SEKOLAH HEBAT: Calon Alumni SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo Sudah Terserap di Dunia Kerja

Sekolah hebat itu dibangun diatas harapan-harapan masyarakat, maksudnya adalah sekolah hebat itu sekolah yang mampu  merealisasikan apa yang menjadi harapan atau keinginan masyarakat . Secara umum keinginan masyarakat adalah Output siswa yang dihasilkan oleh sekolah banyak terserap dalam dunia kerja. SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo sudah terbukti menjadi penyedia tenaga terampil dan terdidik dengan terserapnya sebagian calon alumninya ke Dunia Usaha / Dunia Industri. Pada tahun 2018 ini sebagian calon alumni sudah diterima kerja di Perusahaan Nasional. Salah satunya di PT PAMAPERSADA NUSANTARA yang merupakan anak perusahaan milik PT United Tractors Tbk, distributor kendaraan konstruksi berat Komatsu di Indonesia. PT Astra Internasional Tbk, pemilik saham utama PT United Tractors Tbk, merupakan salah satu perusahaan terbesar dan terkemuka di Indonesia. PAMA secara aktif mengelola sejumlah besar pertambangan batubara, emas, quarry dan sebagainya, mengerjakan konstruksi bendungan dan pengerjaan jalan serta berbagai proyek penggalian bumi dan transportasi yang beroperasi di seluruh Indonesia. Kini PAMA juga telah memiliki anak perusahaan, dengan nama PT Kalimantan Prima Persada (KPP) dan PT Prima Multi Mineral (PMM).

Calon Alumni SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo mampu bersaing dengan ribuan pelamar dari sekolah lain dari seluruh Indonesia, dengan melalui beberapa tahapan seleksi yang ketat. Keberhasilan ini tidak terlepas dari usaha semua warga sekolah dengan manajemen yang hebat yang dilakukan oleh pengelola sekolah. Dengan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang standar industri dan didukung oleh pengajar yang profesional SMK Muhammadiyah mampu menjawab harapan masyarakat.

Maka sudah seharusnya SMK Muhamamdiyah 1 Sukoharjo menjadi tempat pembelajaran yang tepat untuk membentuk tenaga terampil dan terdidik bagi siswa yang menginginkan Sekolah-Lulus-Kerja. Oleh karena itu bagi orang tua yang menginginkan putra-putrinya berhasil, tanpa ragu dan bimbang langsung daftarkan ke SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo.

Cara Pendaftaran: Datang langsung ke SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo dengan membawa fc Kartu keluarga dan Rapot semester 5 pada jam kerja (07.00 sampai jam 15.00 wib).

 

Iklan

KEMUNDURAN PERADABAN ISLAM

Konsensus universal telah terbentuk, bahwa kemunduran peradaban Islam terjadi sejak abad ke 17[1]. Pada akhir abad ke 19, sebagian besar wilayah dunia Islam telah jatuh dibawah kekuasaan Eropa, menyisakan kerajaan Utsmani yang mengecil kekuasaannya dan Dinasti Qajar di iran yang merupakan negara – negara lemah[2]. Ketika muslim berada di bawah kekuasaan non-muslim, hasilnya lebih sering berupa pengusiran massal dan bentuk awal “pembersihan etnis”. Bukti Pengalaman muslim di Spanyol setelah keruntuhan Bani Ahmar di Granada pada tahun 1492. Bukti lain terdesaknya kekuasaan Utsmani di Balkan kemudian dilanjutkan dengan penggusuran dan pengusiran yang menimpa Muslim yang telah lama menetap.

Kegagalan para penguasa dan masyarakat Muslim untuk mengatasi ancaman kembar dari (1) kekuatan imperialis Eropa yang sedang berkembang dan (2) kedatangan modernitas telah memperburuk krisis Islam. Disebabkan keengganan peradaban Islam yang merasa sudah lama mendominasi, yakin akan superioritasnya, untuk berinteraksi dengan peradaban lain yang dianggap lebih rendah terutama dengan kristen.

