MENEMPATKAN BID’AH PADA TEMPATNYA (tanggapan untuk kaum “salaf”) 

Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sedangkan Definisi bid’ah secara istilah dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al Itishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah: Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Definisi di atas adalah definisi bid’ah hanya untuk ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat atau kebiasaan. 

Dalam kerangka keberagamaan di indonesia, bid’ah menjadi satu bahasan yang debatebel. Perdebatan yang tidak pernah selesai, karena masing-masing individu mempunyai penafsiran yang berbeda – beda. Sehingga kita sebagai umat islam harus mempunyai pandangan/pemahaman bid’ah yang luas, untuk meminimalisir perdebatan yang semakin memperlemah persatuan umat islam (ukhuwah islamiyah). 

Dalam pengertian bid’ah seperti yang di kemukakan oleh Imam assyatibi bid’ah merupakan suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat menyerupai syari’at. Menurut beliau Jelas sekali bahwa bid’ah itu hanya khusus dalam hal ibadah, sedangkan masalah adat/kebiasaan tidak berlaku dan tidak termasuk bid’ah. 

Dalam menentukan bulan baru hijriyah Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan), Termasuk dalam penentuan 1 Romadhon dan 1 Syawal. Hal ini ternyata membuat pandangan yang beragam, ada pandangan yang menyatakan bahwa menggunakan hisab dalam menentukan 1 Romadhon dan 1 syawal adalah bid’ah, sehingga menurut pernyataan tersebut Muhammadiyah sudah melakukan bid’ah. 

Marilah kita jernihkan akal untuk mengkaji apakah metode hisab itu bid’ah, kalau kita kembali kepada definisi bid’ah menurut Imam Asy Syatibi, bahwa bid’ah itu hanya khusus dalam hal ibadah. Sekarang pertanyaannya, apakah menentukan 1 Romadhon dan 1 syawal itu bagian dari ibadah? Inilah kejernihan akal yang saya maksud dalam melihat masalah hingga keakar-akarnya. Saya akan membuat analogi semisalnya memakai baju/gamis, peci/kopyah, membangun masjid dengan beragam arsitekturnya itu bukan ibadah tetapi alat untuk ibadah. Nah semakin jelas dengan permisalan tersebut, maka bisa di jelaskan juga bahwa hisab (perhitungan) itu bukan ibadah tetapi alat untuk menjalankan ibadah. Karena hisab (perhitungan) bukan termasuk ibadah, tapi hanya sebatas alat untuk menjalankan ibadah maka metode hisab (perhitungan) untuk menentukan 1 Romadhon dan 1 syawal itu bukan bid’ah. 

Apakah ibadah itu? 

Ibadah secara bahasa adalah tunduk atau merendahkan diri. Sedangkan secara istilah atau syara’, ibadah merupakan suatu ketaatan yang dilakukan dan dilaksanakan sesuai perintah-Nya, merendahkan diri kepada Allah SWT dengan kecintaan yang sangat tinggi dan mencakup atas segala apa yang Allah ridhai baik yang berupa ucapan atau perkataan maupun perbuatan yang dhahir ataupun bathin. Adapun ibadah terbagi tiga yaitu ibadah hati, ibadah lisan dan ibadah anggota badan atau perbuatan.

  1. Ibadah hati (qalbiah) antara lain: memiliki rasa takut, rasa cinta (mahabbah), mengharap (raja’), senang (raghbah), ikhlas, tawakkal.
  2. Ibadah lisan & hati (lisaniyah wa qalbiyah) antara lain: dzikir, tasbih, tahlil, tahmid, takbir, syukur, berdoa, membaca ayat Al-qur’an.
  3. Ibadah perbuatan fisik dan hati (badaniyah wa qalbiyah) antara lain: sholat, zakat, haji, berjihad, berpuasa. 

Membedakan wilayah ibadah dengan alatnya ibadah memang sangat penting, supaya dalam kehidupan ibadah kita juga tepat sasaran. 

