FENOMENA NGGABRUL DI SEKOLAH

Nggabrul dalam bahasa indonesia artinya menipu, istilah ini sangat populer di kalangan anak muda khususnya pelajar dan mahasiswa dalam hal makanan, misal “makan tempe lima tapi bilangnya ke penjual hanya makan dua”. Fenomena nggabrul sudah lama ada, dari cerita yang penulis temukan sejak tahun 1970-an sudah ada perilaku nggabrul tersebut, pelakunya tidak jauh dari pelajar dan mahasiswa yang notabene sedang menuntut ilmu. Ternyata di Zaman sekarang tidak jauh beda pula, bahkan semakin memprihatinkan. Sebuah data menyebutkan dimana ada kantin disitu terjadi pe-nggabrul-an, data yang diperoleh dari wawancara langsung dengan pelaku di sekolah. Kemudian diperkuat dengan cerita yang menggelitik dan sekaligus memprihatinkan, Dalam suatu hari seorang guru bertanya kepada siswanya dalam satu kelas “siapa dikelas ini yang belum pernah nggabrul?” tidak satupun yang angkat tangan. Dengan berbagai macam alasan dan cara nggabrul yang mereka ungkapkan, mengapa melakukan penipuan (nggabrul) itu. Kalau dilihat dari latar belakang ekonomi keluarga, tidak semua yang nggabrul itu dari keluarga tidak mampu, bahkan ada sebagian berasal dari keluarga mampu secara ekonomi dilihat dari pekerjaan orang tuanya. bisakah kita memotong mata rantai pe-nggabrul-an tersebut?

Perilaku nggabrul kurang menjadi perhatian dan tidak menarik untuk di bahas oleh pendidik/guru, bahkan bisa jadi hal ini dianggap masalah sepele/ringan yang tidak berpengaruh terhadap masa depan meraka sendiri, bangsa dan negaranya. bahkan ada kemungkinan dari sekian pendidik disekolah ada yang tidak tahu fenomena tersebut. Sehingga lewat tulisan ringan ini penulis menginformasikan untuk menjadi pengetahuan, lebih-lebih muncul tanggung jawab untuk mengobatinya.

Alasan mereka nggabrul
Dari perhatian penulis, siswa nggabrul karena beberapa sebab, yang bisa diklasifikasikan menjadi tiga garis besar, sebagai berikut:

a) Nggabrul merupakan kebanggaan diri dihadapan teman-temannya, semakin banyak dia nggabrul semakin disegani, dengan alasan dia bisa nggabrul lebih dari yang lain.
b) Nggabrul karena dorongan lingkungan, kalau tidak mengikuti arus maka akan sendirian dan hubungan personal akan bermasalah. Nggabrul adalah tren.
c) Nggabrul karena uang saku hanya bisa untuk ongkos transportasi, beli bahan bakar untuk yang naik sepeda motor atau bayar naik angkutan umum.

Tiga klasifikasi diatas tidak paten, karena masih banyak sejuta alasan mereka melakukan tabiat buruk tersebut. Ingat Kata bang napi “Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah, waspadalah!!!”
Terlepas niat dari pelaku atau karena kesempatan, yang pasti nggabrul adalah penyakit yang harus segera diobati. Bagaimana mengobatinya?

Mengapa nggabrul harus diobati?
Siapa menanam mengetam, sopo nandur bakal ngunduh kalimat masyhur yang sering di dengar. Perilaku buruk jangan sampai terjadi berulang-ulang, menurut Felix siauw kejadian berulang-ulang sampai pada pengulangan 10.000 kali akan menjadi kebiasaan atau budaya, sehingga beban tanggung jawab pendidik semakin berat. Kalau hanya menciptakan orang-orang cerdas yang gersang dari nilai-nilai religius maka pendidik termasuk gagal mendidik, karena tidak mampu menghidupkan dan memberdayakan dua potensi yang ada yaitu akal dan hati. Kebiasaan menipu pada saatnya nanti akan menjadi tabiat yang selalu melekat pada manusia, saat pelajar sering menipu hitungan, saat bekerja nanti bisa jadi menipu pula, jadi pejabat cenderung korup juga, inilah alasan mengapa pendidik harus menghentikan investasi keburukan sebisa dan semampunya.

Memutus mata rantai nggabrul
Mata rantai nggabrul bisa di putus, pertama, dengan menghidupkan sisi ruhani, dimulai dari menghadirkan sikap spiritual dan sosial dengan penuh kesungguhan, dalam kurikulum 2013 sikap spiritual itu penilaian terhadap peserta didik berkaitan dengan iman dan taqwa, sedangkan sikap sosial penilaian terhadap pembentukan sikap peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokrasi dan bertanggung jawab. Dari dua sikap ini ketika di lakukan dengan serius dan istiqomah dengan ijin Allah perilaku nggabrul bisa diobati. Yang kedua, keteladanan dari pendidik atau guru, dalam ilmu dakwah keteladanan merupakan cara yang paling efektif untuk mengajak umatnya. Dakwah akan berhasil jikalau sang penyampai sudah melakukan atau sedang proses melakukan, sehingga ucapan-ucapannya memang benar-benar dari hati dan akan diterima oleh hati juga. Maka pendidik/guru harus memiliki hati yang bersih dan perilaku yang penuh dengan nilai-nilai kemulian akhlak. Dengan menjadikan islam sebagai identitas manusia insha Allah apa yang diusahakan mendapatkan Ridho Allah SWT.

Dengan penuh kesabaran dan kesungguhan dan penuh harap untuk generasi yang akan datang lebih baik dari generasi saat ini. Generasi yang akan berguna bagi islam, bangsa dan negara. Meminjam istilah dalam persyarikatan marilah ciptakan kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa, semoga Allah meridhoi perjuangan dan menjadikan amal kebaikan yang bisa menjadi bekal mati. Semoga apa yang kami tulis menjadi renungan dan perhatian kita bersama, demi terciptanya generasi robbani yang siap membangun peradaban.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s