MELURUSKAN PENGERTIAN RADIKAL

Akhir-akhir ini radikal menjadi pengertian yang cenderung negatif, radikal identik dengan kekerasan, teror, kasar dan hal negatif lainnya. Sebuah istilah yang netral bisa berubah konotasinya menjadi negatif jika istilah tersebut dikaitkan dengan hal-hal negatif. Kalau kita gali kata radikal dari sisi bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) radikal merupakan segala sesuatu yang sifatnya mendasar sampai keakar-akarnya atau sampai pada prinsipnya. Sebagai umat beragama berpikir radikal harus dimiliki dan menjadi pedoman dalam berkeyakinan, belajar agama harus menyeluruh tidak sepotong-sepotong, tidak hanya mengambil yang menguntungkan dan meninggalkan yang tidak menguntungkan bagi dirinya, karena ajaran agama tidak ada yang merugikan umatnya. Agama hadir sebagai aturan hidup sesuai dengan keyakinan yang dibawa oleh para utusan Allah.

Beberapa pengertian Radikal

Perasaan yang positif terhadap segala sesuatu yang bersifat ekstrem sampai keakar-akarnya. Sikap radikal akan mendorong individu untuk membela mengenai suatu kepercayaan, keyakinan, agama, atau ideologi yang dianutnya. (Salito wiryawan: 2012)

Proses berfikir secara komplek sampai keakar-akarnya, sampai kepada esensi, hakikat atau substansi yang dipikirkan. (Ali Mudhofir: 2001)

Dari pengertian diatas bisa kita garis bawahi bahwa radikal harus ada disetiap pemeluk agama, karena dengan radikal kita belajar agama dengan menyeluruh dan utuh. Orang yang bertindak menyimpang atau yang dikonotasikan negatif akhir-akhir ini bukan termasuk berfikir radikal tetapi orang yang belajar tentang agama tidak menyeluruh dan mendalam atau berfikir parsial.

Iklan

MASYARAKAT BELAJAR

Rangsangan belajar bisa tumbuh dimana saja, datang kapan saja, dengan siapa saja, tanpa mengenal ruang dan waktu, karena sejatinya tidak ada yang bisa menghalangi manusia untuk belajar. Setiap proses yang dialami manusia merupakan media yang tepat untuk membentuk kemampuan dan kapasitas diri dalam rangka meningkatkan derajat manusia sebagai satu-satunya makhluk yang berakal. Kesempurnaan manusia berada didalam pemanfaatan akal fikirannya, yang menunjukkan identitas dirinya sendiri. Dengan karakteristik masing-masing, dan sesuai dengan usianya, manusia dituntut untuk selalu menggali khazanah keilmuan untuk bekal dalam kehidupan sehari-hari, untuk kebahagiaan dunia dan akhirat Sebagaimana firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

Menumbuhkan Rasa Penasaran Dalam belajar.

Dalam proses belajar guru mempunyai tugas utama yaitu memberikan rangsangan yang mampu menghadirkan suasana belajar yang menyeluruh. Belajar seperti itu bisa dilakukan dengan melibatkan semua potensi yang dimiliki oleh siswa. Pelibatan ini merupakan hasil dari pengetahuan dan pemahaman guru dalam melihat karakteristik siswa, melalui perencanaaan yang matang, dituangkan dalam narasi yang mudah dipahami dan dilakukan, sehingga bisa menyesuaikan kondisi dimasing-masing keadaan, karena setiap siswa mempunyai model masing-masing dalam memahami proses belajarnya.

Metodologi pembelajaran yang mampu menumbuhkan rasa kepenasaranan inteletual, kreativitas, budaya disiplin dan bersih sangat dibutuhkan untuk pembentukan karakter generasi unggul masa depan. Sekenario pembelajaran tersebut melibatkan semua warga sekolah dan fasilitas sekolah, artinya disetiap sudut sekolah dan disetiap interaksi antar warga sekolah merupakan tempat yang nyaman dalam belajar. Sehingga dalam proses tersebut membutuhkan pemahaman guru tentang belajar yang luas, karena proses belajar tidak hanya dibatasi oleh ruang dan waktu, ini salah satu amanat UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan diperjelas dengan diimplementasikannya kurikulum 2013.

