SEBUAH RENUNGAN TENTANG ADAB

“Barang siapa yang tidak ada adab, berarti dia tidak ada ilmu”
(Hasan Hasbi)

Bermuhammadiyah adalah berserikat (berorganisasi), dalam pengertian umum berMuhammadiyah merupakan kumpulan orang yang berserikat dalam rangka meraih tujuan bersama, berserikat dalam Muhammadiyah berarti berkumpul untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Dalam rangka meraih tujuan bersama itu, bisa dilakukan dengan gerakan, setiap gerakan harus ada kepemimpinan dan setiap kepemimpinan harus ada ketaatan, dan ketaatan ada karena akhlak/ adab. Nah, termyata adab menjadi salah satu hal yang penting dalam persyarikatan Muhammadiyah, selain Aqidah, ibadah dan muamalah.

Pengertian Adab
Adab menurut bahasa ialah kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti, akhlak. Menurut istilah, adab ialah: “Adab ialah suatu ibarat tentang pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah”. Seseorang akan menjadi orang yang beradab dengan baik apabila ia mampu menempatkan dirinya pada sifat kehambaan yang hakiki seperti yang dimilik Rasulullah saw. Secara utuh dan sempurna. Oleh sebab itu Allah swt. memuji beliau dengan firman-Nya yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.

Kalau kita tarik adab dalam Muhammadiyah maka akan muncul banyak aspek, salah satunya aspek ketaatan kepada pimpinan sebagai penjabaran dari prinsip kolektif kolegial yang bisa terwujud dengan musyawarah. Tapi Akhir-akhir ini muncul sifat one man show dari oknum pimpinan. Sifat ini muncul karena hasrat pribadi yang begitu besar untuk berkuasa dan menguasai, oknum seperti ini tidak sadar bahwa muhammadiyah mempunyai tata aturan baik vertikal maupun horisontal dalam bergerak. Ketua tetap menjadi koordinator pimpinan dalam rangka menjalankan putusan musyawarah tertinggi di masing-masing tingkatan, sebagai hasil dari sidang formatur. Dalam sidang tersebut formatur bertugas menyusun kepengurusan, mulai dari ketua umum sampai majelis. Ketua sebagai koordinator pinpinan menjadi sakral, karena setiap pimpinan menjadi partner yang mempunyai niatan sama dan bersama-sama untuk mencapai tujuan muhammadiyah bersama-sama pula.

Adab Pimpinan Muhammadiyah terhadap ketua sebagai koordinator pimpinan
Melihat kecenderungan pimpinan saat ini mulai munculnya sifat kuasa tanpa tau tata aturan yang didorong dari tidak adanya adab sangat mengkhawatirkan. Gerakan Muhammadiyah menjadi hilang karakter kolektif kolegialnya yang menjadi pembeda dengan kelompok lain. Ketua sebagai pemimpin dari semua pimpinan harus di hormati bukan hanya sebagai simbol belaka, tapi juga sebagai legalitas gerakan. Kalau setiap pimpinan menyadari bahwa ketua sebagai pemimpin semua pimpinan maka seharusnya adab terhadap ketua harus di kedepankan. Bukan berjalan sendiri tanpa mengikuti jalur persyarikatan yang telah ditetapkan. Ketiadaan adab pimpinan terhadap ketua akan memunculkan kebijakan kembar yang memprihatinkan, dan hal ini akan menjadikan persyarikatan sebagai korban. Mengapa menjadi korban? Karena muhammadiyah hanya dijadikan oknum pimpinan untuk melakukan one man show demi tercapainya hasrat berkuasa secara pribadi yang sudah naik ke ubun-ubun. Berikut ini beberapa adab pimpinan dalam berMuhammadiyah:
1. Menyadari bahwa Ikhlas berjuang menjadi identitas
2. Menyadari Setiap berjuang harus menjauhi sisipan duniawi dan materi
3. Menyadari bahwa ketua sebagai koordinator pimpinan
4. Menyadari keputusan yang menyangkut kebijakan terkait dan membawa nama persyarikatan harus melibatkan ketua baik sebagai simbol dan atau fungsinya sebagai koordinator

Dari empat adab diatas yang tertulis bisa dijadikan renungan dan koreksi bersama supaya pergerakan persyarikatan ini tetap eksis dan sesuai aturan, untuk mencapai tujuan bersama yaitu terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Waallahu a’lam bishowab

Zaenal Arifin

Iklan

KODE ETIK GURU MUHAMMADIYAH

1. Berkepribadian Muhammadiyah
2. Menaati peraturan di Persyarikatan dan kedinasan
3. Menjaga nama baik persyarikatan
4. Berpartisipasi aktif dalam persyarikatan
5. Melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab
6. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat
7. Menaati jam kerja
8. Menciptakan suasana kerja yang harmonis dan kondusif
9. Melaporkan kepada atasan, apabila ada yang merugikan persyarikatan
10. Menggunakan aset Muhamamadiyah secara bertanggung jawab
11. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya sesuai tugas masing-masing
12. Bersikap tegas adil dan bijaksana
13. Membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas
14. Menjadi suri tauladan
15. Meningkatkan prestasi dan karir
16. Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
17. Berpakaian rapi dan sopan, serta sikap dan berperilaku santun
18. Menciptakan kawasan tanpa rokok dilingkungan pendidikan