Landasan Metode Hisab

  • هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ 

 Artinya, Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)

  • يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والح

Artinya, Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. (QS. al-Baqarah: 189).

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan supaya kita mengetahui waktu (bulan) dan tahun sedangkan matahari agar kita mengetahui waktu (hari) dan jam. Secara explisit dua ayat di atas juga mengandung pelajaran disyariatkannya mempelajari ilmu falak (astronomi) atau ilmu hisab untuk mengetahui waktu-waktu shalat, puasa, haji dan lainnya yang bermanfa’at bagi kaum Muslimin.

  • قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنّا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب، الشهر هكذا وهكذا يعنى مرة تسعة وعشرون ومرة ثلاثون 

Rasulallah Saw bersabda Kita adalah umat buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pandai berhitung, sebulan itu adalah sekian dan sekian (maksudnya kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari) (HR. Al Bukhari)

Dari hadits diatas dapat kita pahami bahwa Rasulallah dan para sahabat tidak mempergunakan hisab sebagai dasar untuk memulai dan mengakhiri puasa, karena pada waktu itu ilmu hisab belum berkembang, orang – orang Arab masih dalam keadaan buta huruf, sehingga cara yang paling mudah dilakukan waktu itu dengan melihat bulan.

عن بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم إنما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له 

Dari Ibnu Umar ra berkata, Rasulallah Saw bersabda “sesungguhnya sebulan itu lamanya 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa sehingga melihat hilal, dan janganlah kalian berlebaran sehingga melihat hilal, maka apabila hilal tertutup oleh awan sehingga kalian tidak dapat melihatnya, maka perkirakanlah untuknya. (HR. Muslim)

Lafazh فاقدروا له pada hadits di atas memiliki arti maka kira-kirakanlah dengan ilmu hisab atau hisablah dengan hisabul manzilah (hitunglah dengan perjalanan bulan), dengan demikian maksud hadits di atas memberi pengertian bahwa selain dengan rukyat, awal dan akhir Ramadhan dapat ditetapkan dengan dan perkiraan ilmu hisab yakni dengan menghitung peredaran bulan.

Inilah kiranya penjelasan dari pribadi saya tentang bid’ah, dan berdasar kutipan-kutipan dalil yang shahih dari berbagai sumber yang valid dan pengetahuan yang saya miliki, sangat kaku dan kurang luas pandangannya kalau ada yang berpendapat bahwa hisab itu termasuk bid’ah. 

GERAKAN PENCERAHAN MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah dalam sejarahnya merupakan produk perjuangan pergerakan kemerdekaan, didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 yang bercita-cita mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Keadaaan Muhammadiyah sekarang merupakan cerminan dari awal Muhammadiyah berdiri. Gerakan sosial menjadi Dasar dari dakwahnya, dengan berpedoman pada Qs al maun ayat 1-7, dan Kader – Kader Muhammadiyah mengaplikasikannya dalam realita kehidupan.

Muhammadiyah juga disebut Persyarikatan

Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia (KBBI) Persyarikatan berasal dari kata syarikat/sya·ri·kat/ yang artinya: sekutu; perhimpunan; perkumpulan; serikat, oleh Karenanya penyebutan Persyarikatan merupakan pengejawantahan dari sebuah gerakan dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar yang mempunyai gerakan seimbang. Di dalam kata Persyarikatan mengandung makna kolektif kolegial artinya setiap kebijakan Muhammadiyah merupakan Hasil musyawarah seluruh pimpinan, bukan keputusan orang perorang. Inilah kelebihan dan keutamaan Muhammadiyah dibandingkan dengan organisasi lainnya. 