 

Kesalahan – Kesalahan penyebab kemunduran peradaban Islam

Mengkaji dan menilai kegagalan dunia Islam ada beberapa sebab:

Pertama, ancaman dari barat dan perluasan teritori kerajaan Tsar

Kedua, para penjelajah dan diplomat muslim di barat tidak dapat sepenuhnya menerjemahkan apa yang mereka lihat dan alami menjadi suatu masukan kepada umat muslim untuk mengambil tindakan

Ketiga, pemahaman dinamika kekuatan-kekuatan imperial tidak mendalam

Keempat, pola-pola yang digunakan imperialisme untuk meraih kontrol dan dominasi tidak dipahami sepenuhnya oleh orang muslim

Kelima, penentangan elit-elit Utsmani (Janissari) terhadap reformasi dan re-organisasi total sebagian disebabkan oleh kekhawatiran akan penghapusan hak-hak istimewa dan struktur-struktur untuk mereka

Keenam, para ulama disemua kerajaan muslim pada abad ke 19 menolak reformasi administratif, pendidikan dan hukum karena hal-hal tersebut mengancam status mereka sebagai pengawal hukum dan pendidikan

Ketujuh, pengkhianatan dan persengkokolan rahasia di dalam umat Islam sendiri sering terjadi pada masa peperangan, sebagai contoh ketika emir Abdul Qodir melawan perancis di aljazair atau imam syamil melawan orang-orang rusia di Chechnya dan Daghestan

Kepemimpinan Abd el-Qadir

Abd el-Qadir sejak muda mengikuti tarekat sufi ayahnya, Muhyi el-Din, seorang syaikh Tarekat Qadiri dan pengikut mistikus Abad Pertengahan dari Andalusia, Ibn ‘Arabi. Abd el-Qadir merupakan pemimpin tradisional yang bangkit menghadapi para penjajah, model kepemimpinan yang dilakukan yaitu memadukan otonomi religius dan kepiawaian militer untuk mengamankan wilayah islam, dia juga menerima “technification” (menerapkan teknik pada berbagai hal) dan berbagai implikasinya yang mendalam.

Dalam berbagai kesempatan Abd el-Qadir memberikan gambaran sekilas bagaimana suatu masyarakat muslim dapat secara mudah melalui jalur-jalur modernitas menurut caranya sendiri. Di wilayah kekuasaannya di al jazair, dia telah berusaha memperkenalkan elemen-elemen peradaban baru yang bersifat teknis, yang masih dalam posisi di bawah aturan Islami pemerintahannya. Dalam penerapan berbagai institusi dan perspektif modern barat, Abd el-Qadir mempunyai pandangan yang lazim dalam islam dan diyakini kebenarannya, dengan cepat menjadi pandangan “tradisional” dan kemudian menjadi pandangan “reaksioner”. Pandangan ini ditopang dua pilar kembar yaitu, hukum syariah, yang mengatur kehidupan lahiriah serta fondasi-fondasi etis yang mendasari sufisme tarekat, fondasi-fondasi yang menjadi sumber-sumber solidaritas masyarakat. Pilar kedua, berupa tarekat-tarekat yang tersebar di seluruh dunia islam sunni.

Pada masa-masa kritis, seorang pemimpin akan muncul dan dengan kecemerlangan militer, organisasi, atau politik akan mengatasi rintangan-rintangan hebat, mengusir para penyerang, dan menegakkan kembali keadilan dan keteraturan.

(pemberontakan besar neo mahdi dari Muhammad Ahmad di sudan pada 1881 melawan penjajah anglo-mesir menjadi contoh yang tepat kepemimpinan kepahlawanan yang memadukan elemen politik serta militer)

Abd el-Qadir memadukan beberapa kualitas dalam perjuangan hebatnya melawan kekuatan besar kerajaan perancis. Berbagai prestasi luar biasa menjadi legenda dan terbawa hingga masa pengasingannya. Misalnya, perlakuannya terhadap musuh-musuh selalu terpuji, ditandai ketaatannya kepada aturan-aturan perang islam. Pada suatu ketika, dia melepaskan para tawanan perang perancis karena pasukannya tidak punya cukup makanan untuk mereka. Ini semua membuktikan mengakarnya identitas Islam yang mendalam, yang menjadi alat untuk menyaring dan menilai semua kejadian dan kepribadian. Abd el-Qadir tidak menyerang perancis karena alasan ras atau bangsa, tetapi karena agama dan peradaban yang mendorongnya untuk berbuat. Dilain pihak ada pemimpin yang mempunyai kesamaan dengan Abd el-Qadir, yaitu Imam Syamil, dia seorang Syaikh sufi dari Tariqat Naqsabandi, Imam Syamil juga melawan serbuan Rusia di Kaukasus pada periode yang sama. Antara Imam Syamil dan Abd el-Qadir pernah berjumpa di Mekkah dalam perjalanan Haji pada 1825, selanjutnya dua sufi ini memimpin perlawanan Muslim terhadap serbuan eropa. Kedua pemerintahan syariah yang didirikan oleh Abd el-Qadir dan Imam Syamil berumur singkat, karena keduanya terdesak oleh masing-masing musuhnya.

