MENEMPATKAN BID’AH PADA TEMPATNYA (tanggapan untuk kaum “salaf”) 

Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sedangkan Definisi bid’ah secara istilah dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al Itishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah: Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Definisi di atas adalah definisi bid’ah hanya untuk ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat atau kebiasaan. 

Dalam kerangka keberagamaan di indonesia, bid’ah menjadi satu bahasan yang debatebel. Perdebatan yang tidak pernah selesai, karena masing-masing individu mempunyai penafsiran yang berbeda – beda. Sehingga kita sebagai umat islam harus mempunyai pandangan/pemahaman bid’ah yang luas, untuk meminimalisir perdebatan yang semakin memperlemah persatuan umat islam (ukhuwah islamiyah). 

Dalam pengertian bid’ah seperti yang di kemukakan oleh Imam assyatibi bid’ah merupakan suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat menyerupai syari’at. Menurut beliau Jelas sekali bahwa bid’ah itu hanya khusus dalam hal ibadah, sedangkan masalah adat/kebiasaan tidak berlaku dan tidak termasuk bid’ah. 

Dalam menentukan bulan baru hijriyah Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan), Termasuk dalam penentuan 1 Romadhon dan 1 Syawal. Hal ini ternyata membuat pandangan yang beragam, ada pandangan yang menyatakan bahwa menggunakan hisab dalam menentukan 1 Romadhon dan 1 syawal adalah bid’ah, sehingga menurut pernyataan tersebut Muhammadiyah sudah melakukan bid’ah. 

Marilah kita jernihkan akal untuk mengkaji apakah metode hisab itu bid’ah, kalau kita kembali kepada definisi bid’ah menurut Imam Asy Syatibi, bahwa bid’ah itu hanya khusus dalam hal ibadah. Sekarang pertanyaannya, apakah menentukan 1 Romadhon dan 1 syawal itu bagian dari ibadah? Inilah kejernihan akal yang saya maksud dalam melihat masalah hingga keakar-akarnya. Saya akan membuat analogi semisalnya memakai baju/gamis, peci/kopyah, membangun masjid dengan beragam arsitekturnya itu bukan ibadah tetapi alat untuk ibadah. Nah semakin jelas dengan permisalan tersebut, maka bisa di jelaskan juga bahwa hisab (perhitungan) itu bukan ibadah tetapi alat untuk menjalankan ibadah. Karena hisab (perhitungan) bukan termasuk ibadah, tapi hanya sebatas alat untuk menjalankan ibadah maka metode hisab (perhitungan) untuk menentukan 1 Romadhon dan 1 syawal itu bukan bid’ah. 

Apakah ibadah itu? 

Ibadah secara bahasa adalah tunduk atau merendahkan diri. Sedangkan secara istilah atau syara’, ibadah merupakan suatu ketaatan yang dilakukan dan dilaksanakan sesuai perintah-Nya, merendahkan diri kepada Allah SWT dengan kecintaan yang sangat tinggi dan mencakup atas segala apa yang Allah ridhai baik yang berupa ucapan atau perkataan maupun perbuatan yang dhahir ataupun bathin. Adapun ibadah terbagi tiga yaitu ibadah hati, ibadah lisan dan ibadah anggota badan atau perbuatan.

  1. Ibadah hati (qalbiah) antara lain: memiliki rasa takut, rasa cinta (mahabbah), mengharap (raja’), senang (raghbah), ikhlas, tawakkal.
  2. Ibadah lisan & hati (lisaniyah wa qalbiyah) antara lain: dzikir, tasbih, tahlil, tahmid, takbir, syukur, berdoa, membaca ayat Al-qur’an.
  3. Ibadah perbuatan fisik dan hati (badaniyah wa qalbiyah) antara lain: sholat, zakat, haji, berjihad, berpuasa. 

Membedakan wilayah ibadah dengan alatnya ibadah memang sangat penting, supaya dalam kehidupan ibadah kita juga tepat sasaran. 

Landasan Metode Hisab

  • هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ 

 Artinya, Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)

  • يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والح

Artinya, Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. (QS. al-Baqarah: 189).

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan supaya kita mengetahui waktu (bulan) dan tahun sedangkan matahari agar kita mengetahui waktu (hari) dan jam. Secara explisit dua ayat di atas juga mengandung pelajaran disyariatkannya mempelajari ilmu falak (astronomi) atau ilmu hisab untuk mengetahui waktu-waktu shalat, puasa, haji dan lainnya yang bermanfa’at bagi kaum Muslimin.

  • قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنّا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب، الشهر هكذا وهكذا يعنى مرة تسعة وعشرون ومرة ثلاثون 

Rasulallah Saw bersabda Kita adalah umat buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pandai berhitung, sebulan itu adalah sekian dan sekian (maksudnya kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari) (HR. Al Bukhari)

Dari hadits diatas dapat kita pahami bahwa Rasulallah dan para sahabat tidak mempergunakan hisab sebagai dasar untuk memulai dan mengakhiri puasa, karena pada waktu itu ilmu hisab belum berkembang, orang – orang Arab masih dalam keadaan buta huruf, sehingga cara yang paling mudah dilakukan waktu itu dengan melihat bulan.

عن بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم إنما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له 

Dari Ibnu Umar ra berkata, Rasulallah Saw bersabda “sesungguhnya sebulan itu lamanya 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa sehingga melihat hilal, dan janganlah kalian berlebaran sehingga melihat hilal, maka apabila hilal tertutup oleh awan sehingga kalian tidak dapat melihatnya, maka perkirakanlah untuknya. (HR. Muslim)

Lafazh فاقدروا له pada hadits di atas memiliki arti maka kira-kirakanlah dengan ilmu hisab atau hisablah dengan hisabul manzilah (hitunglah dengan perjalanan bulan), dengan demikian maksud hadits di atas memberi pengertian bahwa selain dengan rukyat, awal dan akhir Ramadhan dapat ditetapkan dengan dan perkiraan ilmu hisab yakni dengan menghitung peredaran bulan.

Inilah kiranya penjelasan dari pribadi saya tentang bid’ah, dan berdasar kutipan-kutipan dalil yang shahih dari berbagai sumber yang valid dan pengetahuan yang saya miliki, sangat kaku dan kurang luas pandangannya kalau ada yang berpendapat bahwa hisab itu termasuk bid’ah. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s