Metode Hisab Bukan Bid’ah

Salah satu saat Muhammadiyah ‘naik’ di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan, Idul Fitri dan Dhulhijjah. Pasalnya, Muhammadiyah yang memakai metode hisab dikenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat dalam menentukan masuknya bulan Qamariah. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan 1 Ramadhan dan 1 Syawal versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah. Dan hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga tidak mengikuti Rasullullah Saw yang jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima penggunaan metode hisab ini.
Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah satu hadits yaitu “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (Idul Fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tigapuluh hari” (HR Al Bukhari dan Muslim).
Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam) sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itulah yang mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi pada Rasulullah Saw. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab? Berikut adalah alasan-alasan yang diringkaskan dari makalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431.H PP Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY.
Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.
Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa Az Zarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”. Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.
Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.
Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat. Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.
Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.
Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau
Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian system waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita menggunakan hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”.

Diambil dari fimadani.com

Pemimpin Teladan Ini Pernah Pimpin Muhammadiyah

Di tangannya, Islam terasa sangat mudah dan toleran. Dalam berdakwah, ia memegang prinsip: Islam harus dibawakan dengan senyum. Ia menyadari betul, senyum memiliki nilai ibadah. Kata Nabi SAW, ”Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Memimpin dengan senyum, kesan itulah yang melekat pada diri ulama kharismatik ini. Agaknya, prinsip ‘senyum’ ini ikut membentuk wajah Muhammadiyah—ormas Islam yang pernah beberapa periode dipimpinnya—terasa teduh.

Tokoh dan ulama Muhammadiyah itu tak lain adalah KH Abdul Razaq Fachruddin atau lebih akrab disapa dengan panggilan Pak AR. Dilahirkan di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916. Ia adalah anak ketujuh dari 11 bersaudara pasangan KH Fachruddin dengan Nyai Hajjah Fachruddin binti KH Idris. KH Fachruddin adalah seorang lurah naib (penghulu) dari Istana Pakualaman. Di kala usianya menginjak 16 tahun, ia menjadi yatim karena ayahnya meninggal dunia.

Masa kanak-kanak Abdul Razaq dihabiskan di Pakualaman. Setelah berusia tujuh tahun, bersama orang tuanya ia pindah ke Purwanggan. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Mulai dari Standard School Muhammadiyah Bausasran, Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Sekolah Guru Darul Ulum Muhammadiyah Sewugalur, Kulonprogo, sampai Tabligh School Muhammadiyah.

Perjalanan kariernya dimulai dari bawah, yaitu sebagai guru dan mubaligh pada usia yang masih belia, 18 tahun. Dengan bekal pendidikan yang diperolehnya tersebut, tahun 1936 ia dikirim oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk menjadi guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Palembang. Ia mendedikasikan diri sebagai guru di Palembang selama 10 tahun. Setelah itu, ia pulang ke kampung halamannya, Bleberan.

Tahun 1944, atas permintaan kepala sekolah Darul Ulum, ia mengajar di sana dan menjadi anggota pengurus Muhammadiyah Sewugalur. Ketika Indonesia merdeka, tahun 1945, AR ikut menjadi anggota Barisan Keamanan Rakyat (BKR) tingkat kecamatan atau pasukan Hizbullah Yon 39. Ia juga pernah menjadi pamong desa Kelurahan Galur, Brosot, Kulonprogo, selama setahun.

Pada awal kemerdekaan negeri ini, Pak AR diangkat menjadi pegawai Departemen Agama. Berbagai jabatan pernah ia emban, seperti kepala Kantor Urusan Agama di Adikarto, Wates, pada tahun 1974.
Tidak lama kemudian, ia pindah ke Kulonprogo, Sentalo, dalam jabatan yang sama. Selama sembilan tahun (1950-1959), ia menjadi pegawai jawatan agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berkantor di Kepatihan.

Tahun 1959, ia pindah ke Semarang dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Tahun 1964, ia kembali ke Yogyakarta dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi DIY hingga pensiun tahun 1972.

