (tengahan/moderat) dalam lalu lintas pemikiran keislaman, menjauhi politik praktis, namun mendorong politik nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pembagian fase-fase tersebut bukan menghilangkan fase-fase sebelumnya, tetapi merupakan evaluasi dan pengembangan dari fase sebelumnya dalam menjawab kebutuhan dan tantangan yang ada.

Penamaan dari setiap fase dan narasinya, murni pemikiran saya sendiri bisa salah/benar, bisa tepat/tidak tepat, bisa banyak kekurangan/berlebihan, semua terserah yang menilai.

Pemisahan menjadi fase-fase yg berbeda didasarkan pertimbangan adanya nuansa-nuansa tertentu yg cukup dominan dan menyita perhatian namun yg pasti setiap fase itu sifatnya cair dan semua berjalan menjadi satu rangkaian proses dinamika Muhammadiyah sejak awal kelahiran hingga kini.

#Muhammadiyah, Gerakan Dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid

#Gerakan Modernisne Islam terbesar di dunia

wallahu a’lam, 8918

KARAKTERISTIK PERADABAN ISLAM

Mezquita_de_Córdoba_Mihrab

Sumber:https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/de/Mezquita_de_Córdoba_Mihrab.

Sebelum membahas karakter peradaban Islam, mari kita lihat karakter peradaban lainnya, peradaban Yunani dikenal dengan penggunaan akal, peradaban Romawi dikenal dengan pendewaan terhadap kekuatan dan perluasan wilayah (ekspansi militer), peradaban Persia dikenal dengan mementingkan kehidupan duniawi dan kekuatan peperangan serta pengaruh politik, peradaban India dikenal dengan kekuatan spiritualitasnya.[1] Peradaban Islam sendiri mempunyai kekhususan dan keistimewaan yang menjadi pembeda dari peradaban sebelumnya. Dengan berlandaskan semangat Al Qur’an, Sunnah Nabawiyah, Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah peradaban Islam mempunyai ciri khas yang sempurna. Adapun keunggulan dan keistimewaan peradaban Islam bisa diuraikan sebagai berikut;

A. Universalitas

Peradaban Islam dikenal dengan ciri toleran ajaran dan risalahnya yang universal, universal dalam cakrawala yang tinggi dan luas, yang tidak terikat dengan iklim, geografi, dan tidak terikat dengan jenis manusia, karena Peradaban Islam menaungi seluruh umat manusia. Sebagaimana yang dijelaskan dengan firman Allah Qs. Al Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Allah juga menegaskan dalam ayat lain yang ditujukan kepada Rasul-Nya,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.[2]

Dilanjutkan juga dengan firman Allah

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui[3]

Pandangan Al Qur’an tersebut diperjelas oleh Hadits Rasul, “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada salah seorang Nabi sebelumku: setiap Nabi diutus hanya kepada masing-masing kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia berkulit merah atau hitam…[4]

Ini merupakan karakteristik pertama diantara beberapa karakteristik yang menjadi keunggulan dan keistimewaan peradaban Islam.

B. Tauhid

Di antara keunggulan yang membedakan peradaban Islam adalah tegaknya peradaban atas dasar tauhid secara mutlak kepada Allah, menurut Ali A Alawi inti peradaban yaitu sikap berserah diri kepada realitas ilahiah[5], karena peradaban Islam harus mengakui peran yang transenden[6]. Dari sini, peradaban yang berlandaskan pada ketauhidan ini mempunyai pengaruh yang jelas dalam mengubah semua bentuk keagungan pada peradaban dan memberikan sumbangsih dalam perjalanan kemanusiaan. Dasar-dasar peradaban yang berlandaskan ketauhidan sebagai berikut:

  1. Tidak menuhankan seorang hakim

Hakim itu manusia biasa yang bisa saja salah atau kurang, yang menjadi hakim mutlak hanyalah Tuhan yang memberikan jalan kepada manusia berupa syariat-syariat dan undang-undang. Kepada para makhluk supaya berjalan mengikuti perintah-perintah yang Mahasuci dan melaksanakan syariat yang diturunkan. Dengan inilah manusia merasa mulia dengan sisi kemanusiaannya.

2. Persamaan derajat antar sesama manusia

Semua manusia diciptakan oleh Tuhan yang satu, menyembah Tuhan yang merajai alam semesta. Tidak ada yang paling mulia dan paling rendah antar sesama manusia kecuali yang menjadi pembeda adalah ketakwaan yang mengangkat ketinggian kedudukan manusia.

