IDEALKAH KEPEMIMPINAN SBY?

Pencarian sosok seorang pemimpin yang tepat memang tak akan pernah ada habisnya. Bagaimanakah sosok pemimpin ideal? Berbagai ahli didatangkan, dari pengamat ekonomi, sosial politik, dan termasuk ahli psikologi. Namun untuk mampu menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui ramuan dasar dari sosok pemimpin yang ideal, yaitu dasar analisis ketika para ahli mencoba meramalkan keberhasilan para calon pemimpin. Asumsi awal saya, keberhasilan seorang calon pemimpin akan bergantung dengan bagaimana kecocokan kepribadian serta visi dan misinya terhadap situasi saat itu. Dengan kata lain, seorang pemimpin akan muncul sesuai dengan tuntutan situasinya saat itu. Contohlah mantan presiden Soekarno yang anti-imperialisme, tegas dalam berprinsip, dan membawa semangat revolusi (http://tokohindonesia.com), sehingga tepat dalam memimpin Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Namun hal ini berbeda dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memiliki pembawaan tenang, berwibawa, serta bertutur kata bermakna dan sistematis (http://tokohindonesia.com) yang akhirnya terpilih dalam pemilihan presiden secara langsung untuk pertama kalinya di tahun 2004. Perbedaan situasi pada dua masa tersebut ternyata menghasilkan dua pemimpin yang sangat berbeda kepribadiaannya. Kondisi ini dikenal dengan pandangan situasionalis.
Pandangan situasionalis menekankan bahwa pemimpin terpilih tidak lebih dari sebuah refleksi budaya dan nilai dalam masyarakat pada masa itu (House, Spangler, & Woycke, 1991). Situasi pada masyarakat yang sedang menggembar-gemborkan demokrasi misalnya, menghasilkan sosok seorang pemimpin yang berani berbicara dan tidak konservatif. Namun hal ini dapat dimaknai sebaliknya, seorang pemimpin yang berani berbicara dan tidak konservatif akan terpilih dan sukses pada situasi di mana demokrasi sedang didengungkan. Pada titik ini, saya belum menemukan penelitian yang menemukan variabel mana yang mempengaruhi variabel lainnya.
Hubungan antara kepribadian pemimpin dengan situasinya disebut juga sebagai leader-situational match, yang menyebutkan bahwa the leader’s appeal dan kesuksesannya tergantung pada situasi, sehingga karakteristik kepribadian yang dibutuhkan oleh seorang calon pemimpin akan bervariasi tergantung situasi (Winter, 1987). Hal ini tercermin pada sosok para mantan pemimpin dan pemimpin Indonesia saat ini yang hampir tidak memiliki kesamaan satu dengan yang lainnya. Selain itu, begitu situasi negara berubah, maka pemimpin dengan kepribadian yang tidak cocok dengan kondisi negara tidak akan bertahan lama. Contohlah Soeharto sebagai sosok yang memiliki kontrol yang kuat terhadap dirinya maupun orang di sekitarnya (http://www.tempointeraktif.com) akhirnya lengser dari tampuk kekuasaan tertinggi di Indonesia setelah tuntutan akan demokrasi semakin tinggi.
Namun pandangan situasionalis tidak mampu menjelaskan secara menyeluruh mengenai para pemimpin yang berhasil. Apakah mereka hanyalah sekedar the right man on the right place in the right time?
Menurut House, Spangler, & Woycke (1991), pada pertengahan 1970an, mulai muncul teori-teori baru mengenai kepemimpinan yang tidak lagi menekankan pada pengaruh situasional, melainkan pada kepribadian pemimpin tersebut. Mulailah dikenal istilah kepemimpinan yang karismatik, dimana pemimpin tersebut dapat merubah kebutuhan, nilai, preferensi, dan aspirasi dari pemilih melalui tingkah laku, kepercayaan, dan contoh personal dari dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang karismatik adalah seseorang yang mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat, memiliki kedekatan secara emosional dengan pengikutnya, dan mampu membuat pengikutnya berjuang bukan hanya karena berdasarkan self-interest semata sehingga mereka memiliki motivasi kolektif. Hasilnya, muncul motivasi untuk mencapai tujuan bersama pada masyarakat dan terbentuklah masyarakat yang kuat. Teori ini mencoba mematahkan pandangan bahwa situasilah yang menentukan tipe pemimpin seperti apa yang akan terpilih atau berhasil nantinya.