Sebenarnya Abd el-Qadir sudah merasakan berbagai kelemahan masyarakatnya dan sadar bahwa perjuangannya tak dapat dipertahankan, bukan hanya karena ketidak seimbangan kekuatan militer, tetapi juga karena perancis menampilkan berbagai kemajuan teknologi dan organisasi yang belum bisa disaingi Dunia Islam. Dengan berakhirnya perjuangan bersenjatanya akibat kombinasi kebrutalan ekstrem perancis dan serangkaian pengkhianatan para sekutunya, Abd el-Qadir membuka bab baru. Pada tahap ini terjadilah perkembangan kesadaran spiritualnya. Dia memahami bahwa jihad fisiknya telah berakhir karena berbagai kelemahan masyarakatnya dan karena tiadanya peralatan dalam gudang persenjataan untuk menghadapi kekuatan-kekuatan yang sama sekali baru. Abd el-Qadir merupakan pemimpin terakhir pada Islam pramodern yang berusaha memahami dan menjawab berbagai tantangan dunia baru dengan cara-cara klasik warisan Islam.

[1] Ali A Allawi Krisis Peradaban Islam hal. 56

[2] Ali A Allawi Krisis Peradaban Islam hal. 59

Resume dari buku krisis peradaban Islam karya Ali A Allawi

PENTINGNYA MEMAHAMI IDEOLOGI MUHAMAMADIYAH

Ideologi ibarat akar, yang menopang pohon dan ranting. Akar yang kuat akan membuat pohon kokoh berdiri, sedangkan akar yang lemah akan mudah tercabut, dan pohon akan tumbang. Begitu pula dengan Muhamamdiyah ketika ideologi lemah bisa dipastikan persyarikatan ini akan diisi oleh para pengkhianat yang sangat merugikan, dan pada akhirnya Muhamamdiyah hanya nama, yang menghilangkan karakteristik persyarikatan. (Zaenal Arifin)

Menurut Dr. Haedar Nashir, M.Si, kader Muhammadiyah harus memahami gerakan Muhammadiyah melalui khittah-khittah yang dibuat Muhammadiyah harus secara mendalam.  “Kita harus tahu dasar perjuangan Muhammadiyah dan Strategi Perjuangan Muhammadiyah, bagaimana  memahami Muhammadiyah itu tidak hanya dari luar saja, tapi dari dalam” Muhammadiyah bukanlah sekedar organisasi dalam pengertian administrasi yang bersifat teknis, akan tetapi suatu gerakan agama yang di dalamnya terkandung sistem keyakinan, pengetahuan, dan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada tujuan yang dicita-citakan. Adapun maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut dilakukan dengan berbagai usaha, yaitu melalui amal usaha, program kerja, dan kegiatan Persyarikatan.

Karakter Gerakan Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam

Persyarikatan Muhammadiyah dibangun oleh KH Ahmad Dahlan sebagi hasil kongkrit dari telaah dan pendalaman (tadabbur) terhadap Alquranul Karim. Faktor inilah yang sebenarnya paling utama yang mendorong berdirinya Muhammadiyah, sedang faktor-faktor lainnya dapat dikatakan sebagai faktor penunjang atau faktor perangsang semata. Dengan ketelitiannya yang sangat memadai pada setiap mengkaji ayat-ayat Alquran, khususnya ketika menelaah surat Ali Imran ayat 104, maka akhirnya dilahirkan amalan kongkret, yaitu lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah. Kajian serupa ini telah dikembangkan sehingga dari hasil kajian ayat – ayat tersebut oleh KHR Hadjid dinamakan “Ajaran KH Ahmad Dahlan dengan kelompok 17, kelompok ayat-ayat Alquran”, yang didalammya tergambar secara jelas asal – usul ruh, jiwa, nafas, semangat Muhammadiyah dalam pengabdiannya kepada Allah SWT.

Dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah seperti di atas jelaslah bahwa sesungguhnya kelahiran Muhammadiyah itu tidak lain karena diilhami, dimotivasi, dan disemangati oleh ajaran – ajaran Al – Qur’an karena itupula seluruh gerakannya tidak ada motif lain kecuali semata – mata untuk merealisasikan prinsip – prinsip ajaran Islam. Segala yang dilakukan Muhammadiyah, baik dalam bidang pendidikan dan pengajaran, kemasyarakatan, kerumahtanggaan, perekonomian, dan sebagainya tidak dapat dilepaskan dari usaha untuk mewujudkan dan melaksankan ajaran Islam. Tegasnya gerakan Muhammadiyah hendak berusaha untuk menampilkan wajah Islam dalam wujud yang riil, kongkret, dan nyata, yang dapat dihayati, dirasakan, dan dinikmati oleh umat sebagai rahmatan lil’alamin.

Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam

Ciri kedua dari gerakan Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan dakwah Islamiyah. Ciri yang kedua ini muncul sejak dari kelahirannya dan tetap melekat tidak terpisahkan dalam jati diri Muahammadiyah. Sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu bahwa faktor utama yang mendorong berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah berasal dari pendalaman KHA Dahlan terdapat ayat – ayat Alquran Alkarim, terutama sekali surat Ali Imran Ayat 104. Berdasarkan Surat Ali Imran ayat 104 inilah Muhammadiyah meletakkan khittah atau strategi dasar perjuangannya, yaitu dakwah (menyeru, mengajak) Islam, amar ma’ruf nahi munkar dengan masyarakat sebagai medan juangnya. Gerakan Muhammadiyah berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan membangun berbagai ragam amal usaha yang benar-benar dapat menyentuh hajat orang banyak seperti berbagai ragam lembaga pendidikan sejak taman kanak – kanak hingga perguruan tinggi, membangun sekian banyak rumah sakit, panti – panti asuhan dan sebagainya. Semua amal usaha Muhammadiyah seperti itu tidak lain merupakan suatu manifestasi dakwah islamiyah. Semua amal usaha diadakan dengan niat dan tujuan tunggal, yaitu untuk dijadikan sarana dan wahana dakwah Islamiyah.

Muhammadiyah sebagi Gerakan Tajdid

Ciri ke tiga yang melekat pada Persyarikatan Muhammadiyah adalah sebagai Gerakan Tajdid atau Gerakan Reformasi. Muhammadiyah sejak semula menempatkan diri sebagai salah satu organisasi yang berkhidmat menyebarluaskan ajaran Agama Islam sebagaimana yang tercantum dalam Alquran dan Assunah, sekaligus memebersihkan berbagai amalan umat yang terang – terangan menyimpang dari ajaran Islam, baik berupa khurafat, syirik, maupun bid’ah lewat gerakan dakwah. Muhammadiyah sebagai salah satu mata rantai dari gerakan tajdid yang diawali oleh ulama besar Ibnu Taimiyah sudah barang tentu ada kesamaaan nafas, yaitu memerangi secara total berbagai penyimpangan ajaran Islam seperti syirik, khurafat, bid’ah dan tajdid, sebab semua itu merupakan benalu yang dapat merusak akidah dan ibadah seseorang.

Sifat Tajdid yang dikenakan pada gerakan Muhammadiyah sebenarnya tidak hanya sebatas pengertian upaya memurnikan ajaran Islam dari berbagai kotoran yang menempel pada tubuhnya, melainkan juga termasuk upaya Muhammadiyah melakukan berbagai pembaharuan cara-cara pelaksanaan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, semacam memperbaharui cara penyelenggaraan pendidikan, cara penyantunan terhadap fakir miskin dan anak yatim, cara pengelolaan zakat fitrah dan zakat harta benda, cara pengelolaan rumah sakit, pelaksanaan sholat ied dan pelaksanaan kurban dan sebagainya.

BER-MUHAMMADIYAH ‘TANPA’ GURU

Hubungan MUHAMMADIYAH dengan negara lagi bermasalah, banyak hal tentang kebijakan negara yang dianggap merugikan umat Islam, MUHAMMADIYAH sedang tak enak hati dengan istana. Soekarno dianggap telah jauh menyimpang, kedekatannya dengan partai komunis sangat mengkhawatirkan umat Islam. Tak sedikit ulama yang malawan termasuk beberapa ulama MUHAMMADIYAH.