Menumbuhkan dan menyadarkan sekolah sebagai komunitas belajar sangat penting, penyemaian nilai kognitif, afektif dan psikomotorik menjadi tujuan utama dalam menghadirkan rasa penasaran dalam belajar. Harapan membentuk manusia berkepribadian unggul menjadi tanggung jawab seluruh warga sekolah, hal tersebut setidaknya dapat dilakukan dengan beberapa pemahaman diantaranya:

a. Menjadi guru sekaligus murid
Setiap warga sekolah harus bisa menjadi guru dalam menyebarkan ilmu yang dimilikinya, menjadi murid dengan menggunakan seluruh waktunya untuk belajar, baik di dalam maupun diluar kelas.
b. Setiap warga sekolah selalu meningkatkan kemampuan diri
Selama ini memahami aktivitas belajar masih sepihak, hanya untuk murid, padahal ilmu itu luas bahkan sampai akhir hayat pun manusia tidak bisa menguasai seluruh ilmu yang dikaruniakan Allah kepada hambanya. Singkatnya guru harus terus belajar!
c. Menjadi guru yang inklusif
Inklusif identik dengan keterbukaan, pola pikir dan pemahaman guru sangat berpengaruh dalam proses belajar. Guru yang kaya dengan alternatif pengetahuan menjadi modal utama pembelajaran. Kekayaan alternatif pengetahuan bisa terwujud dengan terbukanya wawasan yang tanpa batas.

Beberapa pemahaman tersebut setidaknya harus dimiliki oleh setiap warga sekolah, dengan semangat dan penuh tanggung jawab, belajar menjadi aktivitas yang menyenangkan. Bukan aktivitas yang membosankan bahkan melemahkan. Dengan ukhuwah yang bercita-cita kemajuan, maka sudah saatnya setiap warga sekolah menjadikan sekolah sebagai miniatur pembentukan peradaban unggul yang membawa kemashlahatan dan kemakmuran hakiki dunia dan akhirat.

TEMBAKAU: BARANG “HARAM” YANG DIPERSOALKAN (bagian 1)

Kisah menarik soal kretek, diceritakan Pramoedya Ananta Toer pada 1950-an, yang dikutip dari buku “Kretek Kajiian Ekonomi & Budaya 4 Kota”. Ketika Haji Agus Salim, negarawan yang saat itu menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia di Inggris, menghisap kreteknya di satu pertemuan diplomatik di Kota London. Aroma dari rokok tersebut memancing seorang diplomat barat bertanya tentang apa yang sedang dihisap oleh Agus Salim. Agus Salim pun menjawab “Inilah yang membuat nenek moyang Anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negeri kami”.
Tak bisa dipungkiri tembakau indonesia merupakan tembakau terbaik didunia. pada mulanya tembakau merupakan tumbuhan liar daerah pegunungan ditemanggung, pada kisah-kisah populer yang sampai pada zaman sekarang bahwa tembakau ditemukan oleh seorang kakek yang sedang melakukan pendakian di gunung sumbing, temanggung, jawa tengah. Singkat cerita sebelum sampai puncak kakek tersebut dengan terkejut bercampur kagum sambil berkata: iki tambaku, (inilah obatku). Kemudian kakek tadi mencabut tumbuhan liar tersebut yang belum dibudidayakan petani. Menurut cerita kata tambaku berubah bunyi menjadi tembako, kemudian orang jawa biasa menyebutnya mbako.

Dari dulu hingga sekarang tumbuhan tembakau tidak berubah, batang dan daun-daunnya masih seperti dulu. Batang dan daunnya mengandung sejenis bulu-bulu lembut, bila kita menyentuhnya dengan jari-jari tangan, dengan sentuhan sedikit ditekan, maka keluarlah sejenis cairan yang sedikit berlendir. Jika cairan itu dirasakan dengan lidah rasanya pahit, rasa pahit itu sejenis racun yang digunakan sebagai obat. Kelemahan leluhur kita itu belum membudayanya tulis menulis untuk merekam suatu aktivitas yang dikerjakan, sehingga generasi zaman sekarang blank atas apa yang menjadi temuan masa lampau tersebut.
Menurut Mohamad Sobary dalam esai-nya yang berjudul dongeng dari negeri tembakau, begitu suatu generasi berlalu, sebagian cara pengobatan dan jenis-jenis penyakit yang diobatinya ikut hilang tertiup badai perubahan. Modernisasi, kemajuan dan perkembangan zaman menelan apa saja yang tidak sejalan dengan semangat zaman itu. Tradisi dan segenap tata cara yang dimuliakan dimasa lalu juga ikut lenyap. Ini masalah kita bersama, masalah yang menjadi pro dan kontra dikalangan kelompok masyarakat agamis termasuk Muhammadiyah maupun pemerintah sebagai pengelola negara, yang masing-masing kalangan terkadang mempunyai tendensi yang sama.

