Pemimpin Teladan Ini Pernah Pimpin Muhammadiyah

Di tangannya, Islam terasa sangat mudah dan toleran. Dalam berdakwah, ia memegang prinsip: Islam harus dibawakan dengan senyum. Ia menyadari betul, senyum memiliki nilai ibadah. Kata Nabi SAW, ”Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Memimpin dengan senyum, kesan itulah yang melekat pada diri ulama kharismatik ini. Agaknya, prinsip ‘senyum’ ini ikut membentuk wajah Muhammadiyah—ormas Islam yang pernah beberapa periode dipimpinnya—terasa teduh.

Tokoh dan ulama Muhammadiyah itu tak lain adalah KH Abdul Razaq Fachruddin atau lebih akrab disapa dengan panggilan Pak AR. Dilahirkan di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916. Ia adalah anak ketujuh dari 11 bersaudara pasangan KH Fachruddin dengan Nyai Hajjah Fachruddin binti KH Idris. KH Fachruddin adalah seorang lurah naib (penghulu) dari Istana Pakualaman. Di kala usianya menginjak 16 tahun, ia menjadi yatim karena ayahnya meninggal dunia.

Masa kanak-kanak Abdul Razaq dihabiskan di Pakualaman. Setelah berusia tujuh tahun, bersama orang tuanya ia pindah ke Purwanggan. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Mulai dari Standard School Muhammadiyah Bausasran, Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Sekolah Guru Darul Ulum Muhammadiyah Sewugalur, Kulonprogo, sampai Tabligh School Muhammadiyah.

Perjalanan kariernya dimulai dari bawah, yaitu sebagai guru dan mubaligh pada usia yang masih belia, 18 tahun. Dengan bekal pendidikan yang diperolehnya tersebut, tahun 1936 ia dikirim oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk menjadi guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Palembang. Ia mendedikasikan diri sebagai guru di Palembang selama 10 tahun. Setelah itu, ia pulang ke kampung halamannya, Bleberan.

Tahun 1944, atas permintaan kepala sekolah Darul Ulum, ia mengajar di sana dan menjadi anggota pengurus Muhammadiyah Sewugalur. Ketika Indonesia merdeka, tahun 1945, AR ikut menjadi anggota Barisan Keamanan Rakyat (BKR) tingkat kecamatan atau pasukan Hizbullah Yon 39. Ia juga pernah menjadi pamong desa Kelurahan Galur, Brosot, Kulonprogo, selama setahun.

Pada awal kemerdekaan negeri ini, Pak AR diangkat menjadi pegawai Departemen Agama. Berbagai jabatan pernah ia emban, seperti kepala Kantor Urusan Agama di Adikarto, Wates, pada tahun 1974.
Tidak lama kemudian, ia pindah ke Kulonprogo, Sentalo, dalam jabatan yang sama. Selama sembilan tahun (1950-1959), ia menjadi pegawai jawatan agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berkantor di Kepatihan.

Tahun 1959, ia pindah ke Semarang dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Tahun 1964, ia kembali ke Yogyakarta dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi DIY hingga pensiun tahun 1972.

Kiprah di Muhammadiyah
Adapun aktivitasnya di Persyarikatan Muhammadiyah bermula sebagai pimpinan Muhammadiyah Kotamadya Yogyakarta (1952), ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (1953), anggota Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah (1956-1965), Ketua PP Muhammadiyah (1968-1992), dan penasihat PP Muhammadiyah (1992-1995).

Selama 24 tahun—dari tahun 1968 sampai tahun 1992—Pak AR menjadi orang nomor satu di Muhammadiyah. Amanah tersebut ia pegang tatkala KH Faqih Usman, Ketua PP Muhammadiyah waktu itu, meninggal dunia. Faqih Usman terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah periode 1968-1971. Tapi, belum setahun ia memegang amanah sebagai pimpinan Muhammadiyah, Faqih Usman (Ketua Muhammadiyah) meninggal dunia. Maka, oleh pengurus, Pak AR didaulat secara aklamasi untuk menggantikan posisi Faqih Usman pada 3 Oktober 1968. Sejak saat itu, ia dikokohkan dalam setiap muktamar-muktamar Muhammadiyah berikutnya.

Pada Muktamar ke-42 Muhammadiyah di Yogyakarta, tahun 1990, Pak AR yang terpilih sebagai 13 besar anggota PP Muhammadiyah menolak jabatan ketua PP. Ia memberikan alternatif penggantinya kepada KH Ahmad Azhar Basyir MA. Dengan demikian, genaplah 22 tahun ia menjadi ketua PP Muhammadiyah.

KH AR Fachruddin berkali-kali ditawari untuk menjadi anggota DPR. Akan tetapi, karena khawatir tersita waktunya, ia menolak tawaran anggota DPR tersebut dan lebih memilih mengurus Muhammadiyah. Namun kemudian, ia menerima jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan dilantik pada 14 Agustus 1988.

Pernikahannya dengan Siti Qamariah binti Kiai Abu Umar pada tahun 1938 mendapatkan tujuh orang putra-putri. Setelah sempat dirawat di RS Islam Jakarta, Pak AR wafat pada 17 Maret 1995.

