MANAJEMEN BERBASIS KINERJA: MENUJU SEKOLAH BERKEMAJUAN

Oleh : Zaenal Arifin 

Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa era globalisasi semakin liar pada tiap bidang kehidupan, yang berdampak pada Absurd_nya sekat pembatas antara satu dengan yang lain. Pendidikan merupakan satu dari banyak bidang yang berperan sebagai pemotong rantai kebodohan dan kemiskinan, menjadi vaksin yang ampuh sebagai penjaga imunitas kehidupan. Dalam dunia pendidikan manusia sebagai pemeran utama, baik sebagai subjek sekaligus objek, menurut Badan Pusat Statistik bangsa indonesia pada periode 2005 – 2025 mempunyai usia produktif yang luar biasa besar, dan itu belum pernah dialami sejak indonesia merdeka. Pertanyannya, apakah populasi usia produktif yang besar tersebut menjadi bonus atau bencana bagi kita? Kalau berkualitas, jumlah populasi usia produktif tersebut akan menjadi bonus demografi (demographic deviden), tapi apabila tidak berkualitas justru akan menjadi bencana demografi (demographic disaster). Untuk itu, tugas kita adalah menyiapkan momentum dan kesempatan agar menjadi bonus demografi. Dilihat dari fungsinya, Sekolah merupakan salah satu sekenario untuk menyiapkan momentum dan kesempatan bagi usia produktif agar berkualitas, dan Secara holistik, input – proses – output sangat dipengaruhi oleh sekolah yang berkualitas.

Memilih Manajemen yang tepat
Manajemen merupakan kemampuan wajib yang harus dimiliki oleh setiap pengelola organisasi yang memiliki visi atau tujuan, karena Manajemen merupakan sebuah seni untuk mengatur sesuatu, baik orang maupun pekerjaan. Ibarat membangun rumah, kita harus membangun fondasi yang kuat dan mapan, agar dalam mendirikan tiang, dinding dan atap diatasnya lebih mudah dan tidak goyah. Kalau manajemen itu ibarat fondasi sebuah bangungan, tiang adalah visi dan misinya, dinding adalah kebersamaan (Ukhuwah), atap adalah rasa memiliki, perabot adalah kegiatan aktivitas dan cat adalah keinginan hati para pemiliknya. Manajemen di sekolah dapat diartikan sebagai usaha, kegiatan atau program yang diprakarsai oleh pengelola sekolah, untuk merencanakan, mengarahkan dan mengendalikan prestasi sekolah yang melibatkan seluruh komponen sekolah, baik dari komponen struktural, guru dan karyawan.

Dalam dunia pendidikan kita mengenal dan mengetahui ada 8 lingkup standar nasional pendidikan (SNP), standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan diseluruh wilayah hukum negara kesatuan republik indonesia. Dalam hal ini pemerintah ikut berperan dalam membuat regulasi tentang standar minimal pendidikan yang harus dilakukan disetiap satuan pendidikan. Maka tugas satuan pendidikan adalah melakukan persiapan-persiapan dalam menyambut regulasi tersebut, terutama kesiapan mental dan pola pikir pengelola pendidikan disekolah.
Standar Pengelolaan Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan satuan pendidikan menjadi tanggung jawab kepala satuan pendidikan (UU No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas). Dari landasan normatif tersebut pengelola satuan pendidikan harus mampu menerjemahkan, menafsirkan dan menyesuaikan dengan setting sosial budaya dimasing-masing satuan pendidikannya. Sehingga dalam pengelolaan satuan pendidikan memerlukan manajemen yang tepat, supaya visi atau tujuan dimasing-masing satuan pendidikan tersebut bisa terwujud.

Manajemen Berbasis Kinerja
Merujuk pengertian manajemen diatas yaitu sebagai usaha, kegiatan atau program yang diprakarsai oleh pengelola sekolah, untuk merencanakan, mengarahkan dan mengendalikan prestasi. Dalam pengamatan penulis manajemen berbasis kinerja sangat dibutuhkan dalam rangka meraih tujuan akhir dari sekolah. Apa titik fokus majanemen berbasis kinerja? Fokus manajemen berbasis kinerja adalah pengukuran yang berorientasi pada hasil akhir (outcome).

Pengertian Manajemen Berbasis Kinerja
Secara sederhana, manajemen berbasis kinerja merupakan suatu metode untuk mengukur kemajuan program atau aktivitas yang dilakukan organsisasi sektor publik dalam mencapai hasil atau outcome yang diharapkan oleh klien, pelanggan, dan stakeholder lainnya (Dalam Performance Management Handbook Departemen Negeri USA)

Tujuan Manajemen Berbasis Kinerja
Ada tujuh kata kunci manajemen berbasis kinerja, yakni :
• Proses yang sistematik
• Untuk memperbaiki kinerja
• Melalui proses berkelanjutan dan berjangka panjang
• Meliputi penetapan sasaran kinerja strategik
• Mengukur kinerja
• Mengumpulkan, menganalisis, menelaah, dan melaporkan data kinerja
• Menggunakannya untuk perbaikan kinerja secara berkelanjutan.

Pengukuran Manajemen Berbasis Kinerja
Kinerja itu mengacu pada sesuatu yang terkait dengan kegiatan melakukan pekerjaan yang meliputi hasil yang dicapai kerja tersebut (otley,1999). Kinerja merupakan suatu bangunan yang bersifat multidimensial, pengukurannya juga bervariasi tergantung pada kompleksitas fakto-faktor yang membentuk kinerja. Kinerja merupakan hasil kerja itu sendiri (outcome of work), karena hasil kerja memberikan keterkaitan yang kuat terhadap tujuan-tujuan strategis organisasi, kepuasan pelanggan, dan kontribusi ekonomi (rogers, 1994).

Pengukuran kinerja merupakan suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditentukan, termasuk informasi atas efisiensi penggunaan sumber daya dalam menghasilkan barang dan jasa, kualitas barang dan jasa, pembagian hasil kegiatan dengan target, dan efektifitas tindakan dalam mencapai tujuan (Robertson, 2002).
Tiga variable dalam pengukuran kinerja yaitu perilaku (proses), output (produk langsung suatu aktifitas/program), dan outcome (value added atau dampak aktifitas/program).

Realitas Pengolalaan Sekolah
Pengelolaan sekolah dalam perhatian penulis dari periode ke periode tidak ada perubahan yang berarti dalam masalah manajemen, tujuan manajemen yang digunakan masih berjalan setengah hati dari keseluruhan tujuannya. Kita bisa ambil tujuan manajemen berbasis kinerja yang sudah disebutkan diatas yang jarang dilakukan oleh pengelola sekolah, kita jadikan sebagai pisau analisis, sebagai berikut:

1. Proses yang sistematik
Disetiap awal tahun ajaran baru pengelola memberikan regulasi kerja dan program supaya dalam proses berjalannya terarah dan terukur, tetapi yang sering terjadi pelaku atau yang menjalankan program tidak memahami regulasi yang diterima, sehingga yang muncul adalah kerja seadanya tanpa pemahaman yang komprehensif dan otomatis hasil akhir pun seadanya. Akhirnya harapan proses yang sistematik untuk prestasi yang baik hanya angan-angan belaka.

2. Untuk memperbaiki kinerja
Menurut penulis, ini salah satu tujuan manajemen yang jarang dilakukan oleh sekolah, biasanya terkendala dengan pilihan-pilihan personal, yang mempunyai kriteria masing-masing. Sebagai contoh, sekolah lebih memilih loyalitas tanpa diimbangi kompetensi yang mumpuni, sehingga pelaku tidak mampu menerjemahkan regulasi yang sudah ditetapkan. Dan dampaknya secara kinerja tidak membawa perubahan dan itupun tak kunjung di perbaiki.

3. Mengukur kinerja
Mengukur kinerja ini tidak pernah dilakukan, sehingga permasalahan dari tahun ke tahun tidak pernah terselesaikan. Menjalankan program tahun ini sama dengan tahun sebelumnya, padahal tidak terlihat progres yang membanggakan. kalau penulis mengatakan pelaku seperti ini punya slogan sing penting jalan. Tamatlah sekolah.

Dari beberapa realitas yang penulis sampaikan, merupakan bentuk keprihatinan personal terhadap sekolah. Sehingga penulis menawarkan manajemen berbasis kinerja sebagai solusi dari realitas tersebut. Kita harus berani meninggalkan dan mengubur perilaku-perilaku yang akan membawa pada kemunduran sekolah, diantaranya, manajemen berbasis titipan, manajemen berbasis tekanan dan manajemen – manajemen yang tidak ada dalam teori keilmuan.

Dengan penuh harap ada perubahan dari pengelolaan dengan menerapkan manajemen berbasis kinerja, karena setiap pelaku akan melakukan fastabiqul kharot (berlomba-lomba dalam kebaikan) disetiap kesempatan demi satu tujuan yaitu menuju sekolah yang berkemajuan, unggul dan berprestasi.