Kajian keilmuan harus adil
Salah satu ormas yang sudah mengeluarkan fatwa haram adalah Muhammadiyah, melalui majelis tarjih dan tajdid sudah meningkatkan hukum merokok, yang sebelumnya hukumnya mubah sekarang menjadi haram. Dengan alasan yang diuraikan secara syar’i dengan dalil-dalil al qur’an dan sumber hukum lainnya. Fatwa haram rokok merupakan hasil ijtihad ulama’ muhammadiyah yang berlaku bagi warga muhammadiyah. Pada dasarnya ijtihad merupakan hasil pemikiran manusia, pemikiran manusia tidak bisa lepas dari kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok tertentu. Sehingga ijtihad tidak bisa mengikat tetapi lebih kepada pesan moral bagi setiap warga untuk menaatinya. Karena dikalangan warga Muhammadiyah sendiri menurut Abdul Munir Mulkhan dalam buku “Kiai Ahmad Dahlan jejak pembaharuan sosial dan kemanusiaan” menyebutkan bahwa warga muhamamdiyah terdiri dari 4 tipe, disini hanya akan disebutkan 2 tipe saja; pertama, tipe al Ikhlas, ialah warga yang tarjih minded, yang berorientasi pada hukum fikih yang hitam putih. Kedua, tipe kiai Dahlan, yaitu warga yang menempatkan tarjih sebagai norma ideal, mengajak orang lain untuk memenuhinya dengan mauidhoh khasanah. Walaupun Fatwa – fatwa masing-masing kelompok keagamaan tersebut merupakan tinjauan dari sisi keagamaan berdasarkan dalil yang rigid. Tetapi, apakah para ahli agama, kesehatan dan pemerintah sudah melakukan kajian keilmuan tentang sisi lain dari rokok, selain sisi negatif yang disuarakan. Inilah pertanyaan yang wajib dijawab oleh pengampu masing-masing elemen masyarakat tersebut dan juga pemerintah. Jangan sampai prinsip yang dipegang bukan prinsip jatidiri bangsa indonesia tapi prinsip dan jatidiri pihak lain dan bangsa asing, yang mempunyai agenda besar tersendiri terkait regulasi tembakau di dunia. Sehingga demi kebenaran yang bisa dipercaya dalam mengkaji suatu masalah harus mengedepankan keadilan, sebagai jalan menuju peradaban yang unggul.

Mengedepankan Kejujuran
Kejujuran aspek penting dalam hidup kaum terpelajar yang bergulat di dunia ilmu untuk mencari kebenaran, mereka dalam tradisi minang dihirmati dengan ungkapan; selangkah didahulukan, seranting ditinggikan. Dalam melakukan kajian keilmuan ada kaidah-kaidah yang harus dipegang teguh oleh mereka, yang menyangkut bukan hanya dunia ilmu, tetapi juga dunia rohani, yang keduanya mempunyai hubungan erat dengan Allah, Tuhan semesta alam. Kemudian, akhirnya ilmuan tidak bisa dilepaskan dari etika profesi, yaitu seorang ilmuan apapun tidak boleh berbohong. Tugas ilmuan adalam mencari kebenaran, kebenaran tersebut tidak bisa dirubah menjadi keputusan/fatwa politis, karena kebenaran apa saja ada pada wilayah ketuhanan yang manusia sedikitpun tidak bisa mempengaruhinya. Pendeknya, para ilmuan apapun boleh melakukan kesalahan, tetapi tidak boleh bohong, apalagi sampai memperjual belikan keilmuannya demi satu tujuan duniawi sesaat.