Kiprah di Muhammadiyah
Adapun aktivitasnya di Persyarikatan Muhammadiyah bermula sebagai pimpinan Muhammadiyah Kotamadya Yogyakarta (1952), ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (1953), anggota Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah (1956-1965), Ketua PP Muhammadiyah (1968-1992), dan penasihat PP Muhammadiyah (1992-1995).

Selama 24 tahun—dari tahun 1968 sampai tahun 1992—Pak AR menjadi orang nomor satu di Muhammadiyah. Amanah tersebut ia pegang tatkala KH Faqih Usman, Ketua PP Muhammadiyah waktu itu, meninggal dunia. Faqih Usman terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah periode 1968-1971. Tapi, belum setahun ia memegang amanah sebagai pimpinan Muhammadiyah, Faqih Usman (Ketua Muhammadiyah) meninggal dunia. Maka, oleh pengurus, Pak AR didaulat secara aklamasi untuk menggantikan posisi Faqih Usman pada 3 Oktober 1968. Sejak saat itu, ia dikokohkan dalam setiap muktamar-muktamar Muhammadiyah berikutnya.

Pada Muktamar ke-42 Muhammadiyah di Yogyakarta, tahun 1990, Pak AR yang terpilih sebagai 13 besar anggota PP Muhammadiyah menolak jabatan ketua PP. Ia memberikan alternatif penggantinya kepada KH Ahmad Azhar Basyir MA. Dengan demikian, genaplah 22 tahun ia menjadi ketua PP Muhammadiyah.

KH AR Fachruddin berkali-kali ditawari untuk menjadi anggota DPR. Akan tetapi, karena khawatir tersita waktunya, ia menolak tawaran anggota DPR tersebut dan lebih memilih mengurus Muhammadiyah. Namun kemudian, ia menerima jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan dilantik pada 14 Agustus 1988.

Pernikahannya dengan Siti Qamariah binti Kiai Abu Umar pada tahun 1938 mendapatkan tujuh orang putra-putri. Setelah sempat dirawat di RS Islam Jakarta, Pak AR wafat pada 17 Maret 1995.

Sosok sederhana, jujur, dan ikhlas
Sebagai seorang Muslim, KH AR Fachruddin selalu berkecimpung dalam bidang keagamaan dan kemasyarakatan. Sebagai ketua PP Muhammadiyah, ia telah memberi contoh teladan yang baik untuk para pengikutnya. Sebagai contoh, dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan, ia selalu menempuh cara kolegial, yaitu memusyawarahkan segala tindakan yang akan ditempuh organisasi sekalipun dalam hal yang kecil. Sesuatu yang tampak menonjol dari pribadi Pak AR adalah kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan. Tiga sifat itulah, yang menurut para penerusnya di Muhammadiyah, sebagai warisan utama Pak AR yang perlu dihidupkan tidak hanya oleh kalangan Muhammadiyah. Bagi yang pernah kenal dan menengok keseharian Pak AR, mereka akan sepakat bahwa tokoh yang satu ini adalah sosok yang amat sederhana.

Dalam buku Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20 karya Herry Mohammad dkk, budayawan Emha Ainun Nadjib mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Pak AR.

”Sedemikian melimpah rezeki dari Allah kepada Pak AR sehingga kehidupan beliau hampir sama sekali tidak bergantung kepada barang-barang dunia.” “Pernahkah Anda membayangkan ada seorang pemimpin organisasi besar yang anggotanya berpuluh-puluh juta yang mencari nafkah hanya dengan beberapa jerigen minyak tanah dan bensin untuk dijual di depan pagar rumahnya?”

Kekaguman Emha tak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan, ”Di tengah zaman, di mana para pemimpin orang banyak serta para pemegang kekuasaan dan senapan banyak mengolusikan modal-modal itu untuk perolehan-perolehan finansial, bisakah Anda berpikir ada seorang kiai besar yang profesi ekonominya adalah penjual eceran minyak di kios pinggir jalan?”

