NURDIN HALID TIDAK PUNYA “KEMALUAN”!

Nurdin Khalid membuat sensani dengan mendeskualifikasi dua calon lainnya yaitu George Toisutta dan Arifin Panigoro dalam kompetisi calon ketua umum PSSI periode 2011-2015. Seolah-olah keputusan yang natural tetapi itu semua sudah di rekayasa oleh pengurus PSSI, karena memang mereka para pengurus PSSI ingin membuat dinasti baru dan mengangkat Nurdin Khalid sebagai rajanya. Dalam kerajaan pasti dipimpin oleh raja seumur hidup dan raja akan digantikan keturunannya. Relakah jika PSSI itu diprivatisasi? Tentunya tidak bukan, maka semua pihak yang berkepentingan harus melakukan intervensi terhadap PSSI. Sepak bola yang notabene salah satu cabang olah raga dibawah Komite Olah Raga Nasional Indonesia harus tunduk patuh terhadap oknum yang ingin merusak semacam Nurdin Khalid, Nirwan Bakri dan Nugraha Besoes. PSSI seharusnya tunduk pada aturan main yang dibuat oleh KONI dan Menpora bukan kepada mereka para pedebah. Nurdin Khalid pernah tersandung kasus korupsi di PUSKUD Sulawesi Selatan dan berakhir dipenjara tetap masih bisa memimpin PSSI. Memang luar biasa Nurdin Khalid bahkan pemerintah pun tidak bisa menyentuhnya, intervensi setengah-setengah yang dilakukan menandakan pemerintah lemah dihadapan nurdin Khalid. Jadi tidak heran jika nurdin sekarang berani mencalonkan diri lagi menjadi ketua umum PSSI dan mendiskualifikasi competitor lainnya.

Rezim Nurdin Halid dan Kompetisi Minus Prestasi

Kompetisi itu digelar kembali. Liga super Indonesia (LSI) namanya. Inilah tahta kompetisi sepakbola nasional tertinggi. Di bawahnya bernama Divisi Utama, Divisi Satu, dan seterusnya. Semua itu dihelat PSSI. Otoritas sepakbola nasional yang usianya lebih tua dibanding Republik Indonesia sendiri.

Guliran kompetisi sepakbola nasional secara periodik dan terjadwal sangat dibanggakan rezim PSSI sekarang di bawah kendali Nurdin Halid. Katanya, kompetisi sepakbola Indonesia memperoleh acungan jempol AFC (Asosiasi Sepakbola Asia). Sebab, guliran kompetisi itu bisa dijalankan secara periodik, ajeg, dan terjadwal.

Apakah hasil akhir kompetisi itu cukup dengan acungan jempol dan pujian AFC? Tentu saja tidak. Rezim Nurdin Halid di PSSI yang pelit prestasi internasional adalah realitas lain yang mesti diakui secara fair, jujur, dan terbuka. Untuk apa ada kompetisi yang gegap-gempita di tingkat nasional, tapi sepi dan miskin catatan prestasi di ranah internasional.

Itulah problem berat rezim PSSI di bawah Nurdin Halid sejak periode pertama masa jabatannya hingga periode kedua yang berjalan sampai sekarang. Dalam satu kesempatan di acara Rembuk Sepakbola Nasional (RSN) di Kota Surabaya, Nurdin Halid mengaku kerapkali merenung sendiri di tengah Gelora Bung Karno di Jakarta soal miskinnya Timnas di kancah internasional. Apa yang salah dengan semua itu? “Waktu saya lebih banyak habis untuk mengurusi sepakbola dibanding keluarga. Tapi, torehan prestasi internasional belum juga bisa dilahirkan,” ungkapnya.

Timnas Indonesia dan PSSI di bawah rezim Nurdin Halid terus jadi bahan sorotan dan kritikan banyak kalangan. Perputaran kompetisi nasional secara periodik dan terjadwal yang berjalan bagus seyogyanya mampu melahirkan prestasi internasional yang jempolan pula. Setidaknya prestasi itu di tingkat Asia Tenggara bahkan Asia.

Tengok saja, wakil Asia di Piala Dunia Afsel 2010 lalu, seperti Jepang dan Korsel memiliki model kompetisi nasional terjadwal dan periodik yang bagus. Demikian pula juara Piala Dunia 2010: Spanyol, memiliki kompetisi sepakbola nasional yang jempolan. Belanda (runner up), Jerman (juara ketiga), dan Uruguay (juara keempat) idem dito.

Mungkin di antara kontestan Piala Dunia Afsel 2010 lalu, hanya Korea Utara (Korut) yang model dan kualitas kompetisi sepakbola nasionalnya tak diketahui banyak kalangan di dunia sepakbola. Yang lain, model kompetisi yang berjalan periodik, terjadwal, dan berkualitas berbanding lurus dengan prestasi timnas masing-masing negara itu di ranah internasional.

Teori bagusnya kompetisi nasional dengan hasil prestasi timnas yang jempolan di ranah internasional itu yang tak berlaku di Indonesia. Kenapa? Itulah pertanyaan sederhana. Tapi, saya yakin tak semua orang bisa dengan mudah menjawabnya. Bahkan, mungkin pelaku sepakbola nasional yang telah bergelut puluhan tahun atau pengurus PSSI sendiri sekarang ini.

Kompetisi sepakbola nasional di Indonesia telah puluhan tahun digelar. Di masa lalu ada model perserikatan, yang warna dan praktek kompetisinya mirip turnamen. Kemudian ada galatama. Di sini pelibatan institusi swasta lebih banyak dan luas dibanding perserikatan, yang hanya diikuti klub plat merah (pemerintah dan klub didanai APBD). Di perserikatan, misi mengukir prestasi via sepakbola beriringan dengan raihan jabatan politik di pemerintahan.

Model kompetisi perserikatan dan galatama kemudian dilebur dengan Liga Indonesia pada awal tahun 1990-an hingga sekarang. Di tingkat puncak kompetisi nasional itu ada LSI dan Divisi Utama.

Namun demikian, prestasi Timnas yang jempolan di tingkat internasional tak kunjung datang. Sea Games 2011 di Indonesia dijadikan titik pijak akhir kepemimpinan Nurdin Halid untuk menorehkan prestasi internasional. Prestasi serupa pernah diukir ketika Timnas saat dilatih Anatoly Polosin dan Vladimir Urin dari Uni Sovyet (sekarang Rusia).

Benarkah demikian? Kita lihat saja. Yang pasti teori yang menjelaskan ada hubungan positif antara kompetisi dengan prestasi timnas belum berlaku di Indonesia. Apakah itu karena kuatnya faktor nonteknis dalam kompetisi sepakbola nasional kita? Hanya pengurus PSSI dan pelaku sepakbola nasional yang tahu.

Yang dituntut rakyat sekarang adalah Timnas dan PSSI di bawah rezim Nurdin Halid mampu membuktikan kemampuannya mengukir prestasi internasional. Tak ada gunanya membangga-banggakan kualitas kompetisi nasional, tapi Timnas miskin prestasi di ranah internasional. PSSI jangan sekadar jago kandang, tapi tak berdaya menghadapi Timnas negara lain di level internasional.

Sumber:
http://www.beritajatim.com/detailnews.php/5/Olahraga/2010-09-26/78747/Rezim_Nurdin_Halid_dan_Kompetisi_Minus_Prestasi_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s