GERAKAN PENCERAHAN MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah dalam sejarahnya merupakan produk perjuangan pergerakan kemerdekaan, didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 yang bercita-cita mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Keadaaan Muhammadiyah sekarang merupakan cerminan dari awal Muhammadiyah berdiri. Gerakan sosial menjadi Dasar dari dakwahnya, dengan berpedoman pada Qs al maun ayat 1-7, dan Kader – Kader Muhammadiyah mengaplikasikannya dalam realita kehidupan.

Muhammadiyah juga disebut Persyarikatan

Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia (KBBI) Persyarikatan berasal dari kata syarikat/sya·ri·kat/ yang artinya: sekutu; perhimpunan; perkumpulan; serikat, oleh Karenanya penyebutan Persyarikatan merupakan pengejawantahan dari sebuah gerakan dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar yang mempunyai gerakan seimbang. Di dalam kata Persyarikatan mengandung makna kolektif kolegial artinya setiap kebijakan Muhammadiyah merupakan Hasil musyawarah seluruh pimpinan, bukan keputusan orang perorang. Inilah kelebihan dan keutamaan Muhammadiyah dibandingkan dengan organisasi lainnya. 

Perjalanan sikap politik Muhammadiyah

Dalam perjalanan politiknya dari Tegak berdiri hingga kini, Muhammadiyah secara kelembagaan belum pernah terlibat dengan politik praktis. Ketika Politik menjadi sikap resmi organisasi maka perpecahan pasti akan terjadi diantara Kader – Kader Muhammadiyah, maka Muhammadiyah tegas bahwa sebagai organisasi, Muhammadiyah istiqomah di gerakan dakwah sedangkan Kader – Kader Muhammadiyah dipersilakan untuk masuk kepartai manapun dengan syarat partai tersebut mendukung gerakan dakwah Muhammadiyah. 

Muhammadiyah sebagai solusi problematika umat

Dalam rentang waktu yang Panjang, lebih dari 107 tahun Muhammadiyah membuktikan diri sebagai penerang dalam kegelapan. Sisi kehidupan sosial manusia menjadi prioritas gerakan Muhammadiyah, pendidikan, sosial, kesehatan, dan ekonomi. Sejarah menyebutkan bahwa sebelum Muhammadiyah didirikan Kyai Ahmad Dahlan menyuruh santri-santrinya untuk mencari anak – anak yatim/piatu, orang – orang miskin, gelandangan kemudian diberi makan, dimandikan dan ditempatkan dalam satu asrama untuk diberikan pengajaran keagamaan. Nah dari situlah Muhammadiyah mempunyai Kader awal yang langsung dibawah bimbingan Kyai Ahmad Dahlan. Pada tahap awal Muhammadiyah fokus pada pendidikan dan sosial, sebagai lahan Dakwah yang potensial dalam mengembangkan faham keagamaannya yang bertujuan memberantas Takhayul, bidah dan Churafat, yang menjadi penyebab kemunduran umat islam. 

Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pembelajar ulung. Sebelum Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan sekolah di Muhammadiyah, beliau seorang guru di sekolah belanda. Sekolah yang hanya diperuntukkan bagi anak – anak belanda dan priyayi pribumi itu menjadi guru terbaik bagi Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam hal pendidikan. Pengalaman menjadi pengajar di sekolah belanda tersebut, kemudian diaplikasikan Kyai Haji Ahmad Dahlan untuk mendirikan sekolah dirumahnya dibantu oleh santri – santri. Sekolah yang mengadopsi Sistem pendidikan belanda, mulai dari penggunaan papan tulis, meja dan kursi dalam Sistem klasikal menjadi pembeda dengan sistem pendidikan islam pada waktu itu. Pendidikan yang dikembangkan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan adalah memadukan pengajaran agama islam dengan pengajaran umum dalam sebuah sistem pendidikan. Inilah cikal bakal pendidikan integral yang berkembang saat ini.

Pendidikan Muhammadiyah yang fluktuatif. Gagasan Kyai Haji Ahmad Dahlan tentang pendidikan mendapatkan beragam tanggapan, pro dan kontra menjadi hal yang biasa. Apalagi menawarkan gagasan baru yang masih asing bagi masyarakat awan. Tetapi Kyai Haji Ahmad Dahlan dan santri – santrinya tetap gigih dan istiqomah dalam menjalaninya, sehingga buah keistiqomahan itu terwujud dengan semakin terbukanya pikiran masyarakat tentang pentingnya kemerdekaan bagi bangsanya. Kemerdekaan bisa terwujud dengan kecerdasan masyarakat, kecerdasan yang dibangun atas pengalaman dan pengetahuan yang memadukan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Pendidikan Muhammadiyah membentuk Tri kompetensi Kader

Sekolah – sekolah Muhammadiyah merupakan instrumen dakwah Muhammadiyah, yang bertanggung jawab tercapainya cita-cita Muhammadiyah yaitu terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Maksud dari cita-cita tersebut diantaranya adalah hadirnya kompetensi dalam diri peserta didik atau Kader Muhammadiyah, ada tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh produk lembaga pendidikan Muhammadiyah, pertama, kompetensi religius, Kader Muhammadiyah harus istiqomah untuk menautkan hatinya kepada Allah SWT, bukan bergantung kepada selain NYA. Kedua, kompetensi intelektul, kompetensi ni ini Hanya bisa terwujud dengan belajar baik formal, informal, non formal dan otodidak. Umat Muslim harus cerdas dan siap bersaing dengan siapapun dan kapanpun. Ketiga, kompetensi humanis, sisi sosial harus tetap menjadi lahan Kader Muhammadiyah dalam beramal Sholeh, untuk menegaskan bahwa Muhammadiyah benar – benar gerakan amal Sholeh. Kompetensi yang terintegratif pada diri Kader diharapkan mampu menjawab perkembangan global yang semakin pesat. Inilah Muhammadiyah yang menyalakan lilin untuk terangi keadaan tidak mengutuk kegelapan. Semoga istiqomah dijalan dakwah. Amiin!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s