POLITIK KEBANGSAAN MUHAMMADIYAH (Sebuah Konsep)

Bingkai besar politik kebangsaan Muhammadiyah bisa dibaca dalam gagasan Kyai Ahmad Dahlan, dalam pidato di kongres bulan desember 1922, Kyai Dahlan menyatakan: kebanyakan pemimpin – pemimpin belum menuju baik dan enaknya segala manusia, baru memerlukan kaumnya (golongannya) sendiri, lebih-lebih ada yang hanya memerlukan badannya sendiri saja, kaumnya pun tiada diperdulikan. Jika badannya sendiri sudah mendapat kesenangan, pada perasaannya sudah berpahala, sudah dapat sampai maksudnya.

Politik kebangsaan adalah tindakan Muhamamdiyah berupa gagasan atau aksi konkrit dalam mempengaruhi pengambil kebijakan dan kekuatan politik yang ada bagi peningkatan kesejahteraan hidup manusia, sebagai warga bangsa atau warga dunia tanpa memandang agama dan etnis. Karena itu pucuk pimpinan Muhamamdiyah perlu menguasai dan menyadari politik kebangsaan, tetapi menjauhkan diri dari pelibatan diri dari permainan politik kekuasaan, sehingga bisa didengar para pihak karena dipercaya tidak memiliki agenda politik praktis. Muhammadiyah bisa membagi kader aktivisnya secara profesional dalam tiga belahan besar;
(1) kader gerakan dakwah sosial (ekonomi),
(2) kader dakwah budaya,
(3) kader dakwah politik praktis.

Gagasan dakwah politik kebangsaan bisa dilihat dari beberapa dokumen, diantaranya:
(1) dalam penjelasan pedoman untuk memahami MKCHM (tanwir ponorogo 1969) dinayatakan fungsi dan misi gerakan Muhammadiyah: Muhammadiyah menyadari kewajibannya: berjuang dan mengajak segenap golongan dan lapisan bangsa indonesia, untuk mengatur dan membangun Tanah Air dan Negara Republik Indonesia, sehingga merupakan masyarakat dan negara adil dan makmur, sejahtera bahagia, materiil dan spirituil yang diridhoi Allah SWT.
(2) keputusan muktamar 38 (1971) ujung pandang menyebutkan: Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar yang berkesanggupan menyampaikan ajaran islam…kepada semua golongan dan lapisan masyarakat dalam seluruh aspek kehidupannya sebagai kebenaran dan hal yang diperlukan. Berdasar kebijakan:
(a) diberikan secara positif dan sederhana;
(b) bersifat memberi kemudahan, tidak mempersukar;
(c) bersifat menggembirakan, tidak membuat jauh orang dari islam;
(d) secara berangsur-angsur;
(e) menghilangkan kesempitan;
(f) dengan integrasi dalam masyarakat;
(g) menonjolkan islam dengan menghindari masalah khilafiyah;
(h) tidak melibatkan diri dalam perjuangan politik;
(i) mengindahkan peraturan-peraturan pemerintah.

Sasarannya meliputi:
(a) seluruh penduduk negara indonesia merata ke segenap golongan dan lapisan;
(b) tidak mengkotak-kotak masyarakat atas dasar paham, aliran, golongan dan sebagainya;
(c) memandang manusia/masyarakat ada dua macam:
Pertama: yang belum mau menerima agama Islam disebut dengan umat dakwah, supaya masuk islam
Kedua; yang sudah mau menerima agama islam disebut umat ijabah, dipelihara, disempurnakan dan dimurnikan agamanya.

Materi dakwah meliputi:
(a) Mahasinul Islam (kebenaran Islam) dalam segala aspeknya
(b) Perbandingan agama

Metodenya:
(a) Menggunakan sistem jamaah, ialah ikatan sekolompok rumah tangga/ keluarga, dengan inti dan pimpinan sekelompok anggota Muhammadiyah diranting-ranting), dengan menitikberatkan pada pembinaan keluarga sejahtera, dimulai dari keluarga Muhammadiyah itu sendiri
(b) Menggunakan metode integrasi, menjadikan kehidupan pribadi dan keluarga Muhammadiyah sebagai uswatun hasanah, menjadikan masjid/langgar sebagai pusat kegiatan.