3. Meniadakan sekutu selain Allah

Islam membersihkan dari setiap bentuk penyembahan berhala, baik dalam bentuk berhala patung maupun berhala selain itu yang berkembang dizaman sekarang, misalnya harta, kecantikan, dan lain sebagainya silakan sebutkan sendiri.

4. Pengembaraan yang benar tentang sang pencipta dan alam semesta serta hari hisab

Manusia hidup di dunia, memakmurkan alam semesta ini, dan memandang akhirat dan tempat hisab dan balasannya.

Demikianlah ketauhidan merupakan ciri khas peradaban Islam, yang turut memberikan sumbangsihnya dalam kesamaan derajat manusia dan memerdekaannya dari para tirani, dan menghadapkan pandangannya hanya kepada Allah yang menciptakan alam semesta.

C. Adil dan Moderat

Keadilan dan moderat (wasathan) merupakan karakteristik yang unggul dalam peradaban Islam, yakni moderat dan adil antara dua sudut yang saling berhadapan atau saling bertentangan. Peradaban Islam terhimpun antara ruh dan jasad, yang mengumpulkan antara ilmu syariat dan ilmu hayat. Mementingkan dunia sebagaimana mementingkan akhirat, mengumpulkan antara perumpamaan dan kenyataan, kemudian menyeimbangkan antara hak dan kewajiban.  Sebagaimana diisyaratkan Kitabullah melalui firman_Nya[7]:

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan),

Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu, Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu

Jika kedua sisi ruh dan jasad tidak berjalan seiring dan dipisah secara tersendiri, tidaklah akan membawa kemashlahatan menuju jalan kebahagiaan manusia. Peradaban Islam yang kekal datang untuk memadukan dan menyeimbangkan antara tuntunan ruh dan jasad, sehingga menjadikan ruhaniyah yang suci sebagai dasar bagi jasad yang bersih. Jika keduanya bersih, maka manusia bisa memperoleh kebahagiaan dengan kehendak dan kebebasan serta berpikir dan membuahkan kesungguhan kerja keras dalam ruang lingkup keimanan, akhlak yang berdiri lurus dengan keadilan, keamanan, kesejahteraan, rahmat dan kasih sayang.

Tujuan dari keseimbangan tersebut adalah untuk memenuhi harmonisasi antara fitrah kemanusiaan dan tujuan akal, serta untuk memenuhi keselarasan universal dalam pemikiran manusia angan-angannya, keinginan dan niat tujuannya.

Menggabungkan antara ilmu syariat dan ilmu umum secara luas, menjadikan peradaban Islam menjadi peradaban yang tinggi, peradaban yang berlandaskan pada metode keilmuan, pengetahuan dan akal yang kokoh. Islam adalah agama teori, tapi pada saat bersamaan juga agama yang realistis. Islam juga menuntut untuk memahami sebab-sebab yang akan membawanya dalam peradaban yang tinggi dengan usaha melalui pintu-pintu yang telah ditentukan. Dengan demikian menjadikan peradaban Islam yang gemilang dengan karakter seimbang dan moderat.

D. Sentuhan Akhlak

Akhlak dalam peradaban Islam merupakan pagar yang membatasi, serta dasar yang tegak di atas kejayaan Islam. Sumber akhlak dalam peradaban Islam adalah wahyu, sedangkan sumber wajib dalam akhlak Islam adalah hadirnya perasaan manusia terhadap pengawasan Allah. Sentuhan akhlak ini menyebabkan terwujudnya rasa aman yang menjamin kesinambungan peradaban yang langgeng, dalam waktu yang bersamaan mencegah penyimpangan.

Peradaban Islam mempunyai keistimewaan secara esensi (isi), yaitu peradaban yang universal, ia ditegakkan atas dasar ketauhidan mutlak kepada Allah, Tuhan semesta alam. Ia membawa sifat keseimbangan dan pertengahan, sebagaimana membawa sentuhan akhlak yang bernilai. Semua itu menunjukkan bahwa peradaban Islam bukanlah peradaban sempit, peradaban masyarakat tertentu, dan tidak pula menentang fitrah kemanusiaan.

