FILANTROPI ISLAM MEMBENTUK CIVIL SOCIETY

Tidak ada padanan kata yang sama persis dengan kata filantropi, akan tetapi secara sederhana dan menjadi kesepakatan para ahli filantropi bisa di artikan sebagai bentuk kedermawanan sosial. Sejarah filantropi di indonesia tidak bisa terlepas dari islam sebagai agama. Filantropi islam mempunyai pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Filantropi islam merupakan aktivitas yang sudah mengakar dan mempunyai landasan yang pasti dalam tataran agama, kalau dilihat dari bentuk filantropi dalam islam bisa di kelompok dalam tiga bentuk, Bentuk pertama zakat, kedua sedekah, dan ketiga wakaf.  Kemudian Ketiga bentuk tersebut diuraikan ke dalam aktivitas individu maupun kolektif sebagai pendorong kemandirian umat. Sehingga dalam perjalanannya filantropi islam terkait erat dengan masyarakat sipil atau civil society.  Didalam islam bentuk filantropi itu menjadi kesadaran bagi individu, yang memang menjadi pernyataan riel tentang keislamannya. Zakat menjadi salah satu rukun islam yang harus di lakukan oleh pemeluk nya bagi yang mampu, sedekah menjadi kebutuhan individu untuk mensucikan diri sebagai wujud dari pemahaman keislamannya, sedekah ini bisa  dilakukan oleh siapapun individu dari tingkat ekonomi tinggi sampai rendah, sedangkan wakaf menjadi aktivitas yang berorientasi untuk mendapatkan imbalan dari ALLAH, yang bersifat jangka panjang, bahkan mungkin seumur hidupnya. 

Apa itu masyarakat sipil atau civil society?  Penjelasan secara umum, masyarakat sipil merupakan aktivitas memaksimalkan partisipasi individu dan kolektif yang di organisir untuk memberdayakan masyarakat, sehingga aktivitas ini sebagai penyeimbang bagi negara. Ada hipotesis yang muncul, ketika negara lemah akan membuat aktivitas filantropi kuat, dan ketika negara kuat maka aktivitas filantropi tetap berjalan walau tidak begitu kelihatan menonjol. Sejarah mencatat pada masa kolonial dan orde baru pemerintahan kuat, sehingga berpengaruh terhadap eksistensi aktivitas filantropi, pada masa orde lama dan orde reformasi pemerintahan lemah sehingga aktivitas filantropi pun menguat.

Peranan Masyarakat sipil atau civil society bisa dilihat ketika dalam sebuah negara kondisi masyarakatnya kuat, mandiri, beradab,  berakhlak dan mampu memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara. Kalau di gambarkan bahwa filantropi islam sebagai wujud dari aktivitas masyarakat sipil yang dinamis dan progresif untuk memberdayakan masyarakat yang kurang mampu dan membutuhkan. 

Beberapa Fase filantropi islam di indonesia bisa di uraikan sebagai berikut : pertama filantropi islam pada masa kerajaan – kerajaan islam (para sultan), kedua pada masa kolonial Belanda, ketiga pada abad ke 20 dan yang keempat pada masa sekarang. Masing-masing masa mempunyai karakteristik yang berbeda. Pada masa para sultan,  aktivitas zakat banyak di kendalikan oleh raja, sehingga rawan manipulasi. Pada masa kolonial, kekuatan pemerintah kolonial sangat kuat, tetapi mereka tidak ikut campur urusan aktivitas filantropi, sehingga pada awal abad 20 muncul aktivitas filantropi dari rahim organisasi islam, misal Muhammadiyah. Pasca kemerdekaan sampai sekarang aktivitas filantropi mengalami banyak pergeseran dan perubahan, tentunya di sesuaikan dengan perkembangan zaman. 

Pada masa sekarang aktivitas filantropi menjadi populer untuk di diskusikan, terkait dengan pengelolaannya. Ada beberapa pendapat tentang hal tersebut, setidaknya ada tiga pendapat : pertama zakat dikelola oleh pemerintah, masyarakat ikut didalam tetapi tidak memiliki wewenang, hanya sebagai pelaksana, misal BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional). Kedua zakat dikelola oleh kelompok masyarakat tanpa campur tangan pemerintah, tetapi masih menjalin hubungan sebagai koordinasi, misal Lazismu Muhammadiyah. Ketiga zakat dikelola oleh masyarakat tanpa campur tangan pemerintah, bahkan menjauhi peran pemerintah. 

Memang ada beberapa hal yang harus dipahami bersama bentuk filantropi zakat, sedekah dan wakaf merupakan ritual ibadah yang diyakini oleh umat islam. Tetapi tidak menjadi keharusan negara untuk ikut campur, karena Indonesia bukan negara islam dan tidak bisa memaksa masyarakat untuk menjalankan bentuk filantropi tersebut. Bahkan islam pun tidak bisa memaksa pemeluk nya untuk menjalankan semuanya, Dalam Islam pun hanya bersifat anjuran, karena terkait hubungan manusia dengan Tuhan. Umat islam sudah memiliki kesadaran dengan sendirinya karena islam memang menganjurkan hal itu. (zen

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s