Mungkin inilah yang kurang ada dalam diri pemimpin Negara Indonesia. Mungkin, hal inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia seakan-akan belum menemukan ‘pemimpin yang tak lekang dimakan zaman’. Sosok pemimpin yang tidak akan jatuh walaupun situasi berubah. Dan – lagi-lagi – mungkin, jawabannya ada pada sosok pemimpin karismatik. Hal ini memang baru sebuah kemungkinan. Namun setidaknya sebuah survei oleh Lead Institute, Universitas Paramadina dan Indo Barometer (http://www.antara.co.id) menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memang merindukan pemimpin yang karismatik.
Model Pemimpin Ideal
Keprihatinan bangsa terjadi apabila kepemimpinan tidak lagi melindungi kepentingan publik (rakyat), dibeberapa negara yang tertulis dalam catatan sejarah mengetengahkan keadaan negara yang lebih mementingkan kehendak pemimpinnya, maka egoisme individual pemimpin itu akan menggusur negara kepada kemiskinan rakyatnya dan kehancuran negaranya. Logika kepemimpinan adalah membawa kehidupan rakyatnya menuju kepada kesejahteraan, bukan sebagai arena menarik sebesar-besarnya kekayaan intelektual, materi, maupun tenaga rakyatnya untuk kesejahteraan pemimpinnya. Gejala penyelewengan pemimpin telah berjalan sejak sebuah kelompok manusia/organisasi terbentuk di bumi ini. Tipikal kepemimpinan kuno yang tingkat peradabannya masih rendah, pemimpin selalu dianggap sebagai dewa, sehingga rakyat diharuskan mengabdi dan memenuhi segala perintahnya, meskipun perintah tersebut menyengsarakan mereka. Dengan kata lain kepemimpinan pada masa peradaban rendah, rakyat merupakan objek bagi peningkatan kesejahteraan pemimpin, sehingga kekayaan alam dan sumberdaya lainnya diperuntukan untuk kesejahteraan pemimpin.
Pada masa kebangkitan peradaban, dimana Nabi Muhammad menjadi Rosululloh dimuka bumi ini, mengusung model kepemimpinan yang ditujukan untuk mengubah paradigma kepemimpinan tidak beradab. Model kepemimpinan Muhammad ditujukan bahwa pemimpin dan perangkat kepemimpinannya merupakan sosok yang membawa rakyat sebagai manusia yang merdeka dan beradab, serta sumberdaya alam dikelola untuk kesejahteraan manusia (rakyat). Sehingga seorang pemimpin sejatinya merupakan manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan moral, serta memiliki kemampuan leadership untuk membawa rakyatnya mampu memanfaatkan potensi dirinya untuk mandiri dan bermanfaat bagi diri dan masyarakat, dan membawa rakyatnya mampu mengelola sumberdaya yang dimiliki negaranya untuk kesejahteraan umum. Masa kebangkitan peradaban moral ini menyuguhkan model kepemimpinan yang ideal bagi kehidupan berbangsa di dunia, yang ditandai dengan penghapusan perbudakan, penghancuran rasdiskriminasi, pemeliharaan kekayaan negara yang diperuntukan untuk kesejahteraan msyarakat umum, penyelenggaraan lembaga keuangan yang menekankan kepada efisiensi penggunaan modal dan berkeadilan, serta mengedepankan pemerataan pendapatan melalui mekanisme zakat yang benar dan profesional dalam pengelolaannya, membangun mekanisme pasar komoditas yang terhindar dari kecurangan, dan memperlihatkan kecerdasan hubungan internasional yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam negeri dengan mengedepanlan kemandirian bangsa.