Di puncak selisih itu, Moelyadi Djojomartono salah seorang Ketua PP MUHAMMADIYAH diangkat sebagai Menteri Sosial. Suasana kian memanas, polarisasi sikap tak bisa dihindari. Sebagian mendukung dan tidak sedikit yang menolak, Buya HAMKA salah satu yang paling keras menolak. Beliau menulis di harian Abadi, sebuah koran dengan oplag besar. Buya HAMKA seorang penulis dan pengarang terkemuka menyampaikan penolakannya lewat media. Jangan tanya pengaruhnya.

Buya HAMKA tegas menolak, dia menulis, pengangkatan Moeljadi Djojomartono sebagai Menteri Sosial adalah upaya istana untuk memecah belah MUHAMADIYAH dari dalam. Farid Ma’ruf tak kalah tangkas, dia mendukung dan berbicara di berbagai forum bahwa pengangkatan Moeljadi Djojomartono sebagai Menteri Sosial sangat dibutuhkan MUHAMMADIYAH, sebagai ikhtiar menjaga silaturahim dan hubungan baik dengan istana.

*^*
Disparitas sikap ini begitu kuat terasa dan menjadi bahan bincang yang tak pernah habis di Persyarikatan. Perselisihan tak kunjung reda bahkan cenderung kian memanas seiring dengan suasana politik yang tidak kondusif.

Di Gedoeng Muhammadiyah Jogjakarta Sidang Tanwir di gelar. Dua kubu saling berhadapan membawa argumen dan hujjah untuk dipertahankan. Para musyawwirin menunggu kedua belah pihak menyampaikan pendapatnya. Buya HAMKA dipersilakan ke mimbar lebih dahulu untuk menjelaskan terhadap pendapatnya di harian Abadi, Buya HAMKA berdiri tenang. Wajah dan matanya lebih dulu berbicara ketimbang bibirnya. Air matanya berlinang.

Suaranya tersendat parau, di dorong perasaan cintanya kepada MUHAMMADIYAH sangat besar maka ia ambil pena dan menuliskan sikapnya. Semua yang ia tulis di harian Abadi bermaksud baik, tapi jika ternyata melukai perasaan Kyai Farid Ma’ruf yang sangat dicintainya, HAMKA minta maaf. Hadirin terdiam.

*^*
Giliran Kyai Farid Ma’ruf berdiri di mimbar. Satu map besar disiapkan sebagai persiapan pertahanan untuk menangkis serangan Buya HAMKA. Tapi tak diduga sikap Buya HAMKA yang dengan tegar menyatakan maafnya. Map tak jadi dibuka. Kyai Farid Ma’ruf berkata, kesediaan menerima jabatan sebagai Mensos adalah niat baik agar MUHAMADIYAH berkembang di amal usahanya, kita masih membutuhkan Pemerintah untuk bermitra.

Perbedaan antara dirinya dengan Buya HAMKA sama-sama dengan niat baik. Jika pendiriannya dinyatakan bersalah dan dikawatirkan membawa MUHAMMADIYAH ke istana, maka dengan iklas hati dia akan mengundurkan diri sebagai Pimpinan Pusat.

Belum lagi Kyai Farid Ma’ruf selesai berpidato, HAMKA berdiri dan berkata: “Pimpinan .. serunya: … ‘jangan Kyai Farid yang mundur, kita sangat membutuhkan dia .. Saya , HAMKA yang harus mundur …”. Kemudian keduanya berangkulan, air mata berlinangan, saling mengiklaskan dan ridha.

*^*
Moeljadi Djoimartono, Kyai Haji Farid Ma’ruf, Kyai Haji Djarnawi Hadikoesoemo, Buya HAMKA, HS Prodjo Koesoemo, sebelumnya ada Ki Bagus mereka adalah para guru yang patut dijadikan teladan bagaimana kita ber-Muhammadiyah. Menyikapi politik dan perbedaan dalam berkhidmad di Persyarikatan tanpa merasa ‘paling’.