Perjalanan sikap politik Muhammadiyah

Dalam perjalanan politiknya dari Tegak berdiri hingga kini, Muhammadiyah secara kelembagaan belum pernah terlibat dengan politik praktis. Ketika Politik menjadi sikap resmi organisasi maka perpecahan pasti akan terjadi diantara Kader – Kader Muhammadiyah, maka Muhammadiyah tegas bahwa sebagai organisasi, Muhammadiyah istiqomah di gerakan dakwah sedangkan Kader – Kader Muhammadiyah dipersilakan untuk masuk kepartai manapun dengan syarat partai tersebut mendukung gerakan dakwah Muhammadiyah. 

Muhammadiyah sebagai solusi problematika umat

Dalam rentang waktu yang Panjang, lebih dari 107 tahun Muhammadiyah membuktikan diri sebagai penerang dalam kegelapan. Sisi kehidupan sosial manusia menjadi prioritas gerakan Muhammadiyah, pendidikan, sosial, kesehatan, dan ekonomi. Sejarah menyebutkan bahwa sebelum Muhammadiyah didirikan Kyai Ahmad Dahlan menyuruh santri-santrinya untuk mencari anak – anak yatim/piatu, orang – orang miskin, gelandangan kemudian diberi makan, dimandikan dan ditempatkan dalam satu asrama untuk diberikan pengajaran keagamaan. Nah dari situlah Muhammadiyah mempunyai Kader awal yang langsung dibawah bimbingan Kyai Ahmad Dahlan. Pada tahap awal Muhammadiyah fokus pada pendidikan dan sosial, sebagai lahan Dakwah yang potensial dalam mengembangkan faham keagamaannya yang bertujuan memberantas Takhayul, bidah dan Churafat, yang menjadi penyebab kemunduran umat islam. 

Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pembelajar ulung. Sebelum Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan sekolah di Muhammadiyah, beliau seorang guru di sekolah belanda. Sekolah yang hanya diperuntukkan bagi anak – anak belanda dan priyayi pribumi itu menjadi guru terbaik bagi Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam hal pendidikan. Pengalaman menjadi pengajar di sekolah belanda tersebut, kemudian diaplikasikan Kyai Haji Ahmad Dahlan untuk mendirikan sekolah dirumahnya dibantu oleh santri – santri. Sekolah yang mengadopsi Sistem pendidikan belanda, mulai dari penggunaan papan tulis, meja dan kursi dalam Sistem klasikal menjadi pembeda dengan sistem pendidikan islam pada waktu itu. Pendidikan yang dikembangkan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan adalah memadukan pengajaran agama islam dengan pengajaran umum dalam sebuah sistem pendidikan. Inilah cikal bakal pendidikan integral yang berkembang saat ini.

Pendidikan Muhammadiyah yang fluktuatif. Gagasan Kyai Haji Ahmad Dahlan tentang pendidikan mendapatkan beragam tanggapan, pro dan kontra menjadi hal yang biasa. Apalagi menawarkan gagasan baru yang masih asing bagi masyarakat awan. Tetapi Kyai Haji Ahmad Dahlan dan santri – santrinya tetap gigih dan istiqomah dalam menjalaninya, sehingga buah keistiqomahan itu terwujud dengan semakin terbukanya pikiran masyarakat tentang pentingnya kemerdekaan bagi bangsanya. Kemerdekaan bisa terwujud dengan kecerdasan masyarakat, kecerdasan yang dibangun atas pengalaman dan pengetahuan yang memadukan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Pendidikan Muhammadiyah membentuk Tri kompetensi Kader