Dirangkum dari buku “Jejak Pembaharuan dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan” karya Abdul Munir Mulkhan

JAUHI KEBIASAAN KEPITING DARI KITA

Kepiting adalah hewan yang pertahanan dirinya cukup kuat. Capit seekor kepiting mampu menghancurkan dan memotong musuh-musuhnya, bahkan bisa merusak batu kapur tertentu. Tentu capit ini akan mudah memotong anyaman bambu yang menjadi alat nelayan menangkap kepiting. Tetapi kenapa jebakan untuk kepiting selalu berhasil? Ternyata rahasianya adalah dua kesalahan kepiting itu sendiri. Kesalahan pertama, kepiting suka mengikuti kepiting lain, jadi kalau ada kepiting mendekati sunber makanan, yang lain akan mengikutinya. Kalau ada kepiting yang masuk ke jebakan, yang lain juga akan ikut. Kesalahan kedua, kepiting tidak bisa bekerja sama. Sebenarnya Seekor kepiting yang masuk jebakan akan mudah menghancurkan jebakannya. Tetapi, ketika mereka lebih dari satu, mereka akan diam menunggu. Kalau ada salah satu kepiting yang mencoba untuk keluar dari jebakan, yang lain akan menyeretnya, kalau dia nekat keluar, yang lain bahkan menyerangnya. Mereka akan tetap dijebakan itu bersama sampai dipanen oleh sang nelayan.

Dari cerita kepiting tersebut dapat kita ambil pelajaran, pertama, bahwa hidup kita jangan hanya sekedar ikut-ikutan, dalam agama disebut dengan taklid. Dalam kamus besar bahasa indonesia taklid artinya keyakinan atau kepercayaan kepada suatu paham (pendapat) ahli hukum yang sudah-sudah tanpa mengetahui dasar atau alasannya. Oleh karena itu sebagai makhluk yang sudah dikaruniai akal maka sebaiknya perilaku seperti itu dijauhi. Kedua, jangan merespon negatif ide atau gagasan orang lain. Tetapi sebaliknya belajarlah bekerja sama dengan kekuatan masing-masing untuk mengalahkan tantangan dan problema yang sedang dihadapi.

DAKWAH PRODUKTIF: SOLUSI PEMBERDAYAAN UMAT

Akhir-akhir ini terjadi pergeseran siar islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, dakwah verbal menjadi metode yang digandrungi oleh para pendakwah. Begitu banyaknya tabligh akbar, kajian rutin yang diadakan oleh kelompok islam sebagai program utama dari kerja-kerja organisasi. Bahkan kegiatan-kegiatan tersebut menjadi indikator hidup dan matinya sebuah gerakan keagamaan. Kalau kita menilik islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam, maka metode dakwah islam tidak hanya berhenti dengan dakwah verbal tetapi didorong menjadi sebuah aksi nyata yang membawa perubahan bagi diri dan lingkungannya. KH Ahmad Dahlan memberikan teladan kepada umat islam untuk menyatukan Tauhid, Ilmu dan amal, sebagai generasi awal Muhammadiyah sekaligus pendiri Muhammadiyah beliau mempraktikkannya dalam mengkaji Qs Al Maun ayat 1-7, mengkaji kemudian memahami dan mempraktikkan menjadi warna lain dalam dakwah islam pada saat itu. Sehingga korelasi Tauhid, Ilmu dan amal sangat kuat kalau dilihat dengan Berkembangnya amal usaha muhammadiyah saat ini, tidak lepas dari metode dakwah yang dikembangkan oleh KH Ahmad Dahlan.

Islam, agama Rahmatan lil ‘alamin

Dalam surat al anbiya ayat 107 Allah berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam

Dalam ayat tersebut diatas dapat diambil pelajaran, bahwa islam merupakan agama aksi nyata yang ketinggian spiritual seseorang akan diikuti dengan kebermanfaatan terhadap diri dan lingkungan, sehingga islam benar-benar memberikan solusi untuk permasalahan umat manusia. Maka dari itu siar islam harus bergeser dari Verbal ke produktif atau aksi nyata, dari ilmu menuju amal.