Sosok sederhana, jujur, dan ikhlas
Sebagai seorang Muslim, KH AR Fachruddin selalu berkecimpung dalam bidang keagamaan dan kemasyarakatan. Sebagai ketua PP Muhammadiyah, ia telah memberi contoh teladan yang baik untuk para pengikutnya. Sebagai contoh, dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan, ia selalu menempuh cara kolegial, yaitu memusyawarahkan segala tindakan yang akan ditempuh organisasi sekalipun dalam hal yang kecil. Sesuatu yang tampak menonjol dari pribadi Pak AR adalah kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan. Tiga sifat itulah, yang menurut para penerusnya di Muhammadiyah, sebagai warisan utama Pak AR yang perlu dihidupkan tidak hanya oleh kalangan Muhammadiyah. Bagi yang pernah kenal dan menengok keseharian Pak AR, mereka akan sepakat bahwa tokoh yang satu ini adalah sosok yang amat sederhana.

Dalam buku Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20 karya Herry Mohammad dkk, budayawan Emha Ainun Nadjib mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Pak AR.

”Sedemikian melimpah rezeki dari Allah kepada Pak AR sehingga kehidupan beliau hampir sama sekali tidak bergantung kepada barang-barang dunia.” “Pernahkah Anda membayangkan ada seorang pemimpin organisasi besar yang anggotanya berpuluh-puluh juta yang mencari nafkah hanya dengan beberapa jerigen minyak tanah dan bensin untuk dijual di depan pagar rumahnya?”

Kekaguman Emha tak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan, ”Di tengah zaman, di mana para pemimpin orang banyak serta para pemegang kekuasaan dan senapan banyak mengolusikan modal-modal itu untuk perolehan-perolehan finansial, bisakah Anda berpikir ada seorang kiai besar yang profesi ekonominya adalah penjual eceran minyak di kios pinggir jalan?”

“Di tengah era di mana seorang kiai bisa menjual kekiaiannya, seorang pemimpin bisa mengomoditaskan kepemimpinannya, serta seorang penggenggam massa bisa mengencerkan akses-aksesnya. Kata apakah yang sebenarnya bisa kita ucapkan kepada Pak AR yang bersih dari semua itu? ”Emha benar. Di rumah ‘dinas’ milik persyarikatan di Jalan Cik Ditiro,Yogyakarta, kesederhanaan itu tampak. Pak AR bukanlah penganut tarekat atau seorang sufi. Tapi, pembawaannya sangat sederhana dan juga kehidupannya dalam keluarga. Saking sederhananya, meski ada garasinya, tak ada mobil yang menjadi penghuninya. Yang nangkring di garasinya hanya sebuah sepeda motor Yamaha butut keluaran 1970-an. Motor ini yang ia pakai untuk berdakwah di sekitar Yogya. Kalau motor tersebut kebetulan dipakai anak-anaknya untuk kuliah atau keperluan lain, ia lebih suka naik sepeda onthel, becak, atau jalan kaki. Tak jarang Pak AR dibonceng naik motor oleh anak-anak SMA untuk mengisi pengajian di sekolah atau masjid-masjid kampung.

Dilihat secara kasat mata, sesuatu yang tak lazim bila seorang pemimpin organisasi modern terbesar di Indonesia yang punya puluhan rumah sakit dan ribuan sekolah itu hidup dengan penuh kesederhanaan. Di rumahnya, tak hanya ada kios bensin, tapi juga beberapa kamar disewakan untuk kos-kosan mahasiswa. Dalam sebuah pengajian, Pak AR ditanya oleh seorang jamaah, ”Pak AR, dalam hadis diterangkan bahwa selama bulan Ramadhan semua setan dan iblis dibelenggu. Tetapi, mengapa kenyataannya masih banyak orang berbuat maksiat di bulan Ramadhan?”

Dengan kalem dan suara serak-serak basah, Pak AR menjawab, ”Yah, itulah manusia. Banyak yang lemah iman. Dengan setan dibelenggu saja kalah, apalagi melawan setan lepas-lepasan.”
Pak AR dikenal sebagai pendakwah yang tidak menyinggung orang lain, melainkan mengajak umat untuk berintrospeksi diri. Ketika banyak orang menentang dan mempertanyakan perayaan Sekaten di Yogyakarta yang menggelar tontonan dangdut, tong setan, bola maut, dan sejenisnya. Pak AR dengan kalem menjawab, ”Kalau tak rela perayaan Sekaten ada tari dangdut, tong setan, bola maut, dan sejenisnya, ya mari kita gembirakan dengan kesenian yang bermutu dan bercitra Islam.”

“Jika umat agama lain punya sekolahan, panti asuhan, rumah sakit, ayolah kita tanding. Jangan cuma menggerutu. Ada yang tiap malam Minggu nonton bioskop karcis seribu, tapi kalau jumatan kasih 50 rupiah. Kalau tidak boleh, mentang-mentang membawa agama Allah melanggar jalur helm.”

Kesejukannya sebagai pemimpin umat Islam juga bisa dirasakan oleh umat agama lain. Ketika menyambut pemimpin umat Kristiani sedunia, Paus Yohannes Paulus II, di Yogyakarta dalam sebuah kunjungan resmi di Indonesia, Pak AR menyampaikan unek-unek dan kritik kepada Paus.

Ia mengeluhkan bahwa tak sedikit umat Islam yang lemah dan tak berkecukupan sering kali dirayu umat Kristen untuk masuk agama mereka. Kesempatan itu juga ia gunakan untuk memberi penjelasan kepada Paus bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara yang perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh umat lain karena disampaikan dengan lembut dan sejuk serta dijiwai dengan semangat toleransi tinggi.

Kini, memasuki seabad Muhammadiyah, tantangan terbesarnya adalah melahirkan kembali pemimpin umat masa depan yang memiliki sosok dan kepribadian seperti Pak AR; penuh kesederhanaan, namun tetap berwibawa. Penuh kasih sayang dengan sesama dan tegas terhadap segala bentuk kemunkaran.

Diambil dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s