KPK bukan jabatan untuk cari Duit

*Zaenal Arifin
Tanggal 15 juni 2010 pukul 00.00 penutupan pendaftaran menjadi pimpinan KPK ditutup,banyak tokoh – tokoh yang yang tertarik untukmenjadi pimpinan KPK. Sebut saja Busro Muqodas (Ketua Komisi Yudisial), Jimmly Asshidiqie (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), Bambang Wijoyanto (mantan pengacara KPK) dan masih banyak lagi pendaftar dari berbagai kalangan dan profesi. Apakah gerangan yang membuat mereka tertarik? Hipotesis yang bisa di ambil adalah mereka ingin mengabdikan diri untuk bangsa dalam pemberantasan korupsi.
Sanggupkah mereka para calon pimpinan KPK menyelesaikan masalah korupsi? Korupsi diindonesia sudah memprihatinkan, para pakar mengatakan korupsi sudah menjadi budaya yang buruk dari bangsa Ini. Korupsi sudah menjadi kejahatan yang sempurna, kejahatan sempurna bukan epos tentang penjahat yang tidak pernah tertangkap penegak hokum dan mempertanggung jawabkannya dengan menjalani hukuman. Kejahatan sempurna adalah kejahatan terorganisasi dan dilakukan pengambil keputusan dari institusi legal. Institusi yang rentan untuk melakukannya adalah apparatus Negara.
Panitia seleksi harus benar – benar selektif dalam melakukan verifikasi, jangan sampai ada intervensi yang akan menggangu berlangsungnya proses awal ini. Menurut Koordinator hokum dan Pemantau Peradilan Indonesia Corruption watch (ICW)Febri diansyah, panitia harus tidak toleran terhadap perbuatan koruptif sekecil apapun yang pernah dilakukan pada masa lalunya, jika terbukti bermasalah calon harus dicoret, upaya itu diperlukan untuk menghindari calon bermasalah yang akhirnya lolos jadi pimpinan KPK(SM, 14/07/2010), Pengalaman yang dialami bangsa Ini pada KPK periode lalu harus tidak lagi terulang karena proses seleksi yang tidak tegas dan berwibawa.
Menurut salah satu panitia seleksi Rhenald Kasali, pemimpin itu bukan orang yang digeret – geret untuk mendaftar, KPK sekarang membutuhkan orang yang mempunyai inisiatif untuk memimpin. Dalam kepemimpinan islam yang menjadi prasyarat mutlak seorang pemimpin adalah mempunyai akhlak karimah (akhlak mulia), kemudian syarat selanjutnya amanah, KPK membutuhkan ksatria yang teguh memegang janji, santun, menjauhkan diri dari perbuatan tidak baik, rendah hati dan pemberani. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa calon pimpinan KPK harus mempunyai kepribadian yang mampu mendukung perannya sebagai seorang pemimpin. Syarat yang lain adalah calon pimpinan KPK harus paham tentang hokum dan yang terakhir calon pimpinan KPK mempunyai pemahaman bahwa amanah yang diemban bukan untuk mencari materi. Itu beberapa syarat yang harus dimiliki oleh pimpinan KPK mendatang.
Dan akhirnya kita masyarakat menunggu dan mengawasi proses yang sedang berjalan untuk kemudian menghasilkan hasil yang maksimal sesuai yang dikehendaki oleh masyarakat Indonesia, untuk kemajuan bangsa.
*sekretaris bidang hikmah DPD ikatan mahasiswa muhammadiyah jawa tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s