Sekolah – sekolah Muhammadiyah merupakan instrumen dakwah Muhammadiyah, yang bertanggung jawab tercapainya cita-cita Muhammadiyah yaitu terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Maksud dari cita-cita tersebut diantaranya adalah hadirnya kompetensi dalam diri peserta didik atau Kader Muhammadiyah, ada tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh produk lembaga pendidikan Muhammadiyah, pertama, kompetensi religius, Kader Muhammadiyah harus istiqomah untuk menautkan hatinya kepada Allah SWT, bukan bergantung kepada selain NYA. Kedua, kompetensi intelektul, kompetensi ni ini Hanya bisa terwujud dengan belajar baik formal, informal, non formal dan otodidak. Umat Muslim harus cerdas dan siap bersaing dengan siapapun dan kapanpun. Ketiga, kompetensi humanis, sisi sosial harus tetap menjadi lahan Kader Muhammadiyah dalam beramal Sholeh, untuk menegaskan bahwa Muhammadiyah benar – benar gerakan amal Sholeh. Kompetensi yang terintegratif pada diri Kader diharapkan mampu menjawab perkembangan global yang semakin pesat. Inilah Muhammadiyah yang menyalakan lilin untuk terangi keadaan tidak mengutuk kegelapan. Semoga istiqomah dijalan dakwah. Amiin!

​MATI RASA

Jariku menari…

tuk ungkapkan jeritan rasa

dusta menganga jadi ingatan 

tau kah kamu? 
tiap gores adalah makna

tiap kata mengandung luka

tiap baris membawa tangis
Sungguh…!!! 

aku tak tau… 

apa mau mu… 

tiap langkah bergandeng dusta 
Perangai selaksa madu

Belakang berganti empedu

Sesal jadi gincu

Pemerah lusuhnya bibir

Ohh Tuhan 

Aku sudah mati rasa…
Wonorejo, 19/05/2017, 23:56

GENERASI “LIAR”: anti berfikir mainstream

Liar identik dengan menyimpang, semaunya sendiri, tidak bisa mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Perlu kita ketahui bahwa dalam tata kehidupan sosial memang ada hukum dan norma yang berlaku, baik tertulis maupun tidak tertulis, Hukum positif dan norma sosial maupun adat kebiasaan. Dalam perjalanan seorang manusia kondisi alam mempengaruhi ketahanan dan kreativitas dirinya, terkadang hukum menjadi simalakama untuk mencapai tujuan, dalam kehidupan yang semakin berat dan kompetisi yang tak terhindarkan, itu harus menjadi faktor tumbuhnya keberanian, kondisi alam yang tidak bersahabat dan pergaulan yang keras harus membentuk karakter kuat dalam jiwanya. Sehingga bangunan fisik dan pikiran kita jelas mengarah pada anti kemapanan. 

Kita membutuhkan generasi liar dan generasi yang berpikir liar. Mengapa demikian? Dalam kajian sejarah peradaban manusia, generasi liar dilahirkan dari kondisi keterbatasan, keterdindasan, penuh ancaman, keterasingan dan keadaan tidak menguntungkan lainnya. Orang yang tumbuh dengan keterbatasan akan membuahkan kreativitas dan keuletan yang tidak dimiliki oleh pihak lain. Pola Gerakan liar diluar kebiasaan menjadi cara berpikir yang saatnya nanti akan dibutuhkan oleh keadaan. Dan sebaliknya yang mengebiri dan membunuh generasi “liar” iyalah kemakmuran dan kenikmatan hidup dengan segala fasalitasnya, dengan itu semua bisa dipastikan keliaran fikir menjadi tunduk dan patuh, sehingga akal tidak lagi bermanfaat  dan membawa kepada kehancuran. 

Dirajut dari keprihatinan yang ada disekeliling kita, ketika ketundukan dan kepatuhan menuju warna abu-abu, semakin mengaburkan pola gerakan dan menghadirkan pesimisme yang masif. Gerakan dan pikiran liar harus hadir untuk memberi warna optimisme dalam kehidupan. 

Berfikir liar diluar kebiasaan akan membawa kita kepada pencapaian kemenangan dan memberi energi untuk merampas segala sesuatu yang dimiliki oleh pihak lain. Oleh Karenanya fikiran-fikiran yang keluar dari tradisi, fikiran-fikiran yang berkemajuan harus di pupuk supaya tumbuh disetiap generasi. Out of the box menjadi solusi atas kemandekan pembaharuan kita, zaman semakin meninggalkan zamannya, menuju Era baru yang kadang membuat kita gugup dan gagap. Tanpa berfikir beda, kita akan mati ditelan keliaran zaman. 