“Di tengah era di mana seorang kiai bisa menjual kekiaiannya, seorang pemimpin bisa mengomoditaskan kepemimpinannya, serta seorang penggenggam massa bisa mengencerkan akses-aksesnya. Kata apakah yang sebenarnya bisa kita ucapkan kepada Pak AR yang bersih dari semua itu? ”Emha benar. Di rumah ‘dinas’ milik persyarikatan di Jalan Cik Ditiro,Yogyakarta, kesederhanaan itu tampak. Pak AR bukanlah penganut tarekat atau seorang sufi. Tapi, pembawaannya sangat sederhana dan juga kehidupannya dalam keluarga. Saking sederhananya, meski ada garasinya, tak ada mobil yang menjadi penghuninya. Yang nangkring di garasinya hanya sebuah sepeda motor Yamaha butut keluaran 1970-an. Motor ini yang ia pakai untuk berdakwah di sekitar Yogya. Kalau motor tersebut kebetulan dipakai anak-anaknya untuk kuliah atau keperluan lain, ia lebih suka naik sepeda onthel, becak, atau jalan kaki. Tak jarang Pak AR dibonceng naik motor oleh anak-anak SMA untuk mengisi pengajian di sekolah atau masjid-masjid kampung.

Dilihat secara kasat mata, sesuatu yang tak lazim bila seorang pemimpin organisasi modern terbesar di Indonesia yang punya puluhan rumah sakit dan ribuan sekolah itu hidup dengan penuh kesederhanaan. Di rumahnya, tak hanya ada kios bensin, tapi juga beberapa kamar disewakan untuk kos-kosan mahasiswa. Dalam sebuah pengajian, Pak AR ditanya oleh seorang jamaah, ”Pak AR, dalam hadis diterangkan bahwa selama bulan Ramadhan semua setan dan iblis dibelenggu. Tetapi, mengapa kenyataannya masih banyak orang berbuat maksiat di bulan Ramadhan?”

Dengan kalem dan suara serak-serak basah, Pak AR menjawab, ”Yah, itulah manusia. Banyak yang lemah iman. Dengan setan dibelenggu saja kalah, apalagi melawan setan lepas-lepasan.”
Pak AR dikenal sebagai pendakwah yang tidak menyinggung orang lain, melainkan mengajak umat untuk berintrospeksi diri. Ketika banyak orang menentang dan mempertanyakan perayaan Sekaten di Yogyakarta yang menggelar tontonan dangdut, tong setan, bola maut, dan sejenisnya. Pak AR dengan kalem menjawab, ”Kalau tak rela perayaan Sekaten ada tari dangdut, tong setan, bola maut, dan sejenisnya, ya mari kita gembirakan dengan kesenian yang bermutu dan bercitra Islam.”

“Jika umat agama lain punya sekolahan, panti asuhan, rumah sakit, ayolah kita tanding. Jangan cuma menggerutu. Ada yang tiap malam Minggu nonton bioskop karcis seribu, tapi kalau jumatan kasih 50 rupiah. Kalau tidak boleh, mentang-mentang membawa agama Allah melanggar jalur helm.”

Kesejukannya sebagai pemimpin umat Islam juga bisa dirasakan oleh umat agama lain. Ketika menyambut pemimpin umat Kristiani sedunia, Paus Yohannes Paulus II, di Yogyakarta dalam sebuah kunjungan resmi di Indonesia, Pak AR menyampaikan unek-unek dan kritik kepada Paus.

Ia mengeluhkan bahwa tak sedikit umat Islam yang lemah dan tak berkecukupan sering kali dirayu umat Kristen untuk masuk agama mereka. Kesempatan itu juga ia gunakan untuk memberi penjelasan kepada Paus bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara yang perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh umat lain karena disampaikan dengan lembut dan sejuk serta dijiwai dengan semangat toleransi tinggi.

Kini, memasuki seabad Muhammadiyah, tantangan terbesarnya adalah melahirkan kembali pemimpin umat masa depan yang memiliki sosok dan kepribadian seperti Pak AR; penuh kesederhanaan, namun tetap berwibawa. Penuh kasih sayang dengan sesama dan tegas terhadap segala bentuk kemunkaran.

