REVITALISASI SUMPAH PEMUDA

ADA harapan yang sangat wajar ketika pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menghidupkan kembali Kementerian Pemuda dan Olah Raga. Harapan yang sangat wajar itu adalah bagaimana pemerintah membenahi sektor kepemudaan yang belakangan ini sarat dengan masalah di tengah perkembangan zaman yang makin modern ini.
Pemuda yang dikatakan sebagai penerus kelangsungan hidup bangsa, kini terkesan semakin jauh dari harapan itu. Dengan adanya menteri yang khusus mengurusi masalah kepemudaan dan olah raga, diharapkan masalah-masalah tentang kepemudaan dapat ditangani secara baik. Tentu saja dalam konteks pemahaman yang lebih luas, artinya potensi pemuda dipandang sebagai aset bangsa, bukan lagi memandangnya dari pemikiran yang sempit. Misalnya menjadi salah satu onderbouw parpol atau kepentingan linnya.
Hari ini, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Harus diakui, penghayatan serta pengamalan substansi peristiwa monumental yang dilakukan para pemuda kita 76 tahun yang lalu, kian memudar. Berganti dengan sikap apatis serta cenderung hedonis.
Bolehlah kita mengambil alasan bahwa zaman telah berubah. Tetapi, harap diingat dan harus diresapi pula bahwa seharusnya intisari peristiwa itu tidak boleh tergerus oleh zaman. Tidak basah oleh hujan, serta tak lekang oleh panas. Banyak faktor yang membuat para pemuda kita saat ini begitu terjerumus dalam kegilaan zaman. Salah satu penyebabnya adalah semakin minimnya sosok yang bisa dijadikan panutan. Ketika mereka kehilangan sosok yang dikagumi yang patut menjadi teladan, mereka pun sebagian ada yang memuja kenikmatan duniawi yang sesat. Menjadi pecandu narkoba, melakukan tindak kriminalitas, prostitusi dan sebagainya.
Kita berharap, pelacuran dalam konteks makna yang sangat luas, segera diakhiri di negeri ini. Tampilnya duet Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang menjanjikan perubahan, harus mampu mewujudkan seribu janji itu ke dalam bukti yang nyata.
Gebrakan awal pemerintah yang mencanangkan 100 hari sebagai tonggak indikator penting, sejauh ini bolehlah. Komitmen SBY beserta para menterinya untuk segera memberi bukti merupakan langkah yang bagus.
Boleh jadi, janji SBY yang turun langsung merupakan sebuah shock therapy bagi jajaran di bawahnya untuk segera berbuat lebih baik dan benar bagi negara dan bangsa ini. Kita tentu berharap, terapi kejut ini bukan merupakan bagian dari janji-janji yang begitu diumbar pada masa kampanye lalu.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah pemerintah untuk mewujudkan good governance serta clean government, paling tidak akan berimbas positif dalam pembentukan watak bangsa ke depannya. Khususnya dalam pembinaan mental generasi mudanya.
Dengan demikian, janji para pemuda kita pada 28 Oktober 1928 untuk berbangsa satu, berbahasa satu serta bertanah air satu yakni Indonesia, merupakan sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada saat itu, bukan sekadar sumpah. Sumpah yang berdasarkan atas kesadaran, kerelaan serta kecintaan untuk bersatu mengusir musuh bersama saat itu: kolonialisme.
Untuk itulah, ketika rasa nasionalisme mulai goyah dan bibit disintegrasi bangsa mulai tumbuh di mana-mana, kita patut menengok kembali perjalanan sejarah bangsa ini. Ada benang merah yang harus tetap ditegakkan. Ada fakta sejarah yang sama sekali tidak boleh dihapus. Kita harus merevitalisasi momentum ini sebagai sebuah kekuatan baru untuk membangun Indonesia.
Memang, musuh bersama yang kita hadapi saat ini berbeda. Bukan lagi kolonialisme atau imperialisme, tetapi lebih merupakan rasa egoisme yang terpupuk begitu subur pada sebagian rakyat negeri ini. Ketika perasaan itu dibiarkan subur dan bertambah liar, justru sangat mengingkari aksi historik yang dilakukan para pemuda 76 tahun silam. Merupakan sebuah pengkhianatan dari substansi Sumpah Pemuda itu sendiri.
Kita berharap, tampilnya SBY-JK ke tampuk pemerintahan, mampu memelopori kembali tumbuhnya tunas-tunas baru di bidang kepemimpinan yang benar-benar patut menjadi teladan para generasi muda ke depan. Jika tidak, kita akan benar-benar akan sangat kehilangan. Kehilangan masa depan berarti benar-benar masa kelam suatu bangsa. Tentu saja, kita tidak ingin hal itu terjadi.
Tajuk Rencana Balipost kamis, 28 Oktober 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s