16/5/2017 23:45 wib

BERTAHAN DENGAN PERSATUAN 

BERTAHAN BISA TERWUJUD DENGAN PERSATUAN. Dalam sebuah perkumpulan baik negara, agama, profesi, profit dan perkumpulan lainnya, yang membentuk komunitas, baik sekala kecil maupun besar, yang mempunyai tujuan bersama, yang dituangkan dalam visi dan misinyanya akan tetap eksis hanya dengan persatuan yang sebenar – benarnya. Persatuan yang menjadi karakter warga, sehingga menumbuhkan sifat yang baik dalam kehidupan sehari-hari, sikap saling membantu dan gotong royong dalam mencapai cita-citanya, menjadi aktivitas lahir batin yang dibangun oleh masing-masing individu dalam jangka waktu yang tak terbatas. Sikap baik yang dilakukan berulang – ulang tanpa dipikirkan terlebih dahulu akan membentuk kebiasaan baik dalam diri individu tersebut. Kebiasaan baik inilah yang akan membendung munculnya perilaku buruk dalam benak manusia. Dalam surah al Balad ayat 10 Allah berfirman:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.

Menurut tafsir ibnu katsir, dua jalan tersebut yaitu jalan baik dan buruk. Allah sudah menanamkan sifat baik dan buruk dalam tabiat manusia, seperti yang sudah difirmankan dalam ayat tersebut diatas. 

Keburukan menjadi sifat yang paling mudah mendominasi manusia. Dominasi sifat tersebut disebabkan dua perkara. Pertama, ketika manusia gagal memperbaiki kebiasaannya, menurut penelitian,  kebiasaan pada manusia bisa terbentuk dan membutuhkan waktu minimal 10 ribu jam, yang dilakukan secara berulang-ulang. Kedua, ketika agama tidak digunakan untuk memperbaiki diri, agama berhenti pada simbol sakral yang dipahami sebagai aktivitas ritual fisik belaka. Padahal sejatinya keberagamaan itu suatu keniscayaan konsekuensi hamba kepada sang khalik, sebagai wujud syukur insan yang beriman. 

Saling bermusuhan salah satu bentuk dari sifat buruk manusia. Dalam organisasi yang hendak mewujudkan cita-citanya, bermusuhan merupakan penyakit yang harus di hilangkan. Saling bermusuhan akan melemahkan bahkan bisa menghancurkan tatanan strategi yang sudah dirancang dalam proses memujudkan visi organisasi. Nah, disinilah peran pemimpin yang berwibawa sangat penting untuk membendung dan menyatukan potensi dalam organisasi menuju terwujudnya cita-cita. Seorang Pemimpin jangan sampai masuk dalam pusaran konflik yang akan memperkeruh keadaaan, sehingga warga tidak akan lagi memberikan penghargaan kepada siapapun yang duduk sebagai pemimpin, karena sudah tidak sesuai dengan semangat keadilan. 

Marilah kita perkuat persatuan kita untuk sekedar bertahan, lebih – lebih mampu membangun eksistensi diantara organisasi lain, kompetisi tidak terelakkan lagi, karena tiap-tiap yang hidup membutuhkan kan pengakuan dari pihak lain, begitu juga organisasi yang kita di dalammnya membutuhkan itu. Sehingga untuk melanggengkan eksistensi kita membutuhkan persatuan, kebersamaan tanpa syarat. Eksistensi butuh diperjuangkan, persatuan bagian dari perjuangan, walau sekedar untuk tetap bertahan. 