[1] Raghib as Sirjani “sumbangan peradaban Islam pada Dunia” hal. 51

[2] Qs. Al Anbiya: 107

[3] Qs. Saba: 28

[4] HR. Bukhari, kitab at Tayamum (328)

[5] Ali A Allawi Krisis Peradaban Islam hal. 19

[6] Yang suci atau Tuhan

[7] Qs. Ar Rahman ayat 7 – 9

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI ANDALUSIA

Menurut Dr. Badri Yatim M,A  sejarah Panjang  islam Di Spanyol dapat Di bagi dalam 6 Periode;

Periode Pertama (711-755 M).

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna. Konflik dari dalam dan dari luar.

Periode Kedua (755-912 M).

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang  bergelar amir (Panglima atau Gubernur). Amir pertama yaitu Abdurrahman I yang bergelar ad Dakhil

Periode ke-3(912-1013M).

Periode ini berlansung mulai dari pemerintahan Aburrahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Mulk At-Thawa’if. Pada periode ini, Spanyol diperintahkan oleh penguasa dengan gelar khalifah dan pada masa ini adalah puncak kemajuan dan Kejayaan yang Menyaingi Daulah Abbasiyah di  Baghdad dan Pada masa Ini Abdurrahman mendirikan Universitas  CORDOVA dan perpustakaannya Memiliki Ratusan ribu buku dan menjadi Central Pendidikan Di Eropa.

Periode keempat (1013-1086 M)

Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern.

 Periode Kelima (1086-1248 M)

Sekalipun pada masa ini kekuatan muslim Spanyol terpecah menjadi sejumlah negara kecil, namun terdapat kekuatan yang dominan yakni dinasti Murabithun (1086-1143 m). dan diansti Murabithun pada mulanya merupakan gerakan keagamaan di Afrika utara yang dipimpin oleh tokoh-tokoh agama (kiai) yang tinggal di Ribath (sejenis surau) yang dipimpin oleh seorang guru yang bernama Abdullah ibn Yasin. Gerakan Ribath ini berubah menjadi gerakan militer yang melakukan gerakan expansi di bawah pimpinan ibn Tasyfin yang berpusat di kota Marrakusy.

Periode keenam (1248-1492 M).

Pada periode ini, islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti bani Ahmar (1232-1492 M). peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an- Nasir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa diwilayah yang terkecil. Kekuasaan islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai pengganti menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha memberantas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh kemudian digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand an Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang syah dan Abu Abdullah naik tahta.

Tentu sasja, Ferdinan dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinan dan Isabela. Dan keudian dia hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 M. umat islam setelah itu dihadapjkan pada 2 pilihan, masuk Krusten atau meniggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat islam di daerah ini.

TIGA PERISTIWA BESAR BULAN AGUSTUS DI INDONESIA

oleh: Zaenal Arifin

Materi ini disampaikan pada khutbah idul adha 1439 H di Mertan Bendosari Sukoharjo

Bulan agustus ini ada 3 peristiwa besar umat islam di indonesia

  1. Gempa yang terjadi di pulau lombok

Apakah musibah itu sebagai ujian untuk meninggikan derajat hamba? Ataukah musibah sebagai siksa (azab)? Atau hukuman yang disegerakan di dunia? Ketiga kemungkinan itu bisa ada. Sehingga dengan mengetahui hikmah musibah tersebut seharusnya membuat kita giat dan berusaha keras untuk bersabar serta meraih pahala lewat ujian.

(1) Musibah yang menimpa sebagaimana yang menimpa para Nabi dan Rasul. Misalnya dengan ditimpakan penyakit dan tidak diberikan keturunan. Maksud musibah seperti ini adalah untuk meninggikan derajat, memperbesar pahala, dan sebagai qudwah (teladan) bagi yang lainnya untuk bersabar.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih).

(2) Musibah bisa jadi pula sebagai sebab dihapuskannya dosa, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

Barang siapa yang melakukan keburukan (baca:maksiat) maka dia akan mendapatkan balasan karena keburukan yang telah dilakukannya”(QS An Nisa: 123).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang)[1], kesusahan hati[2] atau sesuatu yang menyakiti[3] sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

(3) Musibah bisa jadi adalah hukuman yang disegerakan (baca: siksaan atau adzab) di dunia disebabkan tumpukan maksiat dan tidak bersegera untuk bertaubat.

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).

