MEMILIH PEMIMPIN YANG BURUK DARI YANG TERBURUK

Bangsa Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi pada tanggal 9 Juli 2014, disebut pesta demokrasi karena seluruh rakyat yang ikut pemilu bebas menentukan pilihannya masing2 tanpa
paksaan dari siapapun dan dari pihak manapun. Kami mempunyai kriteria dalam memilih pemimpin / Presiden dan Wakil Presiden periode 2014-2019
Kita semua sadar, setiap manusia memiliki nilai kelebihan dan kekurangan. Tak terkecuali para capres yang ada di negara kita. Masing-masing ada nilai positif dan negatifnya. Di sini kami tidak sedang menimbang nilai positif dan negatif capres dari sudut pandang politik. Karena ini di luar kapasitas dan kemampuan kami.

Hanya saja, ada sebuah hadis yang mungkin bisa kita jadikan sebagai pertimbangan, siapakah capres yang layak untuk kita ajukan dan kita dukung untuk memimpin masyarakat Indonesia.

Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(Keadaan seseorang sesuai dengan pemahaman agama teman dekatnya. Karena itu, perhatikanlah, siapakah orang-orang yang menjadi temannya). (HR. Ahmad 8028, Hakim dalam al-Mustadrak 7319, al-Baghawi dalam Syarh Sunah 3486, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Makna hadis, hati-hati dalam memilih orang yang akan dijadikan teman dekat. Tidak semua orang layak untuk dijadikan teman. Sadar maupun tidak, teman bisa mempengaruhi dan mengisi kepribadian kita. Para ulama mengatakan,
(Teman itu yang akan menyeret kita, bisa ke surga dan bisa ke neraka).

Dan umumnya karakter manusia, tidak berbeda dengan karakter teman pergaulannya. Pepatah mengatakan, burung hanya akan berkumpul bersama kawanannya. Karena itu, salah satu indikator untuk menilai baik dan buruknya seseorang, bisa kita lihat siapa saja orang yang berada di sekitarnya.

Ketika orang yang berada di sekitarnyya lebih dominan orang baik, semoga ini indikasi bahwa dia orang baik. Sebaliknya, ketika mayoritas manusia di sekitarnya adalah para preman, tokoh JIL, tokoh syiah, para penjajah ekonomi negara, dst, bisa jadi ini indikator bahwa dia memiliki karakter sebagaimana orang di sekitarnya.
Lihat Mayoritas Pendukungnya

Di atas, kita berbicara masalah mencari rekan. Lalu bagaimana kaitannya dengan capres. Tentu saja, tinggal kita arahkan, untuk capres adalah siapa mayoritas pendukungnya. Karena namanya pendukung jelas punya kepentingan. Dia berharap, presiden yang dia dukung, bisa membantu mewujudkan kepentingannya untuk Indonesia mendatang.

Dan menjadi bagian dari sunatullah, kebenaran islam akan selalu bermusuhan dengan kemunafikan dan kekufuran. Ahlul haq (penghasung kebenaran) akan selalu berlawanan dengan ahlul bathil (penghasung kebatilan). Di masing-masing kelompok, mereka saling mendukung, saling tolong-menolong. Ahlul batil bersama-sama berjuang menegakkan kebatilan. Ahlul haq saling bantu-membantu mewujudkan kebenaran. Ingat, mereka berkumpul karena kesamaan visi dan misi.

Anda bisa bandingkan karakter mereka di dua ayat berikut,

(Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi bagian yang lain. Mereka menyuruh membuat yang munkardan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (tidak mau infak di jalan Allah). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik). (QS. At-Taubah: 67).

Ini kelompok pertama, penghasung kebatilan. Di ayat berikutnya, Allah menceritakan karakter manusia jenis kedua,

(Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Merekamenyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana). (QS. At-Taubah: 71)

Pilpres kali ini, nampaknya mengulang sejarah politik bangsa Indonesia tahun 60an. Di saat terjadi ketegangan antara masyumi dengan NASAKOM. Dan seperti yang anda tahu, kehadiran nasakom inilah yang melatar belakangi munculnya G30S PKI.

Pilpres 2014, terbentuk dua kubu dengan dua pendukung yang sangat kontras. Capres pertama dihasung para cendekiawan, penggiat dakwah islam dan mereka yang memiliki harapan untuk membebaskan Indonesia dari cengkraman asing.

Sementara capres kedua lebih banyak didukung para preman, tokoh dan media liberal, tokoh JIL, penganut syiah, dan tak ketinggalan, komunitas corong Beijing.

Pada capres pertama, ada banyak harapan untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa bersama kaum muslimin. Mewaspadai keterlibatan asing yang telah menjajah sumber daya alam nusantara dan ekonomi bangsa. Semoga ini bagian dari usaha penegakan amar makruf nahi munkar, saling membatu mewujudkan kemaslahatan bersama, dan menggagalkan kebatilan bercokol di nusantara.

Sementara sebagian cenderung pada capres kedua, agar RUU anti kemaksiatan bisa digagalkan. Ada juga yang cenderung memilih capres kedua karena semangat anti-islam. Tidak jauh beda dengan semangat orang kafir, amar munkar nahi makruf, saling membatu mewujudkan kemungkaran, dan menggagalkan kebenaran.

Selanjutnya, kepada siapa anda berpihak?

Diambil dari berbagai sumber

3 thoughts on “MEMILIH PEMIMPIN YANG BURUK DARI YANG TERBURUK

  1. setuju sekali dengan tulisan Anda, sayangnya banyak yang tidak mengerti permasalahan Bangsa ini…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s