ISLAM, MODERNITAS DAN GAYA HIDUP

Diawal islam menjadi syariat, para sahabat baik muhajirin maupun ansor tidak sedikitpun ada rasa pembangkangan terhadap islam. Bahkan mereka menjadi spirit untuk umat sesudahnya. Spirit apa yang harus kita ambil dari para sahabat? Spirit tentang kesadaran, keyakinan dan keteguhan jiwa tanpa syarat terhadap aturan syariat. Mengutip pernyataan Umar Ibn Khatab” barang siapa yang belum diatur oleh syariat agama, maka dia tidak akan mendapatkan pengajaran dari Allah SWT”. Sahabat umar mempunyai maksud dari pernyataan tersebut, beliau menginginkan kesadaran dalam diri manusia untuk meyakini bahwa Rasulullah Muhammad mengetahui apa – apa yang baik untuk manusia. Sehingga zaman sahabat ini disebut sebagai zaman kejayaan dan kemuliaan islam. Islam kaffah benar-benar terwujud, dan mampu menjadi kekuatan pada setiap insan. Kemudian berdampak pada tersyiarnya islam sampai ke penjuru bumi, itu semua karena keteguhan, keyakinan dan kesadaran berislam sudah mengalir dalam relung hati setiap muslim. 

Kesiapan menghadapi gempuran teknologi

Era yang serba instan, dimana laju teknologi tak tertahan. Macam-macam penyikapan manusia terhadap perkembangan teknologi, ada yang sudah siap dan banyak pula yang gagap. Teknologi bisa mendekatkan atau bahkan bisa menjauhkan manusia kepada Tuhannya, ini lah awal dari kemanusiaan manusia diuji. 

Kikisnya peradaban asli manusia yaitu peradaban alam, semakin tergusur oleh budaya kota yang materialistis. Menggarap sawah dan menggembala hewan jarang kita temui sekarang, semua sudah tumbuh gedung-gedung, beton yang tidak bisa bersahabat dengan alam. Filosofi kehidupan alam yang penuh kebersamaan hilang, inilah dampak dari gagapnya menyikapi teknologi.

Dari sisi spiritual juga kena dampaknya, modernitas membawa petaka bagi yang belum siap. Lemahnya pemahaman syariat agama menjadi awal menurunnya Kesadaran agama dari diri manusia. Kesadaran agama menurun, disebabkan oleh hukum – hukum selain islam dijadikan penengah dan Syariat agama menjadi Cabang Ilmu (menurut Ibnu Khaldun). Padahal islam melalui al Qur’an merupakan induk dari semua Ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini. Al Qur’an itu wahyu Allah yang masih dijaga keasliannya dari dulu hingga kini. Kalau manusia belum merasa di atur oleh islam/al Qur’an maka pengajaran Allah tidak akan pernah sampai pada manusia. 

Menumbuhkan spirit para sahabat di era sekarang

Kesadaran, keyakinan dan keteguhan jiwa adalah spirit para sahabat. Semangat itu yang harus kita kobarkan kembali dalam diri manusia sekarang, dengan strategi yang sama seperti zaman Rasulullah mengajak masyarakat jahiliyah untuk memeluk islam. Kelembutan dan kasih sayang dihadirkan oleh beliau dalam setiap aktivitasnya, Keteladanan menjadi prinsip dalam setiap dakwahnya. Aturan-aturan ditegakkan dengan prinsip kebijaksanaan, tidak pernah dizaman sahabat hukum ditegakkan lewat intimidasi, karena intimidasi dan paksaan dalam aturan akan merusak kepercayaan dan menghilangkan kemampian bertahan dalam diri sebagai akibat kemalasan yang ada dalam jiwa yang tertekan.  (dalam muqaddimah karya ibnu khaldun) 

Dalam satu peristiwa yang pernah dialami Zuhroh bin Haubah dalam perang Qodisiyah, ketika Umar ibn Khatab melarang Sa’ad untuk bertindak keras. Zuhroh pada waktu itu mengambil harta rampasan tujuh puluh lima ribu dinar emas dari Galineous. Setelah sebelumnya sang kafir terasebut ia kejar dan ia bunuh dalam perang Qadisiyah. Sa’ad mengambil rampasan iti dari tangan Zuhroh, seraya berkata, “kenapa anda tidak menunggu komando dariku?” langsung setelah itu ia menulis surat kepada umar yang isinya minta izin untuk mengambil rampasan tersebut. Namun, Umar ra membalas surat tersebut dengan “kamu bertindak keras kepada Zuhroh, padahal ia telah berkorban dengan banyak, sementara yang harus anda hadapi masih berkecamuk dan anda telah memecah keberaniannya dan merusak hatinya, dan akhirnya, umar memberikan rampasan tersebut kepada Zuhroh.