Nyatanya perbedaan selalu ada dan kita gagal menyikapi dengan bijak. Lalu kita berpendapat sendiri-sendiri tanpa sandaran dan sanad. Siapa guru kita dan darimana kita belajar ber-muhammadiyah? Sering kita berkata membela MUHAMMADIYAH padahal sejatinya kita sedang membela harga diri. Ketulusan kita sering semu, karena ada kepentingan pribadi yang tersembunyi. Membesar-besarkan hal kecil, dan kerap bertindak kekanak-kanakan. Meski lantang berkata: ‘demi Muhammadiyah … “. Wallahu a’alam

Disarikan dari tulisan Kyai Haji Djarnawi Hadikoesoemo: Mengenang 70 Tahun Buya HAMKA.

MENUNGGU KATA MAAF SANG PEMIMPIN (Kisah Teladan Khalifah Umar Ibn Khattab)

Oleh: Zaenal Arifin

Saat menjabat sebagai Khalifah, Umar bin Khattab pernah menghadapi cobaan yang cukup berat. Saat itu, umat Islam dilanda paceklik karena masuk dalam tahun abu. Di tahun itu, semua bahan makanan sulit didapat. Hasil pertanian sebagian besar tidak dapat dikonsumsi, sehingga menyebabkan umat Islam menderita kelaparan. Suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab mengajak seorang sahabat bernama Aslam menjalankan kebiasaannya menyisir kota. Dia hendak memastikan tidak ada warganya yang tidur dalam keadaan lapar. Sampai pada satu tempat, Umar dan Aslam berhenti. Dia mendengar tangisan seorang anak perempuan yang cukup keras. Umar kemudian memutuskan untuk mendekati sumber suara itu, yang berasal dari sebuah tenda kumuh. Setelah dekat, Umar mendapati seorang wanita tua terduduk di depan perapian sambil mengaduk panci menggunakan sendok kayu. Umar kemudian menyapa ibu tua itu dengan mengucap salam. Si ibu tua itu menoleh kepada Umar dan membalas salam tersebut. Tetapi, si ibu kemudian melanjutkan kegiatannya.

“Siapakah yang menangis di dalam?” tanya Umar kepada ibu tua.
“Dia anakku,” jawab ibu tua itu.
“Mengapa dia menangis? Apakah dia sakit?” tanya Umar lagi.
“Tidak. Dia kelaparan,” jawab si ibu.

Umar dan Aslam kemudian tertegun. Setelah beberapa lama, keduanya merasa heran melihat si ibu tua tak juga selesai memasak. Untuk mengatasi rasa herannya, Umar kemudian bertanya, “Apa yang kau masak itu? Kenapa tidak matang juga?” Si ibu kemudian menoleh, “Silakan, kau lihat sendiri.” Umar dan Aslam kemudian menengok isi panci itu. Mereka seketika terkaget menjumpai isi panci yang tidak lain berupa air dan batu.

“Apakah kau memasak batu?” tanya Umar dengan sangat kaget. Si ibu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Untuk apa kau masak batu itu?” tanya Umar lagi.
“Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku yang sedang kelaparan. Semua ini adalah dosa Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sejak pagi aku dan anakku belum makan sejak pagi. Makanya kusuruh anakku berpuasa dan berharap ada rezeki ketika berbuka. Tapi, hingga saat ini pun rezeki yang kuharap belum juga datang. Kumasak batu ini untuk membohongi anakku sampai dia tertidur,” kata ibu tua itu.

“Sungguh tak pantas jika Umar menjadi pemimpin. Dia telah menelantarkan kami,” sambung si ibu.

Mendengar perkataan itu, Aslam berniat menegur si ibu dengan mengingatkan bahwa yang ada di hadapannya adalah sang Khalifah. Namun, Umar kemudian menahan Aslam, dan segera mengajaknya kembali ke Madinah sambil meneteskan air mata.
Sesampai di Madinah, tanpa beristirahat, Umar langsung mengambil sekarung gandum. Dipikulnya karung gandum itu untuk diserahkan kepada sang ibu.
Melihat Umar dalam kondisi letih, Aslam segera meminta agar gandum itu diangkatnya. “Sebaiknya aku saja yang membawa gandum itu, ya Amirul Mukminin,” kata dia.
Dengan nada keras, Umar menjawab, “Aslam, jangan kau jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau bisa menggantikanku mengangkat karung gandum ini, tetapi apakah kau mau memikul beban di pundakku ini kelak di Hari Pembalasan?”
Aslam pun tertegun mendengar jawaban itu. Dia tetap mendampingi Khalifah mengantarkan sekarung gandum itu kepada si ibu tua.

cerita diatas menjadi ibroh umat islam, teladan dari sang khalifah sahabat Rasulullah yang tanpa malu dan takut jabatannya rendah oleh kata “maaf” kepada seorang ibu tua karena sang khalifah tidak memenuhi haknya. Begitu besar jiwa sang khalifah umar hingga beliau dikenal sepanjang masa tentang kisah-kisahnya yang mengharukan, perhatian kepada umat menjadi karakter pribadinya.