Perkembangan kepemimpinan di Dunia saat ini, terlebih di Indonesia cenderung mengabaikan model kepemimpinan yang telah disuguhkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahkan cenderung kepemimpinan Muhammad hanya dijadikan literatur ideal dan sebagai gambaran hayali yang tidak perlu dicapai. Kehidupan berbangsa pada masa modern lebih memilih model teori kepemimpinan yang ditawarkan oleh ilmuwan ketatanegaraan modern meskipun teori tersebut banyak memiliki kelemahan dalam praktiknya. Seolah model kepemimpinan Muhammad SAW bukan produk ilmiah, karena tidak termasuk kepada teori hasil pemikiran tokoh/ilmuan ternama. Sehingga pilihan lebih tertuju kepada model kepemimpinan yang memiliki cacat dan keraguan dalam mensejahterakan kehidupan berbangsa.
Phobia masyarakat dunia terhadap Islam, telah menyingkirkan teori kepemimpinan ideal ini, sehingga berbagai upaya membuat model kepemimpinan baru untuk menyainginya dilakukan dan dipraktikkan dengan pendekatan pemaksaan dan intimidasi. Kaum atau negara yang menolak model kepemimpinan Muhammad sesungguhnya sedang mengingkari kebenaran, dan mereka merupakan golongan pengecut untuk mengakui kebenaran secara ilmiah terhadap model kepemimpinan Muhammad (Model kepemimpinan Islami) tersebut.
Teori Demokrasi modern yang mengakui kekuasaan negara berada di tangan rakyat, sesungguhnya sedang membuat garis pemisah anatara rakyat yang memiliki kekuatan ekonomi dengan rakyat biasa, sehingga kepemimpinan lebih diarahkan kepada golongan masyarakat yang memiliki kekuatan tersebut (Kapitalism). Target demokrasi modern secara jelas terlihat sebagai teori penguasaan sumber-sumber ekonomi, dan peruntukannya hanya untuk golongan penguasa , sehingga bentuk-bentuk monopolistik, invasi, dan korupsi merupakan sebuah keharusan dalam praktik demokrasi, sebab praktik tersebut merupakan metoda untuk menguasai sumber-sumber ekonomi secara cepat dan merupakan metode pencapaian kekuasaan yang paling gampang. Mereka yang telah memiliki kekuasaan terhadap sumber-sumber ekonomi, maka dengan sangat gampang untuk mengendalikan rakyat, dan mereka dengan leluasa mengeksploitasinya.
Demokrasi modern tidak memberikan ruang kepemilikan sumber-sumber ekonomi yang berlimpah dan sangat dibutuhkan masyarakat banyak dikuasai oleh negara untuk dikembalikan kepada rakyat sebagai pemiliki sumber-sumber ekonomi tersebut (faktor produksi). Demokrasi modern memberikan keleluasaan kepada pihak swasta (individual) untuk menguasai sumber-sumber ekonomi, praktik teori demokrasi ini sebenarnya sedang memperlihatkan bahwa praktik monopoli kepemilikan sumberdaya diperkenankan, dan negara menjadi lembaga legalisasi terhadapnya. “Mungkinkah keadilan dapat dicapai dengan kondisi ini ?”, Bukankah praktik ini sedang mempertontonkan teori kekuatan hewan di hutan, dimana yang kuat boleh menjadi pemimpin ? Kecerdasan mana yang dapat menerima demokrasi modern dapat dijadikan model kepemimpinan yang mensejahterakan rakyat suatu negara, dan dimanakan letak keuasaan negara sebagai pelindung rakyatnya, apabila kepemilikan sumber-sumber ekonomi tidak diatur oleh negara, tapi diserahkan sebebas-bebasnya kepada individu ?