Sekarang Umat islam harus bisa memulai, bahwa islam merupakan gaya hidup. Maksudnya bagaimana?, islam menjadi perilaku manusia sehari-hari dimanapun tempatnya. Karena islam tidak terikat oleh ruang dan waktu.

MUHASABAH PENDIDIKAN

Hari pendidikan nasional 2 mei moment refleksi untuk kemajuan pendidikan indonesia. Sudah 70 tahun lebih indonesia merdeka dari kolonial, menjadi negara yang berhak mengelola bangsanya sendiri. Negara yang subur makmur gemah ripah loh jinawi, yang berada digaris khatulistiwa, dengan iklim dan kesuburan yang mendukung pertanian. Dalam pembagian kawasan Menurut Ibnu Khaldun, indonesia termasuk kawasan pertengahan, yang mempunyai kesempurnaan akhlak, fisik, kematangan dalam berfikir, berbudaya, mempunyai kulit yang sedang, tidak hitam juga tidak putih, mempunyai kematangan emosi dan berperadaban. Warisan peradaban dan pemberian Allah sebagai bangsa yang unggul dalam hal tertentu harus kita syukuri, mensyukurinya dengan memfungsikan kita sebagai khalifah di bumi, termasuk indonesia. Khalifah disini bukan dalam pengertian Politik tetapi yang di maksud yaitu, mengelola bumi untuk kemakmuran kemanusiaan. 

Pendidikan selalu berubah dan berkembang secara progesif. Proses pendidikan yang dilaksanakan dalam upaya mencerdaskan bangsa serta mengembangkan watak bangsa menjadi lebih bermoral, itulah yang disebut sistem pendidikan nasional. Dalam perjalanan pendidikannya, indonesia pernah melakukan perubahan dan revitalisasi dalam kurikulumnya, pada dekade 90 an menggunakan CBSA (cara belajar siswa aktif), KBK (kurikulum berbasis kompetensi),  KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan yang terbaru Kurikulum 2013 (K13). Perubahan tersebut dalam rangka penyempurnaan Sistem pendidikan Nasional kita, untuk Terwujudnya manusia indonesia seutuhnya. Pendidikan harus menjadi agen perubahan sosial, yang mampu menyatukan seluruh komponen bangsa penyangga NKRI, karena Pendidikan menjadi salah satu alat dalam usaha mengelola dan memakmurkan bangsa. 

Landasan Dasar Pendidikan Indonesia

Dalam UUD 1945, pendidikan diarahkan bagi seluruh rakyat dengan perhatian utama pada rakyat yang kurang mampu agar dapat juga mengembangkan moral yang lebih baik yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Jika ketentuan UUD 1945 dicermati maka mengikuti pendidikan adalah hak asasi bagi setiap warga Indonesia dan itu merupakan kewajiban. Menghalangi dan melarang anak Indonesia untuk bersekolah adalah perbuatan yang melanggar hukum tertinggi (UUD 1945) dan ada sanksinya. Untuk mencapai bangsa yang bermoral dan sejahtera maka diperlukan kualitas pendidikan yang baik dan sesuai. Pendidikan itu penting agar bisa meningkatkan moral dan kecerdasan bagi penerus bangsa. Bangsa yang menjadi pemimpin dan teladan adalah bangsa yang dapat memberikan kesempatan bagi warganya untuk mendapat pendidikan yang baik, karena awal dari kemajuan bangsa dilihat dari kualitas pendidikannya. Hal tersebut sesuai dengan UUD 1945 pasal 1 sampai 5.

