MEMBUMIKAN AKHLAK: Terciptanya humanitas yang sesungguhnya

Seorang muslim itu menjaga kesucian diri dan pemalu. Malu adalah akhlaknya. Malu itu bagian dari iman, dan iman itu akidah seorang muslim dan pondasi hidupnya.
Sabda rasulullah:
Malu dan iman itu dua hal yang saling berhubungan, apabila salah satunya diangkat maka yang lainnya pun diangkat. (HR. Hakim dan disahihkan sesuai dengan syarat Muslim: 1 / 2)
Kesamaan antara iman dan malu adalah sama-sama mengajak pada kebaikan dan menjauhi kejahatan. Iman itu mendorong orang mukmin untuk mengerjakan ibadah dan meninggalkan perbuatan maksiat. Sedangkan malu itu mencegah pelakunya dari malas bersyukur kepada Allah yang maha pemberi kenikmatan dan dari sikap meremehkan dari memenuhi hak kepada orang yang berhak. Apabila seorang muslim memiliki rasa malu, ia tidak akan berbuat jahat dan berkata buruk karena takut akan mendapat celaan. Malu itu tidak mendatangkan apapun kecuali kebaikan. (HR.Bukhari. 8 /35 dan Muslim bab iman no,60)
Lawan dari sifat malu adalah sifat keji. Sifat keji adalah jorok dalam perkataan dan perbuatan, serta kasar dalam berbicara. Seorang muslim bukanlah orang yang jorok atau orang suka berkata jorok, dan bukan pula orang yang keras dan kasar. Sifat seperti itu adalah sifat-sifat penghuni neraka. Seorang muslim itu adalah penghuni surga, insya Allah. Hal ini seperti apa yang disabdakan rasulullah:
Malu itu bagian dari iman, dan (ahli) iman itu masuk surge, dan sifat tidak malu itu bagian dari kekejian, dan (ahli) keji itu masuk neraka. (HR.Muslim bab iman no 59, dan imam ahmad: 912, 501)
Ketika seorang muslim mengajak untuk memelihara dan menumbuhkan akhlak malu pada diri manusia, sebenarnya dia sedang mengajak pada kebaikan. Karena sifat malu itu bagian dari iman dan iman adalah pusat segala keutaman dan pokok dari segala kebaikan.
Dalam riwayat sahih, rasulullah saw pernah melewati seorang laki-laki yang sedang menasihati saudaranya karena sangat pemalu, lalu beliau bersabda:
Biarkanlah dia, karena sifat malu itu bagian dari iman.( HR.Bukhari: 1 / 12, 8 / 35, Abu Daud: 4795 dan An Nasa’I : 8 / 121)
Dengan demikian, beliau telah mengajak seorang muslim untuk tetap memiliki sifat malu dan melarang menghilangkannya, meskipun sifat malu menghalangi pelakunya untuk dapat memenuhi sebagian hak-haknya. Karena hilangnya hak-hak seseorang itu lebih baik dari pada kehilangan sifat malu yang merupakan bagian dari imannya.

Sumber: Dikutip dari Minhajul Muslim hal.281-283

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s