Diambil dari berbagai sumber

KABAR AISYIYAH SUKOHARJO

Ahad (24/08/2014). Pimpinan Daerah Aisyiyah Kab.Sukoharjo mengadakan kegiatan Tabligh Akbar dan Halal bi halal di Masjid Gede Baiturrahmah Sukoharjo. Kegiatan ini dihadiri oleh Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Tengah sekaligus memberikan pemantaban ideologi Persyarikatan. Acara yang dimulai pukul 09.00 Wib ini dihadiri oleh ribuan kader Aisyiyah se kabupaten Sukoharjo. Antusiasme warga Aisyiyah membuat setiap kegiatan Aisyiyah dan Muhammadiyah Sukoharjo semakin memberikan kontribusi yang positif sebagai bagian tak terpisahkan dalam pemberdayaan kaum perempuan kususnya di sukoharjo. Kemudian, peranan kader Nasyiatul Aisyiyah sebagai kader Aisyiyah dimasa mendatang, juga perlu diapresiasi sebagai perwujudan kaderisasi yang berjalan. Kader sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna persyarikatan semakin terinternalisasi dan menjadi kesadaran sebagai visi pribadi yang semakin masif.

IMG_20140824_100409

MANHAJ GERAKAN MUHAMMADIYAH

Pemikiran-pemikiran formal Muhammadiyah yang bersifat ideologi, khittah dan langkah secara keseluruhan dimaksudkan untuk menjadi  landasan atau fondasi, ciri khas, pedoman, peneguhan, penguatan arahan, dan bingkai gerakan menuju pencapaian tujuan Muhammadiyah, yakni terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Secara umum pemikiran – pemikiran formal dan mendasar yang dimiliki Muhammadiyah tersebut sangat memadai sebagai fondasi, pedoman, dan arah gerakan, kendati kedepan perlu disistematisasi lebih menyatu dalam satu bangunan pemikiran yang utuh dan menyeluruh. Kini, berpulang kepada seluruh warga lebih khusus para kader dan pimpinan persyarikatan disegenap struktur dan lini organisasi termasuk amal usaha Muhammadiyah untuk menjadikannya sebagai manhaj gerakan Muhammadiyah dalam makna dan fungsi sesungguhnya menuju tercapainya tujuan Muhammadiyah, yakni terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya dan lebih luas lagi untuk menjadikan islam sebagai rahmtan lil’alamin dimuka bumi ini.

Berita Ortom Muhammadiyah

IMG_20140821_101931 IMG_20140821_100615Pembukaan Kejurnas kelas dewasa tapak suci putera muhammadiyah di GOR manahan solo, 21 Agustus 2014, acara yang hadiri oleh ketua umum pp Muhammadiyah Prof.Dr.Din Syamsudin MA, Irwan Hidayat CEO PT Sido Muncul sebagai sponsor utama, dan mantan juara dunia tinju kelas bulu versi WBA Chrisjohn dimulai pukul 09.00 Wib.

Quick Count, Bukan Sekedar “Quick”