Bagaimana pendidikan indonesia di tingkat regional maupun global? 

Menurut data UNESCO tahun 2012 pendidikan indonesia ditingkat ASEAN berada diperingkat lima (5) dari sepuluh (10) anggota, dengan nilai indeks pendidikan 0,603, dibawah (1) Singapura dengan nilai indeks pendidikan 0,768 (2) Brunei Darussalam dengan nilai indeks pendidikan 0,692 (3) Malaysia dengan nilai indeks pendidikan 0,671 (4) Thailand dengan nilai indeks pendidikan 0,608. Sedangkan di peringkat Dunia indonesia berada di nomer 108, dibawah palestina. Dari data tersebut mengisyaratkan pemerintah dan masyarakat untuk terus berbenah, melakukan penyempurnaan Sistem pendidikan menyesuaikan dengan perkembangan global. 

Mendukung Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan literasi sekolah menjadi salah satu kunci dari peliknya masalah kualitas pendidikan, budaya membaca buku pengayaan diluar buku wajib harus di giatkan. Karena menurut data unesco tahun 2012 indeks tingkat membaca orang indonesia hanya 0,001 %, artinya dari 1000 orang indonesia hanya 1 orang yang mau membaca buku dengan serius, berbanding terbalik dengan pengguna Internet, indonesia mencapai 88,1% pada tahun 2014. Di Asean indonesia menempati urutan ke 3 terbawa bersama Laos dan Kamboja, sedangkan dari 61 negara yang diteliti, indonesia peringkat literasinya ke 2 terbawah, hanya lebih baik dari Bostwana salah satu negara afrika bagian selatan. 

Menurut data BPS tahun 2012 mengenai minat baca dan menonton anak – anak indonesia, hanya 17,66% yang minat baca. Sedangkan yang memiliki minat menonton mencapai 91,67%. 

Penerapan Literasi Sekolah

Literasi merupakan keterampilan penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik memengaruhi tingkat keberhasilannya, baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan fondasi untuk mempelajari berbagai hal lainnya. Kemampuan ini penting bagi pertumbuhan intelektual peserta didik. Melalui membaca peserta didik dapat menyerap pengetahuan dan mengeksplorasi dunia yang bermanfaat bagi kehidupannya.

Rendahnya literasi membaca tersebut akan berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Kemampuan literasi sangat penting untuk keberhasilan individu dan negara dalam tataran ekonomi berbasis pengetahuan di percaturan global pada masa depan (Miller, 2016). Hal ini memberikan penguatan bahwa kurikulum wajib baca penting untuk diterapkan dalam pendidikan di Indonesia
Menguatkan Kurikulum Wajib Baca 

Tujuan kurikulum wajib baca adalah sebagai berikut: a) membentuk budi pekerti luhur; b) mengembangkan rasa cinta membaca; c) merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah; d) menambah pengetahuan dan pengalaman; e) meningkatkan intelektual; f ) meningkatkan kreativitas; g) meningkatkan kemampuan literasi tinggi. Adapun Sasaran kurikulum wajib baca adalah peserta didik di sekolah. Kurikulum wajib baca juga mempertimbangkan tiga tahap literasi, yakni tahap pembiasaan, tahap pengembangan, dan tahap pembelajaran. Dalam ketiga tahap literasi tersebut, kurikulum wajib baca dapat terwujud dalam beberapa kegiatan. Gerakan literasi harus benar – benar membudaya, sehingga pendidik harus menjadi lokomotif dalam gerakan ini, paradigma tentang pendidik bukan lagi sebagai profesi Kerja tetapi sudah menjadi profesi kehidupan. 

Usaha – usaha dan kreativitas dalam pendidikan merupakan suatu keniscayaan, yang akan melahirkan paradigma baru pendidikan sesuai dengan tantangan global. 

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2017