Dakwah produktif solusi masalah umat

Apa itu dakwah produktif? Dakwah produktif disini yang dimaksud yaitu dakwah yang berpegang pada landasan ilmu dan amal, seperti yang diteladankan oleh Nabi Muhamamad SAW dan KH Ahmad Dahlan pada awal abad 20 saat mendirikan Muhammadiyah. Amal sholeh pendidikan, sosial dan ekonomi sebagai salah satu wujud peranan umat islam umumnya dan muhammadiyah khususnya untuk bermanfaat bagi semua makhluk. Kajian – kajian keagamaan progresif menjadi kebutuhan primer saat ini seiring berkembangnya dakwah verbal yang sudah usang.

Seandainya islam diartikan sebagai gerakan, maka tidak akan dijumpai kemandekan dalam berfikir umat islam, karena dakwah islam akan terus dinamis seiring dengan tantangan yang dihadapi. Permasalahan yang yang dihadapi umat saat ini yaitu lemahnya ekonomi, ada ungkapan kefakiran mendekatkan pada kekufuran. Fakta ini harus dihadapi dengan metode dakwah produktif, dakwah yang memberikan solusi untuk pemberdayaan ekonomi umat, bukan dakwah verbal yang kehilangan arah sehingga kurang bermakna untuk umat kekinian.

Dakwah produktif dengan program produktif

Banyak contoh yang bisa dipakai sebagai program produktif, dimana islam mempunyai konsep dalam mensucikan jiwa dan harta dengan zakat, infaq dan shodaqoh (ZIS). Dalam hal ini dalam pengumpulan zakat, infaq dan shodaqoh tersebut dalam islam sudah terlembaga, misalnya di Muhamamdiyah ada LAZISMU. ZIS menjadi ujung tombak dakwah islam dengan program produktif yang mencerahkan. Selain program konsumtif yang sudah berjalan, program produktif pun harus banyak di semai untuk kesejahteraan umat. Baik dengan program bantuan kambing untuk keluarga miskin maupun bantuan modal usaha yang terarah dan terkontrol. Dari segi kemanfaatan program produk mempunyai kemanfaatan jangka panjang dibandingkan program konsumtif, oleh karena itu para mubaligh mubalighot harus merubah kerangka dakwah untuk umat demi terciptanya kondisi adil makmur yang merata, untuk mencari keridhaan Allah SWT.

Oleh sebab itu keberanian dan kemampuan untuk bergeser dari verbal ke aksi nyata adalah keharusan demi umat islam jaya lahir batin. Waallahu ‘alam

FENOMENA NGGABRUL DI SEKOLAH

Nggabrul dalam bahasa indonesia artinya menipu, istilah ini sangat populer di kalangan anak muda khususnya pelajar dan mahasiswa dalam hal makanan, misal “makan tempe lima tapi bilangnya ke penjual hanya makan dua”. Fenomena nggabrul sudah lama ada, dari cerita yang penulis temukan sejak tahun 1970-an sudah ada perilaku nggabrul tersebut, pelakunya tidak jauh dari pelajar dan mahasiswa yang notabene sedang menuntut ilmu. Ternyata di Zaman sekarang tidak jauh beda pula, bahkan semakin memprihatinkan. Sebuah data menyebutkan dimana ada kantin disitu terjadi pe-nggabrul-an, data yang diperoleh dari wawancara langsung dengan pelaku di sekolah. Kemudian diperkuat dengan cerita yang menggelitik dan sekaligus memprihatinkan, Dalam suatu hari seorang guru bertanya kepada siswanya dalam satu kelas “siapa dikelas ini yang belum pernah nggabrul?” tidak satupun yang angkat tangan. Dengan berbagai macam alasan dan cara nggabrul yang mereka ungkapkan, mengapa melakukan penipuan (nggabrul) itu. Kalau dilihat dari latar belakang ekonomi keluarga, tidak semua yang nggabrul itu dari keluarga tidak mampu, bahkan ada sebagian berasal dari keluarga mampu secara ekonomi dilihat dari pekerjaan orang tuanya. bisakah kita memotong mata rantai pe-nggabrul-an tersebut?

