RINGKASAN MUKADDIMAH KELIMA: korelasi makan dengan peradaban (Ibnu Khaldun) 

Orang yang tidak mempunyai biji-bijian yang bertempat tinggal di padang pasir memiliki tubuh dan akhlak yang baik, daripada orang – orang perbukitan yang tenggelam dalam kekayaan bahan makanan. Kulit mereka lebih cerah, badan mereka lebih bersih, bentuk mereka lebih sempurna, akhlak mereka jauh dari penyimpanga dan akal mereka lebih dapat menerima pengertian dan Ilmu pengetahuan. Apa yang menjadikan seperti itu? 

Ada beberapa penyebab, diantarnya mereka tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan. Karena ketika berlebihan  dalam mengkonsumsi makanan, akan Banyak makanan dan campuran – campuran membusuk serta basahan-basahannya menimbulkan sampah-sampah kotor akibatnya tidak ada keseimbangan pencernaan. Kemudian berakibat pada warna Kulit yang tidak cerah dan bentuk tubuh yang tidak bagus, banyak makan juga akan menutupi akal pikir, sehingga otak menjadi tumpul, kelalaian, dan penyimpangan dari sifat-sifat pengetahuan,  karena sisa makanan yang tidak bisa dicerna menjadi sampah kotor naik sampai keotak. 

Pengaruh kemakmuran terhadap tubuh dan kondisinya juga berpengaruh terhadap keagamaan dan ibadah. Orang-orang yang terbiasa hidup keras dengan lapar dan jauh dari kelezatan dunia memiliki keagamaan yang lebih baik dan lebih giat beribadah daripada orang yang terbiasa dengan kemakmuran dan kemewahan. 

Orang-orang yang terbiasa dengan kemakmuran lebih cepat binasa ketika menemui masa paceklik dan kelaparan, penyebabnya, Orang-orang yang bergelimang dengan kemakmuran usus – usus mereka lebih basah diatas ukuran normal. Ketika kondisi usus sudah terbiasa dengan makanan tertentu, lalu kebiasaannya berubah atau dengan makanan berjenis kasar, maka usus akan cepat mengering dan menyusut. Karena secara fisik usus itu bersifat lemah, kemudian dengan cepat bisa menderita sakit dan pemiliknya bisa binasa seketika. 

Orang yang binasa karena kelaparan disebabkan oleh kondisi kenyang sebelumnya, bukan disebabkan oleh kelaparan yang baru datang tersebut. 

Penyebab semua itu adalah kebiasaan (habit). Jika jiwa membiasakan sesuatu maka sesuatu itu akan menjadi bagian watak dan tabiatnya. Kebiasaan baru yang positif dilakukan secara bertahap merupakan sesuatu yang harus dilakukan. 

Sungguh lapar itu lebih baik bagi tubuh, daripada memperbanyak makanan bagi yang mampu lapar, karena lapar berpengaruh terhadap tubuh dan akal. Karena lapar akan menjernihkan dan memperbaikinya. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s