(sumber: draf dikdasmen pp Muhammadiyah)

Kurikulum 2013 ISMUBA 

Pada tahun 2017 ini mata pelajaran ciri khusus ISMUBA (al Islam, kemuhammadiyahan dan bahasa Arab) di Sekolah Muhammadiyah mempunyai kurikulum 2013 ISMUBA. Sebagai penyelarasan dengan kurikulum dinas pendidikan dan kementerian agama. Kurikulum 2013 ISMUBA bisa download dibawah ini 👇

https://drive.google.com/drive/folders/0Bxf5GRcs7wu1czhFQmZJWDAwV0k?usp=sharing

MENYATUKAN ILMU DAN AMAL

Apa tujuan kalian sekolah? pertanyaan pembuka pembelajaran yang setiap hari saya ajukan kepada siswa. Pertanyaan sederhana, yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk mendapatkan jawaban yang menyentuh hakikat pendidikan. Saya mencoba mendengarkan setiap jawaban dari siswa dengan sungguh-sungguh, supaya bisa mengetahui harapan dan keinginan mereka, sehingga saya bisa menentukan langkah maksimal dalam pemenuhan hak siswa dan memenuhi janji saya sebagai guru. Setelah saya cermati dari setiap jawaban, kemudian saya membuat simpulan sendiri tentang jawaban itu, ternyata tujuan siswa sekolah baru sebatas tujuan kognitif semata, tidak ada satupun jawaban yang menyentuh ranah afektif dan psikomotorik. Umpan balik secara umum saya sampaikan, dengan menyampaikan ungkapan pembenaran yang terjadi dalam realitas sosial. Ungkapan membenarkan realitas itu saya mulai dengan mengajukan pertanyaan lagi kepada siswa sebagai penegas realitas sosial. Berapa tahun kalian sekolah dari SD sampai sekarang? Pertanyaan ini muncul untuk merefleksikan waktu yang sudah dilalui siswa di bangku sekolah dalam pendidikan. Setiap siswa menjawab pertanyaan itu, Kemudian saya lanjut bertanya apakah kita sudah bisa buang sampah ditempat sampah? Sudahkah kita membiasakan antri? Sudahkah kita bisa hidup semakin manusiawi dengan ilmu yang dimiliki? Dimulai dari pertanyaan saya yang cukup membuat siswa berfikir itu, bermaksud untuk memberikan umpan balik terkait tujuan pendidikan. Sekolah merupakan salah satu instrumen pendidikan, disamping instrumen-instrumen lain yang bisa seiring sejalan dalam pemenuhan fungsi, tujuan dan hakikat pendidikan.

Implementasi lahir batin kurikulum 2013 menjadi pelepas dahaga untuk pendidikan yang manusiawi. Kurikulum yang mengakomodir sisi sikap sebagai piranti penting dalam kehidupan, baik sikap spiritual maupun sosial. Sekarang Pendidikan yang mengkerdilkan kedewasaan sikap dan berfikir harus di rubah, dimulai dari merubah paradigma pendidik tentang pendidikan. Meninggalkan pendidikan tradisional (menghafal) merupakan keniscayaan. Paoulo Freire mengatakan bahwa pendidikan merupakan aktivitas penyadaran, penyadaran bukan hanya berhenti pada refleksi tetapi penyadaran harus sampai pada aksi. Pendidikan merupakan aktivitas manusia untuk bisa melakukan, bukan hanya berhenti pada bisa mengerjakan. Aktivitas “melakukan” merupakan rangkaian yang bersandar pada pengetahuan dan kemauan/sikap yang hadir dalam jasmani serta ruhani setiap manusia berakal, karena dari situlah manusia dikatakan sebagai insan yang sempurna dalam hal pengetahuan. Dalam konsep islam ada landasan normatif dari hadits Nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, memberikan arahan kepada setiap manusia untuk selalu berilmu dan beramal. Ilmu dan amal merupakan satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain tetapi satu kesatuan yang terus bergandengan.

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً 

Artinya: Sampaikanlah olehmu sekalian dariku meski hanya satu ayat (al Qur’an)

Dari pemahaman diatas kita semakin optimis tentang pendidikan yang humanis, pendidikan yang jauh dari sifat keangkuhan intelektual, kedunguan dan kebutaan ilmu, karena pada hakikatnya ilmu selalu memberikan kemanfaatan bagi tiap sisi kehidupan, baik privat maupun publik. Pendidikan humanis akan tercipta ketika ruang dialog terbuka, dialog akan menumbuhkan sikap kritis untuk membuka ruang baru yang bernama kedewasaan. Sebagaimana menurut kamus besar bahasa Indonesia, pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran dan pelatihan. Inti dari dialog adalah kata, kata mengandung dua dimensi, dimensi refleksi dan dimensi aksi. Kata tanpa refleksi hanya akan menciptakan aktivisme hampa tanpa arah sedangkan kata tanpa aksi hanya menjadi verbal tanpa makna. 

Penulis Zaenal Arifin