Arogansi Campur tangan Prof.Dr. Thomas Djamaluddin , telah memecah belah Umat Islam di Indonesia (Kadar Keilmuan dan Keislamannya Perlu Dipartanyakan?)

Lepas dari kapan seharusnya tanggal 1 Syawal 1432 H ditetapkan, tapi tulisan ini hanya menyoroti, mengapa sidang Itsbat telah mempermalukan Umat Islam Negeri ini.

Sidang itsbat yang secara tidak langsung mengangkat hasil kajian Prof. Dr. Thomas Djamaluddin sebagai acuan penetapan tanggal 1 Syawal 1432 H yang dalam penetapannya sudah dirancang sedemikan rupa agar tidak bisa ditolak oleh siapapun dan dengan cara apapun.
Saya sama sekali tidak akan menyalahkan Teori Prof. Dr. Thomas Djamaluddin walaupun dari perkembangan berikutnya kepakaran Beliau perlu dipertanyakan. Tapi yang akan saya garis bawahi bahwa Teori yang beliau paparkan adalah Teori Astronomi yang dirujukkan atas hanya pada satu Madhab , yaitu Ru’yah Madhab Imam Syafi’i dengan mengesampingkan Madhab-Madhab yang lain ( Hanbali. Maliki dan Hanafi ) atau apa lagi Umat Islam yang bukan penganut Madhab ( Muhammdiyah )

Pemaksaan pengetrapan Madhab Syafi’i yang dirancang melalui Teori Astronomi nya Prof. Dr.Thomas Djamaluddin pasti identik dengan Pendapat Organisasi Islam terbesar di Negeri ini yaitu Nahdlatul Ulama yang adalah penganut Madhab Syafi’i. Yang tidak mengesahkan Ru’yah Global. Tapi ada yang dilupakan oleh Sang Profesor, bahwa bila madhab Syafi’i diterapkan secara penuh di Negeri ini dengan bentangan beda waktu lebih dari dua jam maka tetap akan berpotensi menjadikan Negeri ini pada dua ketetapan tanggal yang berbeda .

Ambisi untuk menunjukkan betapa hebat kebenaran kajiannya yang tak terbantahkan , menjadikan sidang itsbat menjadi satu arogansi kekuasaan atau premanisme intelektual , pemaksaan kehendak, tapi mereka tidak sadar bahwa sidang itsbat justru menjadi sidang kebodohan. Sidang Jahiliyah , Mengapa ?

Perjalanan sidang yang diawali dengan pemaparan tentang tidak adanya kemungkinan dilakukannya ru’yah dan tanggapan dari peserta sidang yang sebagian besar bermadhab Syafi’i , seharusnya harus sudah selesai setelah disepakati tidak akan ada hilal yang tampak dan apa bila ada yang mengaku melihat adalah harus ditolak. Tidak perlu lagi dibacakan hasil pantauan ru’yah yang akhirnya hanya akan menyakiti pihak lain. Dan ini adalah puncak satu Provokasi yang tak terbantahkan lagi , atau kebodohan jahiliyah.

Betapa besarnya jumlah penduduk Islam di Negeri ini, betapa banyaknya aliran dan madhab ataupun non madhab di Negeri ini, tapi dalam sidang Itsbat waktu itu dipaksakan untuh hanya menggunakan Madhab Syafi’i . Hal itu memang dimungkinkan bila dikehendaki , atas dasar ketetapan Negara sebagai Ulil Amri .

Kalau Negara memang akan dianggap sebagai Ulil Amri , Kemabali saya tanyakan , beranilah Kyai H. Ma’ruf Amin memfatwakan Syari’at Islam berlaku di Negeri ini ?

Beranikah Prof. Dr. Thomas Djamaluddin dan Nahdlatul Ulama Mengusulkan Syariat Islam berlaku di Negeri ini ?
Beranikah Menteri Agama menyatakan bahwa Menteri Agama adalah menterinya Umat Islam ?
Tolong, jangan berstandar ganda biarkan Negeri ini tetap Plural dengan kesempatan beribah yang penuh. Kami umat Islam sama sekali tidak menuntut Negeri ini menjadi Negara Islam , tapi jangan pecah belah umat dengan pemaksaan kehendak

Penulis: Ibnu Dawam Aziz

2 thoughts on “Arogansi Campur tangan Prof.Dr. Thomas Djamaluddin , telah memecah belah Umat Islam di Indonesia (Kadar Keilmuan dan Keislamannya Perlu Dipartanyakan?)

  1. Ada standar ganda yg secara tdk sadar maupun sadar telah diterapkan oleeh ibnu dawaam azis.

    Seakkan-akanpihak yg bermaain di ranah ini diibelakkang Prof. Djjaamaludin Thomas adalah pihak NU.
    Sadar atau tdk sadar saudara ibnu dawan azis justru malah memperuncing masalah dengan membawa2 nama Nahdlatul Ulama di pihak yg membuat sidang istbat jd tidak menarik.
    Seakan-akan menafikkan ormas islam laen yg hadir yg jumlahnya hampir 30-an. Mrk jg punya pendapat sendiri. Ppunya ajaran yg nota bene berbbeda dengan Nahdlatul Ulama.
    Hanya kebetulan saja merekka semua satu pemikiran dg NU dan MUI serta pemerintah ttg penenttuan hari raya. NU oleh saudara ibnu dawan azis diposisikan sbg ormaas penghegemoni.

    SAya justru melihat anda membuat bias perpecahan ummat

  2. kita juga harus objektif boz,,, prof thomas terlalu angkuh sebagai seorang akademisi. kalau memang ada pihak dibelakang prof thomas kita juga tidak tahu,,, tp kalo dilihat pada saat sidang isbat memang arahnya kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s