Apa itu Quick Count?
Quick Count adalah kegiatan pengamatan terhadap proses pemungutan dan penghitungan suara di TPS yang dipilih secara acak. Hasil Quick Count bisa dirilis 2 jam setelah TPS ditutup. Sedangkan jika menunggu hasil resmi dari KPU, bisa sampai 2 minggu hingga 1 bulan.  Cepat sekali kan? Kok bisa?
Quick Count Nasional mengamati sekitar 2000 TPS di seluruh Indonesia.  Jumlah TPS yang dipilih per daerah dibuat proporsional sesuai dengan jumlah pemilih di daerah tersebut.  Artinya, jumlah TPS yang di daerah yang jumlah pemilihnya sedikit, seperti di Papua, akan lebih sedikit dari TPS terpilih di Jawa. Kemudian TPS di masing-masing daerah dipilih secara random, agar hasil dapat dipertanggungjawabkan.
Pada hari pemungutan suara, petugas quick count akan mencatat perolehan suara. Dan setelah TPS ditutup dan suara selesai dihitung, petugas akan melaporkan perolehan suara melalui SMS. SMS petugas akan diterima melalui komputer yang dilengkapi SMS modem.  Dan dengan bantuan software tertentu, kita dapat melihat perolehan suara masing-masing calon dari waktu ke waktu.
Petugas Quick Count terdiri dari 77 koordinator yang membawahi petugas-petugas lainnya. Ke-77 koordinator tersebut telah melalui pelatihan terpusat.  Selain mendapat jaminan berupa uang transport, asuransi (bila terjadi kecelakaan), petugas tersebut juga mendapat upah, meskipun jumlahnya tidak besar :).
Nah, yang kita belum sadari, petugas quick count juga tidak hanya mencatat perolehan suara lho.  Petugas juga mengamati proses pemungutan suara untuk menilai kualitas dari pemungutan suara tersebut, apakah banyak terjadi kecurangan atau tidak.
Exit Poll
Nah, apa bedanya Quick Count dengan Exit Poll? Exit Poll adalah kegiatan wawancara terhadap sejumlah masyarakat yang baru saja menggunakan hak pilihnya di TPS. Pada dasarnya merupakan survei perilaku pemilih. Jadi, pada exit poll, kita mewawancarai pemilih yang baru keluar dari TPS mengenai karakteristik sosio-demografinya (umur, jenis kelamin, agama, dll.) siapa capres yang dipilihnya, partai apa yang ia pilih sebelumnya, dll. Tujuannya adalah untuk melihat preferensi pemilih. Tentunya tidak semua pemilih yang baru keluar dari TPS diwawancarai.  Kita hanya mengambil beberapa pemilih berdasarkan titik waktu tertentu untuk diwawancarai.
Mengapa hasil quick count bisa berbeda-beda?
Ada 4 syarat untuk terlaksananya Quick Count yang baik:
  • Metode. Quick Count harus dilakukan dengan metode yang benar agar hasilnya akurat.  Misalnya, sampel harus diambil secara random (acak), jumlah sampel harus memadai, dsb.  Dengan sampel 2000 TPS, margin error yang dihasilkan adalah +/- 2,2% (dengan syarat pengambilan sampelnya harus random). Lembaga survey yang hasilnya ‘lain dari yang lain’ mungkin tidak melakukan survey dengan metode yang benar, sehingga malah menimbulkan keresahan pada masyarakat.
  • Teknologi. Ya namanya juga ‘quick’ count. Kalau ingin hasilnya keluar dengan cepat, kita harus memiliki teknologi dong.  Dalam hal ini, Opinimeter merancang software yang dapat menerima  SMS dengan format tertentu yang dikirimkan petugas quick count di seluruh Indonesia.
  • Dana. Survey yang baik membutuhkan dana yang tidak sedikit.  Selain untuk transport dan upah petugas, dana juga dibutuhkan untuk biaya pelatihan, logistik, dll. Quick Count Opinimeter sendiri membutuhkan biaya sekitar Rp 1,2 M.  Jumlah tersebut, menurut Bang Zulfahmi, termasuk sedikit jika dibandingkan dengan beberapa lembaga survey lain.
  • Manajemen Relawan. Sebuah survey yang metodenya sesuai, teknologinya canggih, dananya besar, namun tidak mampu me-manage relawannya akan menjadi sia-sia.  Percuma kan, kalau pada hari-H sang relawan tidak berangkat ke TPS sampel hanya karena malas? Oleh karena itu, manajemen relawan menjadi hal yang penting.
Lalu, Mengapa Quick Count Penting?
Quick Count penting untuk mengurangi potensi manipulasi suara.  Selain itu, hasil quick coun yang cepat keluar juga menyebabkan masyarakat tidak perlu resah menunggu lama hasil resmi dari KPU.
Sekarang kita tahu bahwa quick count bukan hanya sekedar menyajikan estimasi hasil pemilu dengan cepat.  Quick Count juga mencakup pengawalan atas proses demokrasi yang terjadi di Indonesia :).

Ultras Muhammadiyah

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.473 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: