KEMUNDURAN PERADABAN ISLAM

Konsensus universal telah terbentuk, bahwa kemunduran peradaban Islam terjadi sejak abad ke 17[1]. Pada akhir abad ke 19, sebagian besar wilayah dunia Islam telah jatuh dibawah kekuasaan Eropa, menyisakan kerajaan Utsmani yang mengecil kekuasaannya dan Dinasti Qajar di iran yang merupakan negara – negara lemah[2]. Ketika muslim berada di bawah kekuasaan non-muslim, hasilnya lebih sering berupa pengusiran massal dan bentuk awal “pembersihan etnis”. Bukti Pengalaman muslim di Spanyol setelah keruntuhan Bani Ahmar di Granada pada tahun 1492. Bukti lain terdesaknya kekuasaan Utsmani di Balkan kemudian dilanjutkan dengan penggusuran dan pengusiran yang menimpa Muslim yang telah lama menetap.

Kegagalan para penguasa dan masyarakat Muslim untuk mengatasi ancaman kembar dari (1) kekuatan imperialis Eropa yang sedang berkembang dan (2) kedatangan modernitas telah memperburuk krisis Islam. Disebabkan keengganan peradaban Islam yang merasa sudah lama mendominasi, yakin akan superioritasnya, untuk berinteraksi dengan peradaban lain yang dianggap lebih rendah terutama dengan kristen.

 

Kesalahan – Kesalahan penyebab kemunduran peradaban Islam

Mengkaji dan menilai kegagalan dunia Islam ada beberapa sebab:

Pertama, ancaman dari barat dan perluasan teritori kerajaan Tsar

Kedua, para penjelajah dan diplomat muslim di barat tidak dapat sepenuhnya menerjemahkan apa yang mereka lihat dan alami menjadi suatu masukan kepada umat muslim untuk mengambil tindakan

Ketiga, pemahaman dinamika kekuatan-kekuatan imperial tidak mendalam

Keempat, pola-pola yang digunakan imperialisme untuk meraih kontrol dan dominasi tidak dipahami sepenuhnya oleh orang muslim

Kelima, penentangan elit-elit Utsmani (Janissari) terhadap reformasi dan re-organisasi total sebagian disebabkan oleh kekhawatiran akan penghapusan hak-hak istimewa dan struktur-struktur untuk mereka

Keenam, para ulama disemua kerajaan muslim pada abad ke 19 menolak reformasi administratif, pendidikan dan hukum karena hal-hal tersebut mengancam status mereka sebagai pengawal hukum dan pendidikan

Ketujuh, pengkhianatan dan persengkokolan rahasia di dalam umat Islam sendiri sering terjadi pada masa peperangan, sebagai contoh ketika emir Abdul Qodir melawan perancis di aljazair atau imam syamil melawan orang-orang rusia di Chechnya dan Daghestan

Kepemimpinan Abd el-Qadir

Abd el-Qadir sejak muda mengikuti tarekat sufi ayahnya, Muhyi el-Din, seorang syaikh Tarekat Qadiri dan pengikut mistikus Abad Pertengahan dari Andalusia, Ibn ‘Arabi. Abd el-Qadir merupakan pemimpin tradisional yang bangkit menghadapi para penjajah, model kepemimpinan yang dilakukan yaitu memadukan otonomi religius dan kepiawaian militer untuk mengamankan wilayah islam, dia juga menerima “technification” (menerapkan teknik pada berbagai hal) dan berbagai implikasinya yang mendalam.

Dalam berbagai kesempatan Abd el-Qadir memberikan gambaran sekilas bagaimana suatu masyarakat muslim dapat secara mudah melalui jalur-jalur modernitas menurut caranya sendiri. Di wilayah kekuasaannya di al jazair, dia telah berusaha memperkenalkan elemen-elemen peradaban baru yang bersifat teknis, yang masih dalam posisi di bawah aturan Islami pemerintahannya. Dalam penerapan berbagai institusi dan perspektif modern barat, Abd el-Qadir mempunyai pandangan yang lazim dalam islam dan diyakini kebenarannya, dengan cepat menjadi pandangan “tradisional” dan kemudian menjadi pandangan “reaksioner”. Pandangan ini ditopang dua pilar kembar yaitu, hukum syariah, yang mengatur kehidupan lahiriah serta fondasi-fondasi etis yang mendasari sufisme tarekat, fondasi-fondasi yang menjadi sumber-sumber solidaritas masyarakat. Pilar kedua, berupa tarekat-tarekat yang tersebar di seluruh dunia islam sunni.

Pada masa-masa kritis, seorang pemimpin akan muncul dan dengan kecemerlangan militer, organisasi, atau politik akan mengatasi rintangan-rintangan hebat, mengusir para penyerang, dan menegakkan kembali keadilan dan keteraturan.

(pemberontakan besar neo mahdi dari Muhammad Ahmad di sudan pada 1881 melawan penjajah anglo-mesir menjadi contoh yang tepat kepemimpinan kepahlawanan yang memadukan elemen politik serta militer)

Abd el-Qadir memadukan beberapa kualitas dalam perjuangan hebatnya melawan kekuatan besar kerajaan perancis. Berbagai prestasi luar biasa menjadi legenda dan terbawa hingga masa pengasingannya. Misalnya, perlakuannya terhadap musuh-musuh selalu terpuji, ditandai ketaatannya kepada aturan-aturan perang islam. Pada suatu ketika, dia melepaskan para tawanan perang perancis karena pasukannya tidak punya cukup makanan untuk mereka. Ini semua membuktikan mengakarnya identitas Islam yang mendalam, yang menjadi alat untuk menyaring dan menilai semua kejadian dan kepribadian. Abd el-Qadir tidak menyerang perancis karena alasan ras atau bangsa, tetapi karena agama dan peradaban yang mendorongnya untuk berbuat. Dilain pihak ada pemimpin yang mempunyai kesamaan dengan Abd el-Qadir, yaitu Imam Syamil, dia seorang Syaikh sufi dari Tariqat Naqsabandi, Imam Syamil juga melawan serbuan Rusia di Kaukasus pada periode yang sama. Antara Imam Syamil dan Abd el-Qadir pernah berjumpa di Mekkah dalam perjalanan Haji pada 1825, selanjutnya dua sufi ini memimpin perlawanan Muslim terhadap serbuan eropa. Kedua pemerintahan syariah yang didirikan oleh Abd el-Qadir dan Imam Syamil berumur singkat, karena keduanya terdesak oleh masing-masing musuhnya.

Sebenarnya Abd el-Qadir sudah merasakan berbagai kelemahan masyarakatnya dan sadar bahwa perjuangannya tak dapat dipertahankan, bukan hanya karena ketidak seimbangan kekuatan militer, tetapi juga karena perancis menampilkan berbagai kemajuan teknologi dan organisasi yang belum bisa disaingi Dunia Islam. Dengan berakhirnya perjuangan bersenjatanya akibat kombinasi kebrutalan ekstrem perancis dan serangkaian pengkhianatan para sekutunya, Abd el-Qadir membuka bab baru. Pada tahap ini terjadilah perkembangan kesadaran spiritualnya. Dia memahami bahwa jihad fisiknya telah berakhir karena berbagai kelemahan masyarakatnya dan karena tiadanya peralatan dalam gudang persenjataan untuk menghadapi kekuatan-kekuatan yang sama sekali baru. Abd el-Qadir merupakan pemimpin terakhir pada Islam pramodern yang berusaha memahami dan menjawab berbagai tantangan dunia baru dengan cara-cara klasik warisan Islam.

[1] Ali A Allawi Krisis Peradaban Islam hal. 56

[2] Ali A Allawi Krisis Peradaban Islam hal. 59

Resume dari buku krisis peradaban Islam karya Ali A Allawi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s