  1. Hari ulang tahun kemerdekaan RI 17 Agustus 2018

Mensyukuri Kemerdekaan

Indonesia telah merdeka, umat Islam telah merasakan kebebasan. Tidak ada lagi larangan menerjemah al-Qur’an  seperti di zaman Belanda. Tidak ada larangan berjilbab, anak-anak pergi mengaji, atau larangan pergi menunaikan ibadah Haji. Semuanya bisa dilakukan. Merdeka, tanpa intervensi kaum penjajah. Jasa para Pejuang ada di balik ketercapaian tersebut. Dengan gigih dan gagahnya, mereka berhasil melepaskan belenggu yang diderita negara ini selama ratusan tahun. Keberanian yang didasari keimanan adalah alasan pejuang untuk terus bertahan, walau nyawa harus dikorbankan.  Dan itu semua tidak terjadi kecuali atas kehendak Allah Swt.

Mohammad Natsir dalam pidatonya mengatakan, “Kalau kita mau jujur melihat Sejarah, mau jujur mengambil pelajaran dari keadaan itu, sehingga dapat bertahan sampai ratusan tahun lamanya di dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita. Tidak lain saudara-saudara, ini disebabkan oleh pelajaran Islam, dan berkat tauhid yang dapat menghilangkan sifat takutnya, keragu-raguannya, dan kekhawatirannya karena menyerahkan dirinya kepada Allah Swt. Setiap muslimin dengan tabah dapat menunaikan kewajibannya.”

Pengakuan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih atas izin Allah Ta’ala, termaktub dalam pembukaan UUD 1945, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”. Kemerdekaan adalah limpahan nikmat yang Allah anugerahkan untuk mereka yang berjuang lillah. Maka betapa angkuhnya manusia Indonesia yang menafikan nikmat kemerdekaan; nikmat yang sesungguhnya masih menjadi mimpi bagi negara sahabat, Palestina. Nikmat yang sudah semestinya disyukuri dengan ragam pengabdian. Dan ingat, Indonesia bahkan dikaruniai kekayaan sumber daya manusia (SDA) yang tidak dimilki bangsa lain. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?

Kini Indonesia telah merdeka. Berkarya adalah wujud syukur yang nyata. Saat malas, ingatlah sebab kemerdekaan bangsa ini diraih. Saat melihat pemimpin khianat, ingatkan pada mereka latar belakang kemerdekaan bangsa ini diperjuangkan. Ingatlah, tanpa tauhid yang menjadi dasar perjuangan, Indonesia barangkali akan tetap menjadi negeri jajahan, atau bahkan hilang dari peradaban.

  1. Hari Besar umat islam, yaitu hari raya idul adha 1439 H

Apa saja pelajaran yang bisa kita ambil dari ibadah qurban dan haji? Kami sarikan lima pelajaran yang moga bermanfaat bagi kita sekalian.

1- Belajar untuk ikhlas

Dari ibadah qurban yang dituntut adalah keikhlasan dan ketakwaan, itulah yang dapat menggapai ridha Allah. Daging dan darah itu bukanlah yang dituntut, namun dari keikhlasan dalam berqurban. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Untuk ibadah haji pun demikian, kita diperintahkan untuk ikhlas, bukan cari gelar dan cari sanjungan. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Ini berarti berqurban dan berhaji bukanlah ajang untuk pamer amalan dan kekayaan, atau riya’.

2- Belajar untuk mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dalam berqurban ada aturan atau ketentuan yang mesti dipenuhi. Misalnya, mesti dihindari cacat yang membuat tidak sah (buta sebelah, sakit yang jelas, pincang, atau sangat kurus) dan cacat yang dikatakan makruh (seperti sobeknya telinga, keringnya air susu, ekor yang terputus). Umur hewan qurban harus masuk dalam kriteria yaitu hewan musinnah, untuk kambing minimal 1 tahun dan sapi minimal dua tahun. Waktu penyembelihan pun harus sesuai tuntunan dilakukan setelah shalat Idul Adha, tidak boleh sebelumnya. Kemudian dalam penyaluran hasil qurban, jangan sampai ada maksud untuk mencari keuntungan seperti dengan menjual kulit atau memberi upah pada tukang jagal dari sebagian hasil qurban. Jika ketentuan di atas dilanggar di mana ketentuan tersebut merupakan syarat, hewan yang disembelih tidaklah disebut qurban, namun disebut daging biasa.

Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah kepada para sahabat pada hari Idul Adha setelah mengerjakan shalat Idul Adha. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ

“Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih kurban seperti kurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala kurban. Barangsiapa yang berkurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada sebelum shalat dan tidak teranggap sebagai kurban.”

Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ

“Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan kambing kurban).” (HR. Bukhari no. 955)

Begitu pula dalam ibadah haji hendaklah sesuai tuntunan, tidak bisa kita beribadah asal-asalan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ

“Ambillah dariku manasik-manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, mungkin saja aku tidak berhaji setelah hajiku ini”. (HR. Muslim no. 1297, dari Jabir).

Ini menunjukkan bahwa ibadah qurban dan haji serta ibadah lainnya mesti didasari ilmu. Jika tidak, maka sia-sialah ibadah tersebut. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah berkata,

مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” (Majmu’ Al Fatawa, 2: 282)

3- Belajar untuk sedekah harta

Dalam ibadah qurban, kita diperintahkan untuk belajar bersedekah, begitu pula haji. Karena saat itu, hartalah yang banyak diqurbankan. Apakah benar kita mampu mengorbankannya? Padahal watak manusia sangat cinta sekali pada harta.

Ingatlah, harta semakin dikeluarkan dalam jalan kebaikan dan ketaatan akan semakin berkah. Sehingga jangan pelit untuk bersedekah karena tidak pernah kita temui pada orang yang berqurban dan berhaji yang mengorbankan jutaan hartanya jadi bangkrut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029)

Ingat pula Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2588, dari Abu Hurairah)

Imam Nawawi berkata, “Kekurangan harta bisa ditutup dengan keberkahannya atau ditutup dengan pahala di sisi Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 16: 128).

4- Belajar untuk meninggalkan larangan

Dalam ibadah qurban ada larangan bagi shahibul qurban yang mesti ia jalankan ketika telah masuk 1 Dzulhijjah hingga hewan qurban miliknya disembelih. Walaupun hikmah dari larangan ini tidak dinashkan atau tidak disebutkan dalam dalil, namun tetap mesti dijalankan karena sifat seorang muslim adalah sami’na wa atho’na, yaitu patuh dan taat.

Dari Ummu Salamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzulhijjah (maksudnya telah memasuki 1 Dzulhijjah, -pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim no. 1977).

Lebih-lebih lagi dalam ibadah haji dan umrah, saat berihram jamaah tidak diperkenankan mengenakan wewangian, memotong rambut dan kuku, mengenakan baju atau celana yang membentuk lekuk tubuh (bagi pria), tidak boleh menutup kepala serta tidak boleh mencumbu istri hingga menyetubuhinya.

Dalam riwayat Bukhari disebutkan,

وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ

Hendaknya wanita yang sedang berihram tidak mengenakan cadar dan sarung tangan.” (HR. Bukhari no. 1838).

5- Belajar untuk rajin berdzikir

Dalam ibadah qurban diwajibkan membaca bismillah dan disunnahkan untuk bertakbir saat menyembelih qurban.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

 “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban (pada Idul Adha) dengan dua kambing yang gemuk. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher dua kambing itu. Lalu beliau membaca bismillah dan bertakbir, kemudian beliau menyembelih keduanya dengan tangannya.”

Sejak sepuluh hari pertama Dzulhijjah, kita pun sudah diperintahkan untuk banyak bertakbir. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan” (QS. Al Hajj: 28). ‘Ayyam ma’lumaat’ menurut salah satu penafsiran adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Pendapat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Al Hasan Al Bashri, ‘Atho’, Mujahid, ‘Ikrimah, Qotadah dan An Nakho’i, termasuk pula pendapat Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad (pendapat yang masyhur dari beliau). Lihat perkataan Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathoif Al Ma’arif, hal. 462 dan 471.

Di hari-hari tasyriq, kita pun diperintahkan untuk membaca doa sapu jagad. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201)

Dari ayat ini kebanyakan ulama salaf menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’. (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 505-506).

Ini semua mengajarkan pada kita untuk rajin berdzikir.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضى الله عنه أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَأَخْبِرْنِى بِشَىْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ »

Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, syariat Islam sungguh banyak dan membebani kami. Beritahukanlah padaku suatu amalan yang aku bisa konsisten dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Hendaklah lisanmu tidak berhenti dari berdzikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375, Ibnu Majah no. 3793, dan Ahmad 4: 188, Shahih menurut Syaikh Al Albani).