Perilaku nggabrul kurang menjadi perhatian dan tidak menarik untuk di bahas oleh pendidik/guru, bahkan bisa jadi hal ini dianggap masalah sepele/ringan yang tidak berpengaruh terhadap masa depan meraka sendiri, bangsa dan negaranya. bahkan ada kemungkinan dari sekian pendidik disekolah ada yang tidak tahu fenomena tersebut. Sehingga lewat tulisan ringan ini penulis menginformasikan untuk menjadi pengetahuan, lebih-lebih muncul tanggung jawab untuk mengobatinya.

Alasan mereka nggabrul
Dari perhatian penulis, siswa nggabrul karena beberapa sebab, yang bisa diklasifikasikan menjadi tiga garis besar, sebagai berikut:

a) Nggabrul merupakan kebanggaan diri dihadapan teman-temannya, semakin banyak dia nggabrul semakin disegani, dengan alasan dia bisa nggabrul lebih dari yang lain.
b) Nggabrul karena dorongan lingkungan, kalau tidak mengikuti arus maka akan sendirian dan hubungan personal akan bermasalah. Nggabrul adalah tren.
c) Nggabrul karena uang saku hanya bisa untuk ongkos transportasi, beli bahan bakar untuk yang naik sepeda motor atau bayar naik angkutan umum.

Tiga klasifikasi diatas tidak paten, karena masih banyak sejuta alasan mereka melakukan tabiat buruk tersebut. Ingat Kata bang napi “Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah, waspadalah!!!”
Terlepas niat dari pelaku atau karena kesempatan, yang pasti nggabrul adalah penyakit yang harus segera diobati. Bagaimana mengobatinya?

Mengapa nggabrul harus diobati?
Siapa menanam mengetam, sopo nandur bakal ngunduh kalimat masyhur yang sering di dengar. Perilaku buruk jangan sampai terjadi berulang-ulang, menurut Felix siauw kejadian berulang-ulang sampai pada pengulangan 10.000 kali akan menjadi kebiasaan atau budaya, sehingga beban tanggung jawab pendidik semakin berat. Kalau hanya menciptakan orang-orang cerdas yang gersang dari nilai-nilai religius maka pendidik termasuk gagal mendidik, karena tidak mampu menghidupkan dan memberdayakan dua potensi yang ada yaitu akal dan hati. Kebiasaan menipu pada saatnya nanti akan menjadi tabiat yang selalu melekat pada manusia, saat pelajar sering menipu hitungan, saat bekerja nanti bisa jadi menipu pula, jadi pejabat cenderung korup juga, inilah alasan mengapa pendidik harus menghentikan investasi keburukan sebisa dan semampunya.

Memutus mata rantai nggabrul
Mata rantai nggabrul bisa di putus, pertama, dengan menghidupkan sisi ruhani, dimulai dari menghadirkan sikap spiritual dan sosial dengan penuh kesungguhan, dalam kurikulum 2013 sikap spiritual itu penilaian terhadap peserta didik berkaitan dengan iman dan taqwa, sedangkan sikap sosial penilaian terhadap pembentukan sikap peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokrasi dan bertanggung jawab. Dari dua sikap ini ketika di lakukan dengan serius dan istiqomah dengan ijin Allah perilaku nggabrul bisa diobati. Yang kedua, keteladanan dari pendidik atau guru, dalam ilmu dakwah keteladanan merupakan cara yang paling efektif untuk mengajak umatnya. Dakwah akan berhasil jikalau sang penyampai sudah melakukan atau sedang proses melakukan, sehingga ucapan-ucapannya memang benar-benar dari hati dan akan diterima oleh hati juga. Maka pendidik/guru harus memiliki hati yang bersih dan perilaku yang penuh dengan nilai-nilai kemulian akhlak. Dengan menjadikan islam sebagai identitas manusia insha Allah apa yang diusahakan mendapatkan Ridho Allah SWT.

Dengan penuh kesabaran dan kesungguhan dan penuh harap untuk generasi yang akan datang lebih baik dari generasi saat ini. Generasi yang akan berguna bagi islam, bangsa dan negara. Meminjam istilah dalam persyarikatan marilah ciptakan kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa, semoga Allah meridhoi perjuangan dan menjadikan amal kebaikan yang bisa menjadi bekal mati. Semoga apa yang kami tulis menjadi renungan dan perhatian kita bersama, demi terciptanya generasi robbani yang siap membangun peradaban.