Praktik Korupsi, monopoli terhadap sumber-sumber ekonomi, swastanisasi sumber-sumber ekonomi yang merupakan hajat hidup rakyat banyak, gaya kepemimpinan yang selalu ingin diutamakan, serta masih memerlukan upeti, money politic, eksploitasi sumber daya alam yang mengabaikan keseimbangan, dan meningkatnya jumlah kemiskinan akibat rakyat miskin menjadi objek pemilik sumber daya ekonomi, merupakan produk demokrasi modern, sebab demokrasi ini memperkenankan penguasaan individual terhadap sumber daya ekonomi dengan berbagai cara.
Praktik kepemimpinan dengan pendekatan kekuasaan ekonomi, akan melahirkan penindasan, kedzaliman, dan kerakusan. Kepemimpinan model seperti ini akan melahirkan ketakutan bagi para pemimpin yang sedang duduk kehilangan jabatan. Hal ini terjadi karena berindikasi turunnya jabatan akan menurunkan jumlah kekayaan, sehingga upaya mempertahankan kekuasaan dan memperbanyak kekayaan menjadi faktor penentu kelestarian pengaruh yang dimilikinya. Apakah pemimpin yang masih memiliki ketakutan terhadap turunnya jabatan, akan mampu memimpin rakyatnya/bawahannya, dan apakah rakyat/bawahan mau dipimpin oleh seorang penakut seperti itu ?
Kaitannya dengan Manajemen keuangan, kepemimpinan Muhammad (Islami) bahwa Rosululloh mengutamakan prinsip keadilan, mengutamakan segi manfaat, sehingga teori yang menyatakan kebutuhan manusia terbatas tidaklah berlaku. Karena kebutuhan bisa dikendalikan. Keinginan atau hawa nafsu lah yang tidak terbatas. Dan bertujuan untuk kepentingan akhirat daripada dunia. Sehingga dalam praktek manajemen keuangan dalam kepemimpinan rosululloh, atau kita sebut manajemen keuangan islam, mengedepankan berkah Allah. Sehingga tidak adanya praktik gharar, riba, dan maisyir. Karena ketiga sifat tersebut sangat merugikan satu pihak dan menguntungkan satu pihak, sehingga prinsip keadilan tidak terjadi. Dalam Islam diharuskan untuk mendahulukan kepentingan ummat terlebih dahulu, sebelum mengakui kepentingan pribadi, walaupun kepemilikan pribadi tetap dijamin. Sehingga ada perintah untuk berzakat. Zakat merupakan salah satu instrumen ekonomi untuk mendistribusikan secara merata kekayaan ummat. Sehingga jurang pemisah antara kaya dan miskin tidak begitu lebar.
Dalam manajemen keuangan islam pun harus diperhatikan sumber-sumber keuangan yang didapat. Sumber-sumber tersebut haruslah terjamain kehalalan dan ke-tayyib-annya. Begitu pula untuk pengeluaran atau investasi dari modal-modal uang dimiliki, haruslah untuk kemaslahatan ummat dan dibidang yang halal dan tayyib.
Menerapkan model kepemimpinan Muhammad dalam berorganisasi, termasuk organisasi profit, dan bernegara, merupakan pilihan rasional dan ilmiah, sebab kelemahan dari model ini hanya disebutkan oleh orang-orang yang tidak menghendaki kebenaran dan kesejahteraan manusia tegak dimuka bumi ini.
Perlu kita renungkan berdasarkan beberapa model diatas apakah kepemimpinan SBY ideal atau tidak ideal. Menjadi tugas kita sebagai bangsa Indonesia untuk mencari pemimpin yang ideal demi terciptanya masyarakat Indonesia utama, adil, makmur dan diridhoi ALLAH SWT. Amien!
Sumber:
House, R. J., Spangler, W. D., & Woycke, J. (1991). “Personality and Charisma in the U.S. Presidency: A Psychological Theory of Leader Effectiveness”. Administrative Science Quarterly, 36, (3), 364-396

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s