Masihkah kita lihat pemimpin seperti Umar Ibn Khottob hari ini? tanpa ragu meminta “maaf” kepada umat walaupun bukan sepenuhnya kesalahan beliau. Mungkin perlu disadari secara pribadi manusia tidak akan menanggung kesalahan pihak lain, tapi jabatan yang melekat dipundaknyalah yang mengharuskan kita minta “maaf” atas setiap situasi. karena jabatannya sebagai pemimpin menaungi seluruh umat/rakyatnya. waallahu ‘alam bisshowab

India dan Penduduk Muslim Terbesar di Dunia

India dan Penduduk Muslim Terbesar di Dunia http://id.ucnews.ucweb.com/story/3135569238035137?lang=indonesian&channel_id=103&app=browser_iflow&uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvpfmt&ver=12.0.0.1088&sver=inapppatch3&entry=browser&entry1=shareback&entry2=page_share_btn&comment_stat=1 http://id.ucnews.ucweb.com/story/3135569238035137?lang=indonesian&channel_id=103&app=browser_iflow&uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvpfmt&ver=12.0.0.1088&sver=inapppatch3&entry=browser&entry1=shareback&entry2=page_share_btn&comment_stat=1

PERUBAHAN REDAKSI “MAKSUD DAN TUJUAN MUHAMMADIYAH” DARI WAKTU KE WAKTU

Oleh: Zaenal Arifin

Tujuan merupakan langkah pertama dalam membuat perencanaan sehingga dalam pelaksanaannya terarah sesuai dengan yang akan dicapai. Begitu pula dengan Muhammadiyah dalam merumuskan tujuannya disesuaikan dengan kondisi yang sedang berkembang saat itu. Sejak berdiri tahun 1912 sampai sekarang setidaknya menurut saya Muhammadiyah sudah mengganti redaksional tujuan sebanyak tujuh kali, lebih lengkapnya sebagai berikut:

Tujuan Muhammadiyah tahun 1330 H/1912 (Periode KH. A.Dahlan)

  • Menyebarkan pengajaran agama kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputera dalam residen Yogyakarta
  • Memajukan hal agama kepada anggota-anggotanya

Tujuan Muhammadiyah tahun 1914 (Periode KH. A.Dahlan)

Perubahan tujuan ini karena Muhammadiyah sudah mulai menyebar keluar daerah Yogyakarta, menurut KH Syujak rumusan Tujuan ini disusun oleh H. Agus Salim.

  • Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Netherland
  • Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidnya (anggota-anggotanya).

Tujuan Muhammadiyah masa penjajahan Jepang (Periode Ki Bagus Hadikusumo)

Sesuai dengan kepercayaan untuk mendirikan kemakmuran bersama seluruh asia timur raya dibawah pimpinan dai nippon dan memang diperintahkan oleh Tuhan Allah, maka perkumpulan ini:

  • Hendaklah menyiarkan agama Islam serta melatih hidup yang selaras dengan tuntunannya.
  • Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum.
  • Hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.

Tujuan Muhammadiyah masa kemerdekaan (Periode Ki Bagus Hadikusumo)

Maksud dan tujuan persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya

Tujuan Muhammadiyah tahun 1985 (Periode AR. Fakhruddin)

Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah SWT.

Tujuan Muhammadiyah tahun 2000 (Periode A.Syafi’i Ma’arif)

Menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam, sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang di ridhai Alllah Subhanahu wa ta’ala.

Tujuan Muhammadiyah tahun 2005 (Periode Din Syamsudin)

Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Kesimpulan

Demikian perubahan maksud dan tujuan Muhammadiyah dari awal berdiri sampai sekarang. Secara garis besar maksudnya sama meskipun redaksinya berbeda-beda, yaitu hendak menyiarkan agama Islam yang berwatak hidup menghidupkan, berwatak bergerak dan menggerakkan, berpedoman kepada al Qur’an dan Hadits, kepada seluruh masyarakat untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

 Tulisan ini diambil dari banyak sumber